Tim gabungan dari Intel Kejagung, Intel Kejati Bali dan tim dari KPK RI berhasil mengamankan Sugiarto Wiharjo alias Alay. Alay, adalah terpidana bersama-sama terpidana Satono, mantan Bupati Lampung Timur telah memindahkan uang Kas Daerah Pemkab Lampung Timur ke PT BPR Tripanca Setiadana sebesar Rp 108.861.624.800,-.

Satono, mantan Bupati Lampung Timur sendiri, sampai saat ini masih buron. Penangkapan terhadap Alay sendiri, merupakan penangkapan buronan ke-10 di Tahun 2019 oleh Tim Kejaksaan Agung. Alay sempat buron selama 4 tahun lebih.

Alay berhasil diamankan disalah satu hotel di daerah Tanjung Benoa, Bali. Alay alias Sugiarto Wiharjo adalah Komisaris Utama PT BPR Tripanca Setiadana, yang terbukti memberikan bunga tambahan kepada terpidana Satono yang menjabat Bupati Lampung Timur saat itu sebesar Rp 10.586.575.000, setelah Satono memindahkan memindahkan uang Kas Daerah Pemkab Lampung Timur ke PT BPR Tripanca Setiadana sebesar Rp 108.861.624.800.

Akibat perbuatan ini, negara dirugikn sebesar Rp 119.448.199.800. Berdasarkan Putusan MA RI No. 510/K/PID.SUS/2014 tanggal 21 Mei 2014, Sugiarto Wiharjo alias Alay telah dinyatakan terbukti bersalah & dijatuhi hukuman pidana penjara selama 18 tahun serta denda sebesar Rp.500 juta subsider 6 bulan kurungan.

Selain itu, dia juga dikenakan kewajiban membayar uang pengganti sebesar Rp 106.861.624.800,-.

Sebelumnya, Alay telah dijatuhi hukuman lima tahun penjara oleh Pengadilan Negeri (PN) Tipikor Tanjungkarang. Alay lalu mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Lampung. Pengadilan Tinggi Lampung menguatkan putusan PN, sedangkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) mengajukan Kasasi Ke Mahkamah Agung (MA).

Dengan vonis 18 tahun, Alay harus kembali mendekam dalam penjara. Namun, upaya untuk mengeksekusi Alay agar masuk ke penjara gagal karena Alay tidak diketahui keberadaannya.

Satono kabur beberapa saat setelah vonis dijatuhkan. Alay sendiri pernah kabur pada saat dia ditetapkan sebagai tersangka menyusul kolapsnya bank miliknya. Bersamaan dengan bangkrutnya Bank Tripanca milik Alay dan diambilalih oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), ratusan miliar uang nasabah –termasuk uang APBD Kabupaten Lampung Timur dan Lampung Tengah yang didepositokan di Bank Tripanca tidak bisa ditarik.

LPS tidak bisa mengganti uang APBD Lampung Timur dan Lampung Tengah, karena ternyata uang APBD itu disimpan dengan cara di bawah tangan (under table), tanpa melalui pembukuan perbankan yang semestinya.(*)