Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengimbau agar organisasi kemasyarakatan (ormas) tidak merazia tempat-tempat umum. Apalagi sampai membuat kerusakan di lokasi dengan dalih apapun.

Pernyataan Kapolri ini terkait adanya fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang atribut Natal yang tak boleh dikenakan umat Islam. Dan fatwa ini dijadikan rujukan salah satu ormas untuk merazia tempat-tempat umum.

“Saya minta seluruh Kapolres, Kapolda, bubarkan mereka. Datangi baik-baik, suruh bubar,” ujar Tito Karnavian di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (20/12/2016).

Kapolri menegaskan, pihaknya juga tidak akan ragu menerapkan pasal pidana kepada ormas yang enggan dibubarkan ketika menggelar razia. Menurut Tito, hukuman bisa saja diperberat bilamana ada korban dalam razia tersebut.

“Kalau enggak mau bubar, tangkap. Gunakan Pasal 218 KUHP. Barang siapa yang diperintahkan bubar tapi tidak membubarkan diri dapat dipidana. Kalau seandainya dia melawan, ada korban luka dari kita (polisi) itu ancamannya 7 tahun,” tegas Tito.

Meski demikian, mantan Kapolda Papua ini juga meminta agar para pemilik toko tidak memaksa karyawannya untuk memakai atribut Natal.

“Yang tidak boleh itu kalau ada pemilik toko misalnya, dia memaksa karyawannya memakai atribut Natal atau topi sinterklas dan dipaksa kalau enggak dipakai akan dipecat, nah itu enggak boleh,” terang Tito sebelumnya.

Tito pun mengimbau kepada ormas-ormas agar memahami bahwa fatwa MUI bukanlah hukum positif di Indonesia. Untuk itu, dirinya pun meminta agar MUI jika ingin melakukan sosialisasi secara baik-baik.

“Untuk itu silakan kalau mau sosialisasikan, lakukan dengan cara baik-baik, tidak membuat masyarakat takut. Gunakan MUI di cabang, bukan ambil langkah sendiri-sendiri,” kata Tito.

Kemudian, lanjut Kapolri, dia  memerintahkan jajarannya agar melaksanakan tindakan sesuai aturan hukum. Sehingga apabila ada pelanggaran, dia pun meminta agar orang atau pihak tersebut ditangkap.

“Kalau ada pelanggaran hukum, mengancam, mengambil barang atau atribut, dan lain-lain, tangkap. Kita tidak boleh kalah. Masyarakat harus dilindungi,” pungkas Tito.