Awasi Kegiatan Maritim Iran, AS Luncurkan Tiga Drone Mideast

  • Share

Armada ke-5 Angkatan Laut AS yang berbasis di Timur Tengah mengatakan pada hari Rabu (08/09/2021) bahwa pihaknya akan meluncurkan drone udara, kapal laut dan drone air terbaru. Peluncuran ini dilakukan sebagai respons terhadap adanya serangan maritim oleh pihak tertentu. Peluncuran drone ini dilakukan ketika sedang bersitegang dengan Iran.

Pejabat Angkatan Laut menolak untuk menjelaskan sistem persenjataan apa saja yang akan mereka perkenalkan di perairan Bahrain. 

Namun, Pejabat Angkatan Laut ini berjanji bahwa dalam beberapa bulan mendatang drone terbaru ini akan memperluas cakupannya di wilayah-wilayah yang penting untuk mendukung pasokan energi global dan pengiriman melalui jalur maritim di seluruh dunia.

“Kami ingin menempatkan lebih banyak sistem di wilayah maritim di atas, di dalam, dan di bawah laut,” kata Wakil Laksamana Brad Cooper, yang memimpin Armada ke-5. “Kami ingin lebih banyak melihat apa yang terjadi di luar sana.”

Armada ke-5 mencakup Selat Hormuz dan Teluk Arab yang dilalui oleh 20 persen kapal-kapal yang membawa minyak. Armada ini juga membentang sampai ke Laut Merah lalu ke dekat Terusan Suez, jalur air di Mesir yang menghubungkan Timur Tengah ke Mediterania, dan Selat Bab Al-Mandab di lepas Yaman.

Sistem yang digunakan oleh Gugus Tugas 59 Armada ke-5 yang baru ini akan melibatkan beberapa anggota yang bekerja di Armada Angkatan Laut Pasifik. Drone yang digunakan dalam latihan ini ialah drone pengintai udara ultra-endurance, kapal permukaan Sea Hawk dan Sea Hunter dan drone bawah air yang lebih kecil yang menyerupai torpedo.

Armada ke-5 mencakup wilayah perairan dangkal, perairan asin dan suhu di musim panas yang bisa mencapai di atas 45 derajat Celcius dengan kelembaban tinggi. Kondisi ini memang terbukti sulit untuk kapal berawak, apalagi yang berjalan dari jarak jauh.

“Saya pikir lingkungan itu sangat cocok untuk kita bereksperimen dan bergerak lebih cepat,” kata Cooper. “Dan keyakinan kami adalah jika sistem baru dapat bekerja di sini, mereka mungkin dapat bekerja di tempat lain dan dapat menskalakannya di armada lain.”

Secara terpisah, pengawas atom PBB mengatakan Iran terus meningkatkan persediaan uranium yang dapat digunakan untuk membuat senjata nuklir. Kegiatan ini sangat bertentangan dengan kesepakatan pada tahun 2015 dengan kekuatan dunia, sebuah kesepakatan yang dimaksudkan untuk menahan program nuklir Teheran.

Badan Energi Atom Internasional juga mengatakan kepada negara-negara anggota dalam laporan triwulanan rahasia bahwa alat verifikasi dan pemantauan kegiatan nuklir telah secara “serius dirusak” Iran sejak Februari lalu. Badan Energi Atom ini memiliki izin  untuk bisa mengakses peralatan pemantauan nuklir.

Badan yang bermarkas di Wina itu mengatakan kepada anggotanya bahwa kemampuan alat ini dalam menilai dengan tepat kegiatan nuklir Iran menurun dari waktu ke waktu dan akan terus berlanjut “kecuali jika situasinya berubah.”

IAEA mengatakan peralatan pemantauan dan pengawasan tertentu tidak dapat dibiarkan selama lebih dari tiga bulan tanpa diservis.  Salah satu kamera telah hancur dan yang kedua rusak parah, kata badan tersebut.

Direktur jenderalnya, Rafael Mariano Grossi, mengatakan dia bersedia melakukan perjalanan ke Iran untuk bertemu dengan pemerintah yang baru terpilih untuk membicarakan masalah tersebut.

Badan tersebut mengatakan pihaknya memperkirakan stok uranium Iran yang diperkaya hingga kemurnian fisil 60 persen pada 10 kg, meningkat 7,6 kg sejak Mei, sementara stok uranium negara yang diperkaya hingga kemurnian fisil 20 persen sekarang diperkirakan mencapai 84,3 kg, naik dari 62,8 kg tiga bulan sebelumnya.

Total stok uranium Iran diperkirakan mencapai 2.441,3 kg pada 30 Agustus, turun dari 3.241 kg pada 22 Mei, kata badan tersebut.

  • Share