Mansour Abbas, pemimpin Partai Islamis di Israel, kemungkinan akan menghadapi beberapa keputusan sulit selama beberapa  bulan mendatang jika partainya menjadi bagian dari koalisi pemerintahan baru di Israel.

Diketahui Abbas sepakat untuk bergabung dengan koalisi yang dipimpin oleh Yair Lapid, dari partai tengah Yesh Atid, dan Naftali Bennett dari sayap kanan Yemina. Peristiwa ini merupakan ironi dari sebuah partai politik Islamis yang bersemangat untuk bekerja sama  dengan Yemina, sebuah aliansi partai-partai nasionalis Yahudi.

Banyak pakar melihat perkembangan tersebut sebagai contoh lain dari partai yang terinspirasi Ikhwanul Muslimin yang menempatkan kekuasaan dan kepentingan pribadi di atas prinsip.

“Berita ini tidak mengejutkan. Afiliasi Ikhwanul Muslimin selalu menggunakan segala cara untuk mencapai tujuan politik mereka,” jelas Dr. Hamdan Al-Shehri, seorang analis politik dan sarjana hubungan internasional.

“Kerja sama ini hanyalah episode lain dalam drama jangka panjang yang akan terus menunjukkan keinginan Ikhwanul Muslimin untuk bekerja sama dengan siapa pun kecuali dengan pemerintah dari negara mereka sendiri.”

Soal apakah koalisi ini akan berlangsung lama tidak menjadi fokus utama. Jika disetujui di Knesset, koalisi ini akan mengakhiri 12 tahun masa jabatan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Ini juga akan menandai pertama kalinya sebuah partai Arab Islam masuk dalam jajaran pemerintahan Israel dari sejak pembentukan negara Israel pada tahun 1948.

Jika  menjadi menteri, Abbas akan menjadi politisi Arab pertama yang duduk di meja Kabinet Israel. Politisi dan para pemilih Yahudi-Israel sebelumnya memandang partisipasi partai Islam seperti itu sebagai langkah yang terlalu jauh.

Mungkin juga ada kebimbangan di pihak politisi Arab sendiri pada partisipasi aktif dalam pemerintahan Israel yang legitimasinya, dan bahkan haknya untuk hidup, masih sangat diperdebatkan di sebagian besar dunia Arab dan Muslim.

Politisi Arab ini ada yang menjadi anggota Druze dari partai Likud Netanyahu hingga menjadi anggota partai komunis sekuler Hadash. Politisi Arab juga ada yang menjadi perwakilan minoritas Badui yang terpinggirkan di selatan Israel. Beberapa muslim juga ada yang menjadi sukarelawan di Pasukan Pertahanan Israel (IDF).

Lalu ada Partai Islamis milik Abbas, yang sering dikenal dengan akronim Ibrani Raam. Raam adalah Gerakan Islam Israel dan, dengan demikian, dipahami seideologi dengan Ikhwanul Muslimin.

Sementara Hamas, kelompok militan yang menguasai Jalur Gaza dan sangat populer di Tepi Barat, dengan terang-terangan mengklaim asal-usul dan persahabatannya dengan Ikhwanul Muslimin. Raam bisa dikatakan berafiliasi dengan jaringan ini Ikhwan ini. Ikhwanul Muslimin diklasifikasikan sebagai kelompok teroris oleh Mesir, UEA, Bahrain dan Arab Saudi antara lain.

Sumber: Arab News