Australia Bebaskan Keluarga Pencari dari Suaka Sri Lanka

  • Share

Australia akan mengizinkan keluarga pencari suaka Sri Lanka yang ditahan di Pulau Christmas sejak 2019 untuk tinggal di tahanan komunitas di daratan. Perizinan ini dilakukan setelah adanya kemarahan publik atas perpisahan mereka ketika anak bungsu jatuh sakit dan diberangkatkan ke rumah sakit besar.

Keluarga Tamil yang terdiri dari empat orang, satu-satunya penghuni pusat penahanan Pulau Christmas di Samudra Hindia, telah menjadi penyebab utama penutupan pusat penahanan imigrasi lepas pantai Australia bagi para pencari suaka.

Namun, masa depan jangka panjang keluarga tersebut masih belum jelas ketika pemerintah mengatakan langkah itu bersifat sementara dan menyatakan tidak mengizinkan pencari suaka yang tiba dengan kapal untuk tinggal di Australia.

“Dalam membuat keputusan ini, saya menyeimbangkan komitmen berkelanjutan pemerintah terhadap kebijakan perlindungan perbatasan yang kuat dengan kasih sayang yang tepat dalam situasi yang melibatkan anak-anak dalam tahanan,” kata Menteri Imigrasi Alex Hawke, Selasa.

Ketika putri pasangan pencari suaka yang berusia empat tahun baru-baru ini diterbangkan ke Perth di negara bagian Australia Barat untuk perawatan medis  setelah mengalami sepsis karena pneumonia, dan hanya ibunya yang diizinkan untuk bepergian bersamanya, kemarahan publik pun muncul dan perpisahan itu mendesak jajaran pemerintah.

Pemerintah konservatif Australia selama lebih dari seminggu menolak seruan untuk membebaskan keluarga tersebut, yang dikenal sebagai keluarga ‘Biloela’. Namun setelah penduduk kota Australia tempat mereka tinggal sebelum penahanan bersikeras akan merusak kebijakan imigrasi garis kerasnya, Hawke pada Selasa (15/06/2021) tunduk pada tekanan publik.

Hawke mengatakan keputusan itu tidak berarti keluarga itu akan diizinkan memiliki visa untuk tetap tinggal di Australia.

Priya dan Nadesalingam Murugappan tiba di Australia dengan perahu pada tahun 2012 dan 2013 dan mencari suaka. Pasangan itu menikah di Australia, tempat anak perempuan mereka lahir.

Pada tahun 2018, setelah Australia menolak permohonan suaka Priya dan Nadesalingam, yang melarikan diri dari Sri Lanka di tengah perang saudara, Canberra menahan keluarga tersebut untuk dideportasi ke Sri Lanka.

Ketika perintah pengadilan memblokir deportasi mereka, Australia pada 2019 memindahkan keluarga itu ke Pulau Christmas, sebuah wilayah sekitar 1.550 km (960 mil) barat laut dari daratan.

Pemerintah konservatif Australia harus kembali ke tempat pemungutan suara dalam waktu satu tahun dan kebijakan imigrasi garis kerasnya tetap populer meskipun ada kritik luas.

Di bawah kebijakan imigrasi garis keras Canberra, siapa pun yang datang dengan kapal tanpa visa yang sah tidak diizinkan untuk menetap di Australia.

  • Share