Dosen dan Mahasiswa Sastra Inggris UNPAM Gelar Pelatihan Penilaian Tulisan Anak Usia Dini di Jampang English Village

  • Share

Keterampilan menulis pada anak merupakan salah satu kemampuan yang perlu di asah sejak dini.

Selama ini, peningkatan literasi dalam dunia pendidikan lebih banyak difokuskan pada kemampuan membaca dan berbicara sedangkan kemampuan menulis kurang mendapat perhatian lebih.

Padahal, keterampilan menulis merupakan modal dasar bagi keterampilan-keterampilan lainnya dalam dunia peningkatan literasi.

Atas dasar inilah, Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Dosen Sastra Inggris Universitas Pamulang yang terdiri dari Mohammad Fajar Mediyawan Gintings, S.Pd., M. Tesol, Bambang Irawan, S.S., M.Pd., Bobi Arisandi, S.S., M.Pd., dan Abdul Aziz, S.S., M.A. bersama dengan 7 mahasiswa yang terdiri dari Abdul Hamid Affandi, Aldiva Firdha Anjani, Amalia Fitriani Sadli, Citra Resmi, Javier Almer Rizkianna Lesar, Devin Anissa Putri dan Sinta Deviana mengadakan Pelatihan Analisis Tulisan di Jampang English Village Bogor pada Jumat (12/11/2021).

Pengabdian kepada Masyarakat kali ini bertemakan “Pelatihan Analisis Tulisan: Memahami Perkembangan Literasi Anak Usia Dini pada Siswa Jampang English Village”.

Dalam pelatihan ini, hadir sebagai pembicara pertama, Mohammad Fajar Mediyawan Gintings, S.Pd., M. Tesol, dan pembicara kedua, Bambang Irawan, S.S., M.Pd. dan sebagai MC, Amalia Fitriani Sadli, mahasiswa Universitas Pamulang.

Mengawali pelatihan, Fajar dengan sangat menarik mengemukakan definisi writing atau menulis.

“Menulis merupakan keterampilan mengungkapkan gagasan, pendapat, dan perasaan kepada pihak lain dengan melalui bahasa tulis,” jelasnya.

Menurut Fajar keterampilan menulis merupakan skill literasi yang paling dasar namun cukup menentukan kemampuan kognisi dan psikomotorik anak.

Dengan mengutip pandangan Graham & Perin, Fajar juga mengemukakan bahwa kemampuan menulis sangat berpengaruh bagi proses pembelajaran lainnya.

Selain itu, keterampilan menulis merupakan keterampilan yang paling bisa diukur secara konkret dibanding kemampuan literasi lainnya.

Sampai di sini, Fajar kemudian mengkritisi usaha-usaha peningkatan literasi di Indonesia yang lebih banyak menekankan keterampilan membaca dan berbicara sebagai fokus utama sementara kemampuan menulis yang juga sama pentingnya bagi perkembangan literasi anak sangat diabaikan.

“Keterampilan menulis itu harus dianalisis dan dinilai. Penilaian terhadap teks tulisan siswa harus menjadi kebiasaan yang bagus. Penilaian terhadap teks tulisan anak bisa juga dilakukan sebagai bukti pembelajaran dan sebagai sumber pertimbangan bagi langkah-langkah selanjutnya tentang bagaimana mengajarkan teks kepada siswa,” lanjut Fajar.

Fajar juga menyebutkan bahwa pada saat menilai tulisan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan; pertama data tulisan yang diperlukan sehingga dapat menemukan problem utama atau apa yang kurang misalnya dalam spelling, grammar, dan punctuation.

kedua, melihat konten tulisan dan proses perkembangan tulisan; ketiga, menguji skill menulis dengan kriteria yang ada lalu memetakan perubahan yang terdapat dalam tulisan.

Lebih jauh Fajar menyebutkan bahwa ada dua elemen yang perlu dinilai dalam tulisan; pertama authorial dan kedua, secretarial.
Dua elemen ini mencakup enam dimensi: text structure (authorial), sentence structure and grammatical strtucture (authorial), vocabulary (authorial), spelling (secretarial), punctuation (secretarial) dan handwriting/ legibility.

“Semua ini merupakan tool yang ditawarkan McKenzie dalam menilai hasil tulisan anak,” jelas Fajar.

Sementara itu, Bambang Irawan menekankan kenapa penilaian tulisan anak usia dini menggunakan tool ini penting.

Dengan adanya penilaian seperti ini, paling tidak, kata Bambang, guru harus mampu memonitor progress keterampilan menulis siswa, mengidentifikasi kebutuhan belajar dan keputusan yang dibuat berbasis pada kebutuhan ini. Selain itu, tool seperti ini dapat meningkatkan pemahaman guru dalam proses peningkatan literasi.

“Ketika guru tahu pola-pola tulisan siswa secara umum, tentunya bisa dibuat program secara lebih baik,” jelas Bambang.

Pada sesi kedua ini, Bambang juga menjelaskan soal kategori penilaian dan praktek menilai hasil tulisan siswa berdasarkan kepada 6 tool yang ditawarkan McKenzie.

Kategori penilaian berupa skala dan skala bisa bervariasi. Dan yang paling gampang adalah menggunakan skala 1-6. Bambang menjelaskan bahwa poin 6 merupakan penilaian tertinggi namun poin 4-5 untuk anak kelas usia dini sudah dianggap tinggi atau cukup.

Setelah semua kriteria diberi poin, lalu kemudian dijumlahkan. Nilai akhir didapat dari jumlah poin dibagi jumlah poin maksimal. (*)

  • Share