Yang Tidak Diketahui dari Masa Depan Afghanistan

  • Share

Kembalinya Taliban ke tampuk kekuasaan telah menimbulkan kekhawatiran berlebih di Afghanistan dan memang cukup mengejutkan bagi dunia. Saat ini, ketika pasukan militer AS mengambil alih bandara Kabul dan mengevakuasi warga negara asing dan ribuan warga Afghanistan, pertanyaan penting muncul terkait bagaimana nasib Afghanistan ke depan dan apa dampak dari peristiwa kembalinya Taliban menguasai Afghanistan yang terjadi beberapa hari terakhir.

Pertanyaan pertama yang paling mendesak adalah apakah Taliban versi 2.0 saat ini sungguh berbeda dibandingkan dengan versi Taliban yang pernah memerintah dari tahun 1996 hingga 2001. Akankah Taliban sebagai penguasa Afghanistan saat ini menghapus setiap kemajuan yang dibuat di Afghanistan selama 20 tahun terakhir, terutama tentang hak-hak perempuan dan kebebasan individu?

Para pemimpin Taliban menegaskan bahwa mereka telah berubah, tetapi pengalaman menunjukkan perubahan sikap ini mungkin lebih merupakan taktik untuk menjaga posisi mereka sampai mereka dapat mengkonsolidasikan kekuasaan. Sudah ada beberapa laporan tentang perempuan yang disuruh tinggal di rumah, jurnalis wanita yang dipaksa bersembunyi, dan beberapa laporan terkait bagaimana Taliban memukul dan membunuh wanita

Taliban memang menghadapi sedikit perlawanan sejauh yang terlihat sampai saat ini, tetapi aksi penentangan terhadap Taliban cukup signifikan di Afghanistan. Akankah ada pemberontakan dalam skala kecil yang mencoba mengambil alih tampuk kekuasaan yang baru? Akankah negara ini kembali ke perang saudara? Jika demikian, apakah perang ini akan menarik intervensi kekuatan luar? Dan apakah Afghanistan berisiko menjadi negara gagal, dengan serangkaian dampak regional dan global yang sama sekali baru?

Apa yang terjadi di Afghanistan, seperti yang dipelajari dunia dua dekade lalu, tidak hanya berdampak bagi Afghanistan tapi juga bagi dunia luar. Salah satu akibat langsung dari kembalinya Taliban ke tampuk kekuasaan adalah adanya upaya kebanyakan warga Afghanistan untuk melarikan diri dari negara tersebut. Adegan memilukan dapat kita saksikan di bandara Kabul. Adegan ini menandakan bahwa krisis pengungsi besar-besaran sedang terjadi saat ini di Afghanistan. 

Selain tragedi kemanusiaan, yang muncul adalah pertanyaan geopolitik. Apa dampak arus pengungsi besar terhadap politik di negara yang dekat dengan Afghanistan dan di negara yang lebih jauh lagi misalnya di Eropa? Kasus Suriah menunjukkan kepada kita bagaimana para pengungsi Suriah menjadi komoditas politik domestik di Turki, Perancis, Belgia dan negara-negara lainnya. Mereka akan menjadi korban dari kebijakan politik sayap kanan atau ultra nasionalis. Dan biasanya kondisi ini makin memunculkan rasisme, diskriminasi dan lain-lain terhadap para imigran. 

Di Amerika Serikat, komentator politik sayap kanan Tucker Carlson sudah lebih dahulu memicu kekhawatiran seperti ini. “Pertama kita menyerang mereka, lalu kita diserbu”. Demikian ia memperingatkan secara dramatis. Di Prancis, dengan kurang dari setahun sebelum pemilihan presiden, Presiden Emmanuel Macron berusaha untuk melindungi dirinya dari sayap kanan anti-imigran, dengan menyatakan, “Kita harus mengantisipasi dan melindungi diri kita sendiri dari arus migrasi tidak teratur besar yang akan membahayakan mereka yang menggunakannya dan perdagangan makanan.”

Pertanyaan kunci lainnya menyangkut alasan yang membawa NATO ke Afghanistan pada tahun 2001: terorisme. Akankah Taliban membiarkan negara mereka menjadi surga bagi kelompok teroris?

Para pemimpin Taliban mungkin tidak ingin membiarkan hal itu terjadi sejak awal, tetapi ideologi jihad mereka sangat erat dengan kelompok-kelompok ekstremis Islam lainnya sehingga ada kemungkinan besar hal itu akan terjadi. Dan yang makin memperkuat lagi, Taliban telah membebaskan ribuan tahanan, termasuk anggota al-Qaeda, di wilayah yang telah mereka rebut kembali. Selain itu, jika Taliban menghadapi pemberontakan domestik, mereka dapat dengan mudah mengajak kaum jihadis yang berpikiran sama dari luar negeri.

