Pemerintah tidak menyertakan dananya pada proyek-proyek yang masuk dalam program Jalur Sutra Modern.

“Kerjasama yang kita lakukan sekarang tidak ada yang berbentuk kerjasama antar pemerintah, yang kita lakukan sekarang ini semua kerjasama antar badan usaha, langsung pada proyek. Jadi peran pemerintah disini hanya memfasilitasi,” ujar Menko Luhut hari Rabu (24/4) saat kunjungan ke China.

Menko Luhut tiba di Beijing Rabu pagi 24/04/2019 untuk mengikuti Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) II Belt and Road Initiative atau Jalur Sutra Modern.

Proyek-proyek tersebut murni dilakukan secara Business-to-Business (B2B).

Pemerintah Indonesia dan Cina disebut hanya untuk memfasilitasi bertemunya masing-masing badan usaha dari kedua negara.

Menurutnya LBP, pemerintah saat ini tengah melakukan studi kelayakan proyek (feasibility study) dengan investor Cina untuk beberapa proyek yang akan ditawarkan dalam KTT The Belt and Road Initiative ini.

“Sesuai arahan Presiden agar pertumbuhan Indonesia bisa berada di 5,6% pada tahun 2020″ Ujar LBP.

LBP menambhkan bahwa salah satunya adalah pemerintah akan memberi insentif kepada perusahaan-perusahaan yang memproduksi barang ekspor dan investasi-investasi yang dapat mengurangi impor kita, seperti menciptakan lapangan kerja, dll.

Misalnya, menurut Menko Luhut, saat ini ada beberapa perusahaan yang tertarik membangun industri mobil listrik di Indonesia, seperti Sokon.

Perusahaan ini berminat memproduksi mobil listrik dalam bentuk taksi seperti yang sedang dikembangkan taksi Bluebird.

“Daripada kita impor, lebih baik mereka dirikan pabriknya di Indonesia join dengan Cina tentunya mereka harus melakukan alih teknologi,” katanya.

Ia menjelaskan selain di bidang industri ada pula kerjasama pendidikan vokasi yang akan membantu tenaga kerja Indonesia untuk dapat bersaing di era industri 4.0 sekarang ini.

“Akan ada 10,000 pelatihan vokasi yang diselenggarakan antara Jerman Indonesia dan Cina. Jadi tidak hanya antara Indonesia dan Cina.

Bentuk kerjasama nya yaitu pelatihan ini menggunakan teknologi Jerman dan uangnya dari Cina, dengan kata lain kita menggunakan teknologi kelas satu dengan pendanaan yang relatif murah.

Singapura juga tertarik ikut dalam kerjasama ini karena mereka sudah berpengalaman di bidang ini.

Menteri Keuangan Jerman telah mengundang kami untuk membicarakan hal ini,” kata Menko Luhut.

Pada KTT ini pemerintah juga ingin melakukan studi bagaiman Cina membangun peta jalan industri nya.

“Kami ingin mempelajari bagaimana mereka membangun peta jalan industri nya. Dalam hal ini Bappenas akan terlibat, agar kita tidak mengulangi kesalahan negara lain dalam membangun industri nya.

Industri ini kan berkembang pesat, sekarang sudah memasuki era 4.0 jadi kita lakukan ini agar kita sudah memiliki acuan sehingga tidak ada kekeliruan,” ujar Menko Luhut.