Pengadilan Malaysia membebaskan Siti Aisyah dari segala tuduhan kasus dugaan pembunuhan warga negara Korea Utara, Kim Jong-nam, kakak tiri Kim Jong-un, Senin (11/03/2019).

Menurut keterangan Direktur Jendral Administrasi Hukum Umum (AHU) Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) Cahyo Rahadian Muhzar, bebasnya Siti Aisyah didasari atas permintaan Menkumham Yasonna Laoly.

“Siti Aisyah bebas didasari oleh permintaan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna Laoly kepada Jaksa Agung Malaysia,” ujarnya dari Malaysia.

Perwakilan Indonesia menghadiri sidang kasus Siti Aisyah di Pengadilan Shah Alam. (Foto: KBRI Kuala Lumpur)

Oleh karena itu Jaksa Agung Malaysia memutuskan untuk menggunakan wewenangnya berdasarkan pasal 254 Kitab Hukum Acara Pidana Malaysia.

Yaitu tidak melanjutkan penuntutan terhadap kasus Siti Aisyah (nolle prosequi).

Cahyo menjelaskan, beberapa alasan Menkumham mengajukan permintaan pembebasan terhadap Siti Aisyah kepada Jaksa Agung Malaysia adalah sebagai berikut:

Pertama terdakwa Siti Aisyah meyakini apa yang dilakukannya semata-mata bertujuan untuk kepentingan acara reality show. Sehingga dia tidak pernah memiliki niat untuk membunuh Kim Jong-nam.

Kedua Siti Aisyah telah dikelabui dan tidak menyadari sama sekali bahwa dia sedang diperalat oleh pihak intelijen Korea Utara.

Ketiga Siti Aisyah sama sekali tidak mendapatkan keuntungan dari apa yang dilakukannya.

“Permintaan tersebut sejalan dengan arahan Presiden RI setelah dilakukan koordinasi antara Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI, Menteri Luar Negeri RI, Kepala Kepolisian RI, Jaksa Agung RI dan Kepala Badan Intelijen Negara,” ujar Cahyo.

Dalam sidang pembebasan Siti Aisyah ini, hadir perwakilan dari Indonesia, di antaranya adalah Duta Besar RI di Kuala Lumpur didampingi oleh Direktur Jenderal AHU Kemenkumham RI, Direktur Pidana Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI, serta Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia Kementerian Luar Negeri RI. (*)