Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan gerakan kemandirian yang digaungkan Nahdlatul Ulama (NU) adalah wajah baru dari konsep gotong royong yang merupakan ciri khas warga Indonesia. Konsep gotong royong ini telah tertuang dalam Pancasila, yakni sila ketiga ‘Persatuan Indonesia’.

Hal ini disampaikan Anies saat menjamu KH. Hasib Wahab dan Ketua PCNU Jakarta Pusat Gus H. Syaifuddin di Gedung Balaikota, Jumat, (07/02/2020).

“Gerakan kemandirian NU ini membuka kembali lembaran sejarah kebersamaan antar warga melalui interaksi sosial dalam aspek kehidupan ekonomi,” kata Anies.

Pada kesempatan itu, Gubernur DKI Jakarta memuji gerakan NU di Jakarta yang semakin aktif.

Anies mencontohkan kegiatan maulid akbar yang diadakan di setiap kecamatan dan kelurahan di DKI Jakarta, kemudian jama’ah yasin dan istighotsah yang diadakan setiap minggu.

“Semoga gerakan kemandirian hadir di setiap majlis itu sehingga selain mengaji dan bersholawat, ada sumbangsih berupa koin-koin untuk dikumpulkan lalu diwujudkan kegiatan atau barang yang diperlukan jama’ah,” tambah Anies.

Sementara itu, KH. Hasib Wahab mengatakan gerakan kemandirian NU di Jawa Timur sudah mulai merebak sampai tingkat desa dan dusun, antusiasme yang tinggi ini karena diiringi dengan niat shodaqoh kepada masyarakat lainnya.

“Semoga DKI Jakarta bisa mengikuti gerakan masif ini hingga tingkat akar masyarakat,” kata KH. Hasib.

Sedangkan Ketua PCNU Jakarta Pusat, Gus H. Syaifuddin mengatakan gerakan kemandirian NU di DKI Jakarta kurang lengkap tanpa dukungan pemerintah. Untuk itu memohon Gubernur Anies mendukung penuh gerakan ini.

“Kami atas nama NU Jakarta Pusat memohon dukungan penuh dari pak gubernur untuk semangat menggaungkan gerakan kemandirian NU ini di DKI Jakarta,” kata Gus H. Syaifuddin.

Gus H. Syaifuddin mengatakan bahwa di Tanah Abang, cikal bakal gerakan kemandirian ini sudah terwujud.

“Mereka membangun masjid dengan dana awal sekitar 300 juta lalu didukung dengan koin-koin yang disebar kotaknya ke setiap rumah selama beberapa bulan, akhirnya terkumpul menjadi 2,5 M. Ini masih terorganisir secara internal, jika terorganisir baik oleh NU se DKI Jakarta, saya yakin di setiap kecamatan bisa lahir mobil ambulance untuk kebutuhan masyarakat,” pungkas Gus H. Syaifuddin. (Kontributor: Farhan Maksudi)