Biaya kesehatan untuk masyarakat terdampak polusi udara dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batubara sangat besar, sehingga perlu dimasukkan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).

Hal ini disampaikan Jurukampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia Bondan Andriyanu di Jakarta, Senin (25/11/2019).

“Sampai saat ini dalam RUPTL rencananya masih ke batubara. Energi baru terbarukan sudah ada tapi porsinya masih kecil. Regulasinya masih memanjakan batubara dengan adanya insentif,” kata Bondan yang dilansir dari Antara.

Menurut dia, dengan banyaknya riset global untuk energi baru terbarukan (EBT) yang membuatnya semakin murah, maka biaya pengoperasian pembangkit listrik berbahan bakar batubara menjadi lebih mahal jika memasukkan faktor biaya kesehatan.

Indonesia dapat meniru kebijakan energi domestik Korea Selatan yang segera memperketat baku mutu udara ambien ketika mulai menerima keluhan dari masyarakat.

Karenanya, ia mengatakan sudah seharusnya penetapan kebijakan kelistrikan melibatkan seluruh pemangku kepentingan, termasuk Kementerian Energi Sumber Daya Mineral, PT PLN, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan hingga Kementerian Kesehatan.

Terkait percepatan peralihan pemanfaatan energi fosil ke energi bersih atau EBT di Indonesia, Bondan mengatakan tentu kuncinya ada di Presiden Joko Widodo, mengingat pada pelantikan Menteri-menteri Kabinet Indonesia Maju tidak ada visi misi menteri.

Setelah ada teguran dari Sekretaris PBB Antonio Guiterez dan Managing Director IMF Kristalina Ivanova terkait eksploitasi dan penggunaan batubara untuk energi saat ASEAN Summit di Bangkok beberapa waktu lalu, menurut dia, Presiden Jokowi hanya tinggal melaksanakannya saja.

Pada pembukaan acara Indonesia Mining Association (IMA) Award di Jakarta, Rabu (20/11/2019), Presiden menegaskan Indonesia saat ini belum dapat beralih karena masih membutuhkan batubara untuk kebutuhan energi listrik.

Ia mengatakan perlahan Indonesia akan berusaha mengalihkan sumber energi dari batubara ke EBT yang lebih ramah lingkungan. Mulai dari tenaga air, tenaga angin, tenaga matahari dan geotermal.

“Karena memang untuk mengubah langsung, mengganti langsung, saya kira kita perlu tahapan. Saya sampaikan seperti itu,” kata Jokowi.

Meski demikian Presiden meminta semua semua menggarisbawahi bahwa dunia sudah menuju kepada energi yang ramah lingkungan. Semua harus mulai siap-siap dan berhati-hati. (*)