Pertumbuhan industri manufaktur memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja lokal. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat sektor industri kecil dan menengah (IKM) menyerap paling banyak tenaga kerja, yakni 60 persen.

“Sektor IKM telah menyerap tenaga kerja sebanyak 11,68 juta orang atau sebesar 60 persen dari total pekerja di sektor industri,” kata Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih di Jakarta, Senin (08/07/2019).

Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), serapan tenaga kerja di sektor industri mengalami peningkatan, dari angka 15,53 juta pada tahun 2015 menjadi 17,9 juta pada tahun 2018, atau naik 17,4 persen.

Peningkatan ini tidak lepas dari meningkatnya investasi di sektor industri manufaktur. Pada tahun 2014 sebesar Rp199,1 triliun, naik menjadi Rp222,3 triliun di tahun 2018.

Peningkatan investasi tersebut, di sektor industri kecil mengalami penambahan, dari tahun 2014 sebanyak 3,52 juta unit usaha menjadi 4,49 juta unit usaha di tahun 2017. Artinya, tumbuh hingga 970 ribu industri kecil selama empat tahun tersebut.

Gati mengemukakan, IKM merupakan sektor mayoritas atau yang mendominasi dari jumlah populasi industri manufaktur di Indonesia.

Kontribusinya hingga 99 persen dari semua unit bisnis di sektor industri.

“Dengan kontribusi tersebut, IKM memiliki peran cukup dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, stabilitas sosial, dan pengembangan sektor swasta yang dinamis,” ungkapnya.

Apalagi, IKM dinilai sebagai sektor yang tangguh dalam menjalankan usahanya di tengah kondisi perekonomian global yang kurang stabil.

Gati pun optimistis, investasi sektor industri di Tanah Air akan semakin menggeliat karena komitmen pemerintah yang terus menciptakan iklim usaha yang kondusif.

Misalnya, kebijakan kemudahan izin usaha serta memberikan insentif fiskal dan nonfiskal. (*)