Penyatuan kalender Hijriyah di Indonesia terus diupayakan oleh Kementrian Agama (Kemenag) bersama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Seusai Ramadhan, MUI akan menggelar forum kajian ilmiah intensif untuk bahas hal tersebut.

Hal ini disampaikan oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin kepada media usai sidang isbat 1 Syawal 1440 H di Kantor Kementerian Agama, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Senin (03/06/2019).

Menurut Menag, rencana ini telah disepakati Kemenag dan MUI pada pertemuan pendahuluan yang telah berlangsung pada 21 Mei 2019 lalu.

“Benar di bulan Ramadan dua minggu yang lalu saya telah berkunjung ke Majelis Ulama Indonesia untuk bagaimana setelah Ramadan ini kita dapat melaksanakan pertemuan intensif tentang penyatuan kalender hijriyah,” ungkap Menag, Senin.

Dalam forum kajian ilmiah yang akan digelar oleh MUI tersebut, akan dihadiri para ahli ilmu falak dan astronomi.

“Kemudian diperluas oleh (kehadiran) seluruh wakil-wakil ormas islam sehingga harapannya kita bisa memiliki kalender hijriyah yang disepakati untuk menetapkan setiap kita memerlukan kesepakatan bersama untuk menetapkan 1 Ramadan, Syawal dan Dzulhijjah,” sambungnya.

Menag mengatakan bahwa wacana penyatuan kalender hijriyah ini telah sejak lama dibicarakan. Tidak hanya oleh kalangan ulama dan ahli falak di Indonesia, tetapi juga di Kementerian Agama sebagai pihak pemerintah.

“Kami di Kementerian Agama sendiri sudah berusaha sejak beberapa tahun yang lalu, dalam berbagai macam pertemuan sudah sering kita lakukan agar kita bisa menyepakati kriteria yang disepakati bersama sehingga kita memiliki acuan bersama,” kata Menag.

Sementara itu, Ketua Komisi VIII DPR Ali Taher yang turut hadir dalam Sidang Isbat 1 Syawal 1440 H mendukung rencana penyatuan kalender hijriyah di Indonesia.

“DPR terus mendorong pemerintah untuk terus mengkaji dan melakukan ijtihad untuk membuat kalender bersama. Ini menjadi agenda yang terus menerus kita lakukan karena kita berharap yang akan datang tidak ada lagi perbedaan. Yang ada adalah persamaan-persamaan untuk membangun bangsa yang kita cintai ini,” kata Ali Taher.