Kisah Tragis Korban Perang di Yaman

  • Share

Harapan masih melekat di benak warga negara Yaman. Mereka telah kehilangan segalanya selama enam tahun perang terakhir.

Mereka yang kehilangan rumah berharap untuk bisa membangunnya kembali. Mereka yang pengangguran berharap untuk kembali bekerja. Tetapi orang-orang yang kehilangan semua atau sebagian anggota tubuhnya akibat perang tidak dapat berharap untuk berjalan kembali secara normal.

Mereka menjadi korban berbagai macam senjata. Di antara mereka, ada yang terkena ranjau darat, ada yang terkena tembak, ada juga yang terkena serangan udara. Mereka semua memiliki penderitaan yang sama: kehilangan anggota tubuh.

Kisah Saaed

‘Saya tidak bisa berharap masa depan menjadi lebih baik, dan jika semua orang pernah melupakan perang ini suatu hari nanti, kami tidak akan melupakannya,’ ujar Saaed.

Saeed tinggal di daerah Thaabat di kota Taiz yang merupakan garis depan perang.

Meskipun tidak terjadi perang di daerah tersebut saat ini, ranjau darat masih mengancam nyawa dan melukai warga sipil.

Saeed dulu bekerja sebagai petani, tetapi pada 2019 dia menginjak ranjau darat dan kehilangan kakinya.

“Saya penduduk daerah pegunungan, dan saya dulu bekerja di pertanian, mengumpulkan kayu bakar dan menggembalakan ternak. Pada 4 April 2019, saya sedang merumput di gunung, dan sebelum matahari terbenam saya pergi untuk membawa pulang ternak, ” jelasnya pada Middle East Eye.

“Saya menginjak ranjau darat, dan  saya terlempar beberapa meter. Orang-orang membawa saya ke rumah sakit, dan kemudian kaki saya diamputasi dari atas lutut. Kaki satu lagi patah. Saya masih dalam perawatan kaki yang patah tulang ini. “=

Saeed telah mengunjungi Pusat Prostetik di kota Taiz untuk menerima perawatan medis dan pelatihan untuk kakinya.

“Karena saya sudah tua, tulang tidak mudah tumbuh, dan saya tidak bisa bergerak tanpa alat bantu,” katanya.

Saeed mengatakan dua tetangganya juga mengalami ranjau di daerah yang sama. Daerah itu katanya penuh dengan ranjau darat.

Tak hanya manusia yang jadi korban, hewan ternak pun mengalami nasib serupa. “Keledai saya tewas oleh ranjau darat di gunung itu,” katanya.

“Sebelum perang, saya dapat berjalan dengan bebas dan menggembalakan ternak saya, mengumpulkan kayu bakar dan bekerja di pertanian.

“Saya dulu melakukan pekerjaan apa pun yang tersedia dan bisa menafkahi keluarga saya, tetapi sekarang saya adalah orang cacat yang duduk di rumah dan tidak dapat melakukan  apa pun.”

Seperti banyak orang cacat lainnya, Saeed membutuhkan seseorang untuk merawatnya, terutama ketika dia meninggalkan rumahnya untuk mengunjungi Prosthetic Center, dan dia khawatir  dirinya malah menambah beban bagi anak-anaknya.

“Saya dulu membantu anggota keluarga saya, dan sekarang saya membutuhkan seseorang untuk membantu saya,” katanya.

“Hidup menjadi sangat sulit setelah cacat karena saya menjadi tergantung pada orang lain dalam segala hal.”

Menggembalakan ternaknya telah menjadi sumber pendapatan utama keluarga Saeed.

Saeed pesimis tentang masa depan. Ia tegaskan bahwa jika perang berakhir, orang-orang cacat akan menjadi bukti kuat bagi adanya kekerasan terhadap warga sipil di Yaman.

“Semuanya bisa diperbaiki dan direhabilitasi, tetapi ketika kita kehilangan kaki, kita menjadi cacat selamanya,” katanya dengan nada sedih.

“Aku tidak bisa berharap masa depan menjadi lebih baik, dan jika semua orang memang melupakan perang ini suatu hari nanti, kita sebagai korban tidak akan mampu melupakannya.”

Kisah Alaa Wesam

Alaa Wesam, anak kecil berusia lima tahun tampaknya menjadi gadis yang bahagia meski kakinya diamputasi setelah adanya tembakan yang menghantam rumahnya.

