Israel Sebut Iran akan Buat Senjata Pemusnah Massal di Bawah Kepemimpinan Raisi

  • Share

Israel pada Minggu (20/06/2021) mengecam terpilihnya Ebrahim Raisi sebagai presiden Iran. Ebrahim Raisi dipredikasi Israel akan menjadi “rezim brutal” yang mengancam eksistensi negaranya. Dengan rezim ini, menurut Israel, dunia tidak akan dapat merundingkan kesepakatan nuklir terbaru.

Raisi, presiden yang diberi sanksi oleh AS untuk pelanggaran hak asasi manusia, memperoleh kemenangan seperti yang diharapkan pada hari Sabtu dalam pemilihan presiden Iran. Meskipun kemenangan ini dicirikan oleh sikap apatis pemilih atas kesulitan ekonomi dan pembatasan politik.

Perdana Menteri Israel Naftali Bennett, yang mengadakan rapat kabinet pertamanya sejak menjabat pekan lalu, menjabarkan terpilihnya Raisi karena didukung Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei daripada karena pemungutan suara yang bebas dan populer.

“Pemilihan Raisi, menurut saya, adalah kesempatan terakhir bagi kekuatan dunia untuk bangkit sebelum kembali ke perjanjian nuklir, dan memahami dengan siapa mereka berbisnis,” kata Bennett dalam sebuah pernyataan yang dia bacakan pertama kali dalam bahasa Ibrani dan kemudian dalam bahasa Inggris. .

“Rezim algojo brutal tidak boleh diizinkan memiliki senjata pemusnah massal,” katanya. “Posisi Israel tidak akan berubah dalam hal ini.”

Raisi tidak pernah secara terbuka membahas tuduhan seputar perannya eksekusi di luar hukum terhadap ribuan tahanan politik pada tahun 1988.

Bennett, seorang nasionalis dalam barisan koalisi lintas-partisan, telah menentang kebijakan pendahulunya yang konservatif, Benjamin Netanyahu, terhadap kesepakatan nuklir Iran 2015. Keluarnya AS dari kesepakatan nuklir yang didorong oleh Israel justru akan menambah ptensi pembuatan bom oleh Iran.

Mantan pemerintahan AS Donald Trump saat itu setuju dengan Israel dan keluar dari kesepakatan. Namun saat ini Joe Biden ingin AS kembali ke kesepakatan. Iran membantah sedang membuat persenjataan nuklir.

  • Share