Seleksi nasional Peserta Didik Baru (SNPDB) baru saja selesai. Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah A Umar mengatakan bahwa sebagian besar siswa yang lulus seleksi berasal dari keluarga kurang mampu secara ekonomi.

Menurutnya, hal ini menjadi bagian keberpihakan Kemenag dalam perluasan akses pendidikan masyarakat kurang mampu. Dus, dalam rangka mensukseskan program pemerintah untuk mengurangi kemiskinan.

“Hampir dapat dipastikan, terdapat 60% siswa madrasah unggulan yang tersebar di seluruh Indonesia berasal dari keluarga yang secara ekonomi kurang mampu. Mereka sebelumnya belajar di madrasah-madrasah pedesaan atau  pondok-pondok pesantren kecil di seluruh wilayah Indonesia,” tegas Umar di Jakarta, Sabtu (07/03).

Umar mengatakan, data 60% ini sudah diketahui karena pihaknya telah menggelar Rapat Penetapan SNPDB madrasah unggulan pada 4 Maret lalu. Rapat membahas hasil seleksi Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia (MAN IC), Madrasah Aliyah Program Keagamaan (MAPK), dan Madrasah Aliyah Kejuruan Negeri (MAKN). Hasilnya diumumkan sejak dini hari tadi.

“Ini sudah kami desain. Kontribusi madrasah dalam mempercepat pengentasan kemiskinan melalui jalur pendidikan, tidak akan mengurangi mutu prestasi madrasah, bahkan sebaliknya InsyaAllah justru akan melejitkan prestasi madrasah tersebut,” sambungnya.

Dikatakan Umar, ada instrumen khusus yang digunakan untuk menjaring siswa-siswa kurang mampu tapiberkemauan tinggi belajar dan memiliki daya juang maksimal untuk mengubah nasibnya melalui belajar di madrasah. Kalau selama ini siswa-siswa kurang mampu tampak rendah kompetensi akademiknya, itu bukan karena mereka tidak mampu. Namun, kesempatan belum berpihak kepada mereka untuk menikmati fasilitas pendidikan yang baik dalam mengukir kompetensi akademiknya.

“Dalam ruang rumpang dan senyap inilah, kami Kementerian Agama, melalui madrasah-madrasah terbaiknya sebagai kepanjangan tangan negara untuk hadir memberikan kesempatan belajar terbaik kepada mereka semua. Sehingga, akhirnya mereka berkesempatan mengubah nasibnya dalam rangka mendukung terwujudnya Indonesia berdaulat, maju, adil dan makmur sesuai visi Indonesia 2045,” ungkap Umar.

Sistem penjaringan baru ini didukung oleh beberapa tenaga ahli psikologi, psikometri, pedidikan, IT dari berbagai unsur, baik praktisi pendidikan, penentu kebijakan, dan dosen dari beberapa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri di Indonesia. Secara umum teknik yang digunakan untuk mewujudkan sistem seleksi ini adalah berusaha mengukur verbal ability, numerical ability, reasoning ability, dan spacial ability dengan mempertimbangkan aspek extraversion, agreeableness, conscientiousness, emotional stability, serta openness.

“Semoga ikhtiar ini benar-benar dapat mewujudkan tagline Madrasah Hebat Bermartabat,” tutup Ahmad Umar.