Lalu ada juga dampak pada politik domestik di Amerika Serikat. Kembalinya Taliban dan runtuhnya pemerintah Afghanistan yang didukung AS telah menjadi krisis politik terbesar bagi Joe Biden sejauh ini. Dia harus menghadapi konsekuensi berat selama sisa waktunya di AS. Joe Biden dengan kata lain telah memberikan kesempatan luas bagi partai Demokrat untuk mengkritiknya, meskipun penarikan pasukan tersebut sesuai dengan komitmen mantan Presiden Donald Trump kepada Taliban dalam perjanjian Doha Februari 2020 tahun lalu. 

Keputusan Biden yang sejalan dengan rencana Trump yang sangat populer ini memang sangat didukung oleh kalangan publik Amerika. Meski demikian, jajak pendapat Morning Consult/Politico menemukan bahwa dukungan untuk penarikan pasukan AS dari Afghanistan merosot dari 69 persen pada April menjadi 49 persen sekarang.

Pengalaman menunjukkan bahwa nasib Afghanistan merupakan salah satu pertimbangan bagi pemilih Amerika dan menariknya kebijakan di Afghanistan kembali menjadi berita utama. Apapun yang terjadi, kebijakan Biden terkait Afghanistan ini akan menjadi Bukti A yang digunakan Partai Republik untuk melawan Biden dan Demokrat dalam pemilihan kongres paruh waktu 2022 dan seterusnya.

Adegan memilukan di Kabul bukan hanya memalukan bagi Biden. Adegan di Kabul memberikan noktah negatif bagi AS. Secara potensial, meskipun tidak dapat dielakkan, hal itu bisa menjadi salah satu akibat paling abadi dan konsekuensi dari bencana di Kabul. Di negara-negara di seluruh dunia, para pemimpin mengamati peristiwa dari perspektif unik mereka sendiri. Di antara mereka yang menonton dengan perhatian terbesar adalah negara-negara yang memiliki ikatan keamanan yang kuat dengan Washington dan harapan bahwa Amerika Serikat akan mendukung mereka jika mereka berada di bawah ancaman.

Di negara-negara seperti Arab Saudi, Taiwan dan Israel, kekalahan Amerika di Afghanistan menandakan perlunya mempertimbangkan kembali seberapa andal kekuatan AS. Akibatnya, negara-negara ini bisa jadi dapat memutuskan untuk bergerak sendiri tanpa perlu dukungan AS. Akankah Pax Americana memicu meningkatnya penjualan senjata dan menciptakan lebih banyak ketidakstabilan?

Lalu ada pertanyaan tentang bagaimana kebangkitan Taliban akan mempengaruhi wilayah tersebut. Bagi saingan Amerika seperti Cina, Rusia dan Iran, momen ini menjadi kesempatan mereka untuk mempermalukan AS. Bagi negara-negara ini, mempermalukan AS merupakan salah satu sumber kesenangan. Namun di luar itu, kembalinya kekuasaan secara tiba-tiba kepada kelompok radikal yang memiliki hubungan dengan organisasi teroris ini bukanlah sumber kesenangan murni.

Selain arus masuk pengungsi, kawasan ini kini akan menghadapi negara yang tak aman ini. China dan Rusia, belum lagi Pakistan, yang telah lama menjadi sponsor Taliban, telah bekerja untuk menjalin hubungan dengan penguasa baru Afghanistan. Tetapi China tentunya akan khawatir bagaimana Taliban akan menampung militan Uyghur, seperti yang mereka lakukan di masa lalu, dan mengobarkan ketidakpuasan di Xinjiang. Demikian pula, Moskow akan khawatir tentang hubungan antara radikal Afghanistan dan ekstremis Muslim di Rusia.

Peristiwa minggu lalu telah membuka jalan bagi negara-negara ini untuk meningkatkan pengaruh dengan penguasa baru di Afghanistan. Tetapi bagi pemerintah Iran, Turki, dan negara lainnya, kerjasama dengan Taliban akan tetap menjadi prospek yang sulit  dilakukan di negara yang penuh gejolak ini. Iran Syiah, khususnya, harus berhati-hati dalam menghadapi kelompok Sunni radikal ini.

Untuk saat ini, ada lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Satu-satunya kepastian adalah bahwa peristiwa beberapa hari terakhir di Afghanistan ini akan mempengaruhi dan mengubah jutaan kehidupan—dan bergema selama beberapa tahun mendatang.

Oleh: Frida Ghitis

Diterjemahkan dari: https://www.worldpoliticsreview.com/articles/29900/with-the-end-of-war-afghanistan-faces-an-uncertain-future

  • Share