Sulit bagi anak itu untuk mengingat apa yang terjadi. Namun ibunya, Muna, menceritakan kisah tragis.

“Saat itu pukul 3 sore tanggal 2 November 2017 ketika penembakan mengenai rumah kami,” katanya.

“Pecahan peluru dari penembakan yang mendarat di dekat pintu rumah mengenai Alaa yang saat itu berada di aula. Dia terluka akibat pecahan peluru yang mengenai otot kakinya.

“Kami membawanya ke rumah sakit saat dia berdarah, dokter melakukan beberapa intervensi darurat untuk menghentikan pendarahan dan mengirim kami ke rumah sakit lain.

“Dokter segera membawanya ke ruang operasi pada jam 5 sore dan tidak meninggalkannya sampai tengah malam. Saya tidak bisa melihat anak saya sampai keesokan harinya.”

Alaa masih dalam kondisi  buruk setelah operasi, dan seminggu kemudian dokter memutuskan untuk mengamputasi kakinya.

Muna mengenang saat-saat menyedihkan itu dengan air mata berlinang.

“Saya sangat sedih mendengar berita itu.”

Dia mengatakan dia tidak hanya sedih tentang putrinya tetapi juga tentang banyak anak di Yaman yang menghadapi situasi yang sama dan perlu beradaptasi dengan kehidupan baru tanpa kaki.

Antara 2015 dan 2020, setidaknya 3.153 anak meninggal di Yaman dan 5.660 anak terluka, menurut laporan Unicef.

Rata-rata, 50 anak tewas dan 90 lainnya luka-luka atau cacat permanen setiap bulan. Sebagian besar anak-anak menjadi korban senjata peledak.

Kisah Dalilah Abdu Ahmed

Dalilah Abdu Ahmed yang berusia 30 tahun bertunangan dengan seorang pria dari desanya. Namun ranjau darat telah menghancurkan semua mimpinya dan membunuh kebahagiaan Dalilah dan keluarganya.

“Dua tahun lalu ada pernikahan di desa kami, dan saya pergi mengambil air agar kami bisa memiliki cukup air di rumah sebelum saya berangkat ke pernikahan,” katanya.

“Sebuah ranjau darat meledak di bawah kaki saya di dekat tangki air. Sepupu saya mencoba membantu saya tetapi dia menginjak ranjau darat lain dan kehilangan kakinya.

“Saya berteriak kepada orang-orang untuk tidak mendekat karena ada banyak ranjau darat. Ayah saya mempertaruhkan nyawanya dan membawa kami ke rumah sakit.”

Rumah sakit berjarak sekitar delapan jam perjalanan dari desa Dalilah, dan dia dan sepupunya tiba dalam kondisi yang buruk.

‘Saya menikmati hidup yang nyaman, saya memiliki toko, peternakan, ternak dan saya berharap untuk menikah, tetapi sekarang seperti yang Anda lihat, saya adalah seorang wanita cacat yang telah kehilangan segala sesuatu yang indah dalam hidup ini’

Kedua wanita itu kehilangan banyak darah, sehingga dokter harus mengamputasi kaki mereka untuk menyelamatkan hidup mereka.

“Sebelum cacat, saya bertunangan dengan seseorang dari desa kami, dan kami akan merayakan pernikahan kami, tetapi ketika kaki saya diamputasi dia tidak mengunjungi saya selama empat bulan dan kemudian dia memutuskan untuk tidak menikah dengan saya,” kata Dalilah, “Dia pergi mencari gadis lain.”

Delilah berasal dari desa yang mata pencahariannya bergantung pada pertanian dan ternak untuk menafkahi keluarganya, dan dia sendiri dulu memiliki toko.

“Saya menikmati hidup yang nyaman. Saya memiliki toko, peternakan, ternak, dan saya berharap untuk menikah, tetapi sekarang seperti yang Anda lihat, saya adalah seorang wanita cacat yang telah kehilangan segala sesuatu yang indah dalam hidup ini.”

Perangkat peledak jarak jauh telah menyebabkan setidaknya 5.500 korban di Yaman sejak 2015.

Delapan puluh persen dari korban tersebut telah terjadi sejak 2017, menurut laporan 2019 oleh ACLED, sebuah organisasi nirlaba yang mengumpulkan data tentang konflik di seluruh dunia.

 

Sumber: Middle East Eye

  • Share