Gerakan Rumah Indonesia yang terdiri dari para aktivis, jurnalis, akademisi, dan tokoh masyarakat, mengeluarkan maklumat untuk mencegah konflik pasca pemilu 2019.

Menurut Rumah Indonesia, suhu politik di pemilu 2019 ini sangat panas dan telah menciptakan keterbelahan sosial-politik akut dan tidak mudah dipulihkan.

Hal ini akibat kontestasi yang menampilkan kompetisi tanding ulang berhadap-hadapan antara petahana dengan penantang. Hal ini ditambah dengan narasi dan tindakan politik dari kedua kubu yang menciptakan konflik.

Rumah Indonesia melihat bahwa pilar-pilar moral maupun institusional tampak ikut mengalami destruksi.

Pers, cendekiawan, dan agamawan yang diharapkan mencerahkan moral publik, malah menunjukkan tanda keterlibatannya dalam pusaran pertarungan politik.

“Kita sedang menghadapi defisit legitimasi,” kata Rumah Indonesia dalam rilis tertulisnya, Jumat (12/04/2019)

Institusi yang secara kredibel bisa menjaga kebhinnekaan kian langka, hampir semua terseret dan terjebak dalam politik elektoral. Krisis legitimasi sudah meluas.

“Kita menghadapi kegentingan situasi. Sejak era Orde Baru, Republik Indonesia belum pernah mengalami keterbelahan yang massif seperti sekarang. Namun terasa tidak ada yang mau mengakui tentang kondisi genting ini,” lanjut rilis tersebut.

Melihat fenomena itu, Rumah Indonesia mengeluarkan tiga maklumat untuk keselamatan dan keutuhan bangsa.

Pertama, agar penyelenggara kekuasaan negara bisa menjaga marwah dan integritasnya, serta sejauh mungkin menghindari diri dari segala bentuk godaan untuk menjadi bagian dari kontestasi politik.

Kekuasaan harus dijalankan persis sebagaimana maksud diadakannya, termasuk menjamin keselamatan rakyat untuk menggunakan hak pilihnya.

Kedua, agar seluruh elemen masyarakat hendaknya dapat menggunakan hak konstitusionalnya secara baik, melawan segala bentuk politik uang, intimidasi dan kebohongan, supaya menentukan sikap dalam keadaan merdeka, sehingga keputusan rakyat menjadi rahim bagi suatu pemerintahan yang bekerja dalam garis konstitusi dan dasar negara Pancasila.

Ketiga, Rumah Indonesia mengajak seluruh elemen bangsa untuk bergabung, bahu-membahu, bekerja sama mengatasi keterbelahan dan eksesnya, demi menjaga keselamatan dan keutuhan bangsa.

Beberepa tokoh yang terlibat dalam maklumat ini ada Drs. Abdul Hakim, Prof. Dr. Abdul Karim, MA., MA., Ir. Drs. Abdul Rahman Ma’mun, Ahmad Alamsyah Saragih, SE., Dr. Aidul Fitriciada, SH, MHum., Prof. Dr. Ir. Ali Agus, DAA, DEA., Prof. Dr. Almaidy Armawi, MSi., Prof. Dr. Bambang Cipto, MA.

Kemudian Bambang Ekalaya, Prof. Dr. Chairil Anwar, Dadang Juliantara, Dadang RHS, Dardo Prastistyo, Fatiyah MA, Prof. Firmanzah, SE, MM, PhD., Prof. Dr. Heru Kurnianto Tjahjono, MM., Dr. Khamim Zarkasih Putro, MSi, Linda Christanty, M. Ichsan Loulembah

Ada juga Prof. Dr. Muhammad Khirzin, Mag., Nusyahbani Katjasungkana, SH. LLM, Prof. Dr. Ni’matul Huda, SH, MHum., R. Nurjaman Mochtar, Raharja Waluya Jati, Prof. Dr. Salim Haji Said, Dr. Siti Mutiah Setiawati, MA., Syamsudin Spd, MA., Drs. H. Syamsul Azhari, Titi Anggraini, SH, MH., Umar Husin, SH, MH., Drs. Untoro Hariadi, MSi., dan Drs. Wahyudi, MSi. (*)