Robredo Janji Akan Akhiri Politik Busuk di Filipina

  • Share

Wakil Presiden Filipina Leni Robredo pada hari Kamis (07/10/2021) mendeklarasikan diri untuk menjadi presiden. Dia berjanji akan membasmi cara-cara “politik busuk.”

Filipina akan mengadakan pemilihan presiden pada 9 Mei tahun depan. Calon presiden harus mengajukan surat pencalonan mereka ke Komisi Pemilihan pada hari Jumat.

Robredo, seorang pengacara hak asasi manusia dan ibu dari tiga anak yang memimpin oposisi dan menjabat sebagai wakil presiden sejak 2016, telah mengkritik Presiden petahana Rodrigo Duterte dalam banyak persoalan, terutama kebijakannya dalam memerangi narkoba dan penanganan pandemi COVID-19.

Presiden dan wakil presiden dipilih secara terpisah di Filipina dan bisa berasal dari partai-partai yang bersaing. Dalam pemilihan 2022, Robredo akan memperebutkan jabatan tertinggi negara itu sebagai kandidat independen.

“Kita harus membebaskan diri dari situasi saat ini. Saya akan berjuang. Kami akan bertarung. Saya menawarkan diri sebagai calon presiden pada pemilu 2022,” kata Robredo dalam pidato di depan kantornya di Quezon City. “Kami akan mengalahkan cara-cara politik lama dan busuk.”

Robredo mengatakan bahwa pada mulanya dirinya tidak berencana untuk mencalonkan diri. 

Namun selama beberapa minggu terakhir ia telah berusaha untuk menyatukan kekuatan anti-Duterte untuk pemilihan 2022.

“Kita harus mengubah bukan hanya nama keluarga mereka yang berkuasa. Korupsi, inkompetensi dan kurangnya kasih sayang harus diganti dengan kompetensi dan integritas dalam kepemimpinan,” katanya dalam pidatonya Kamis.

“Ada banyak kelaparan, penderitaan, dan kematian karena mereka yang berkuasa telah memprioritaskan kepentingan pribadi di atas kesejahteraan rakyat Filipina.”

Robredo pertama kali mencalonkan diri untuk jabatan publik pada 2013. Dia menjabat satu periode sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan relatif tidak dikenal di kancah politik sebelum dia bergabung dalam pemilihan wakil presiden pada 2016. Kandidat presiden dari partainya kalah dari Duterte.

Saat Robredo mengajukan pencalonannya, Sambayan, koalisi oposisi yang pertama kali mendukung pencalonannya sebagai presiden, mengatakan bahwa dirinya akan “memulai perjuangan untuk mendapatkan kembali demokrasi dan integritas negara kita dalam pemerintahan.”

Kelompok itu mengatakan dalam sebuah pernyataan: “Ini adalah harapan di tengah badai ketidakpastian: Negara hampir hancur akibat penanganan pandemi yang gagal, ekonomi  makin melemah dan banyak nyawa dan mata pencaharian bagi masyarakat Filipina hilang.”

Selain Robredo dan Manny Pacquiao, yang telah mengajukan pencalonan sebagai presiden ialah  Ferdinand Marcos Jr., putra diktator Filipina yang memerintah negara itu selama lebih dari dua dekade sampai ia digulingkan oleh pemberontakan populer pada tahun 1986.

Ketika menyatakan pencalonannya sebagai presiden awal pekan ini, Marcos bersumpah untuk melanjutkan perang Duterte terhadap narkoba dan melindungi kampanye dari penyelidikan Pengadilan Kriminal Internasional yang sedang berlangsung.

Partai Akbayan, yang juga mendukung Robredo, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa keputusannya untuk ikut pemilu menawarkan alternatif demokratis untuk status quo.

“Pemilu tahun depan merupakan pertempuran antara pembela terbaik demokrasi, dan keturunan diktator masa lalu dan sekarang,” kata partai tersebut.

“Kami sekarang memiliki alternatif demokrasi nyata yang dapat menghentikan kelanjutan tirani, memenangkan perang melawan pandemi dan resesi ekonomi, dan membawa kami kembali dengan selamat ke jalan demokrasi.”

  • Share