Partai Ennahda di Tunisia Alami Krisis Internal

  • Share

Ketua partai terbesar Tunisia, Ennahda, pada hari Sabtu (31/08/2021) menunda pertemuan dewan tertinggi setelah anggota senior meminta pengunduran dirinya atas penanganan krisis politik, kata sumber partai.

Rached Ghannouchi, yang juga ketua parlemen, telah memainkan peran sentral dalam krisis demokrasi Tunisia minggu ini setelah Presiden Kais Saied merebut kekuasaan eksekutif.

Langkah tersebut telah menyebabkan krisis terbesar dalam politik Tunisia sejak revolusi 2011 yang ingin menerapkan sistem demokrasi.

Langkah Saied, yang juga termasuk pembekuan parlemen dan pemecatan perdana menteri, juga telah membuat Ennahda semakin tidak solid, yang mengarah pada tuduhan di dalam partai atas strategi dan kepemimpinannya.

Partai tersebut telah menjadi partai yang paling kuat secara konsisten di Tunisia sejak revolusi dan memainkan peran penting dalam mendukung pemerintah koalisi berturut-turut dan telah kehilangan dukungan karena ekonomi mandek dan layanan publik menurun.

Pada hari Sabtu, Ghannouchi menunda pertemuan Dewan Choura, otoritas internal tertinggi partai, tak lama sebelum pertemuan ini dijadwalkan, kata tiga sumber partai.

Puluhan anggota partai yang lebih muda dan beberapa pemimpinnya termasuk Samir Dilou, seorang anggota parlemen, telah meminta Ghannouchi untuk mengundurkan diri.

Ghannouchi telah memimpin Ennahda selama beberapa dekade, termasuk saat dia diasingkan di Inggris sebelum revolusi. Setelah revolusi, ia kembali ke Tunisia dan disambut penuh di bandara Tunis. Dia mencalonkan diri untuk pemilihan untuk pertama kalinya pada 2019, memenangkan kursi parlemen. 

  • Share