Pemerintah China menanggapi pernyataan AS yang menuduh Iran sebagai dalang serangan pesawat nirawak (drone) terhadap dua kilang perusahaan minyak Arab Saudi, Aramco, pada akhir pekan lalu. Menurut mereka hal itu adalah sikap tidak bertanggung jawab karena menyalahkan tanpa bukti.

“Siapa yang harus disalahkan dengan tidak adanya investigasi menyeluruh, saya pikir itu adalah tindakan yang tidak terlalu bertanggung jawab. Posisi China adalah bahwa kami melawan setiap langkah yang mengindikasikan kepada konflik,” kata Hua Chunying, juru bicara Kementerian Luar Negeri China di Beijing, Senin (16/09/19).

Mengutip Reuters, Hua menuturkan bahwa China meminta seluruh pihak terkait untuk tidak mengambil tindakan yang meningkatkan eskalasi dan ketegangan regional.

“Kami harap seluruh pihak dapat menahan diri dan bersama-sama dapat menjaga perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah,” ungkap Hua.

Pernyataan Beijing itu dilontarkan tak lama setelah AS secara tidak langsung menuduh Iran sebagai otak dari serangan drone pada Sabtu pekan lalu tersebut.

Kelompok pemberontak Houthi di Yaman telah mengaku yang bertanggung jawab atas serangan pesawat nirawak itu. Namun, Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, menyebut tidak ada bukti yang memaparkan bahwa serangan itu dilakukan dari Yaman.

Untuk pertama kalinya, Presiden Donald Trump mengisyaratkan bahwa AS siap berperang untuk membela Saudi, sekutu dekatnya, terkait insiden itu.

Serangan drone tersebut turut memangkas setengah produksi minyak Saudi, hingga membuat Riyadh dan Washington berencana menggunakan cadangan strategis mereka. (*)