Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama Kufpec Indonesia (Anambas) B.V. menandatangani kontrak kerja sama bagi hasil Gross Split untuk Wilayah Kerja (WK) Anambas, Senin (10/06/2019).

Penandatanganan kontrak kerja sama ini dilakukan oleh Kepala Satuan Kerja Khusus (SKK) Migas Dwi Soetjipto dan perwakilan Kufpec Indonesia (Anambas) B.V. selaku kontraktor dengan disaksikan Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar.

Kontrak kerja sama bagi hasil Gross Split WK Anambas ini berlaku dalam jangka waktu 30 tahun.

Dalam kontrak bagi hasil itu,Kufpec Indonesia (Anambas) B.V. berkomitmen passti eksplorasi 3 tahun pertama dengan disertai lisensi purchase dan reprocessing data 3D 600 km2.

Kemudian nilai investasi satu sumur eksplorasi senilai US$ 35.200.000 dan bonus tanda tangan sebesar US$ 2.500.000.

WK Anambas berlokasi di lautan Kepulauan Riau, merupakan wilayah yang dilelang oleh Pemerintah melalui Lelang Reguler Tahap I Tahun 2019 periode Februari – April 2019 dan telah diumumkan pemenangnya pada tanggal 7 Mei 2019.

Sebagaimana diketahui, hingga saat ini terdapat 42 blok migas yang menggunakan skema gross split, dengan rincian blok hasil lelang sebanyak 16 blok, terminasi 21 blok dan amandemen sebanyak 5 blok.

Merujuk pada Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2017 yang mengatur Perlakuan Perpajakan Pada Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi dengan Kontrak Bagi Hasil Gross Split, maka kontraktor akan mendapatkan insentif pajak tidak langsung antara lain dibebaskan dari pemungutan bea masuk, pajak dalam rangka impor (PDRI), pajak pertambahan nilai (PPN), dan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) atas bahan-bahan, barang dan peralatan yang yang diimpor dalam rangka Operasi Minyak dan Gas Bumi, serta mendapat pengurangan pajak bumi dan bangunan (PBB) sebesar 100% (seratus persen) sampai dengan dimulainya produksi komersial.

Selain insentif tersebut di atas, mengingat resiko dan modal investasi ditanggung oleh kontraktor, maka dalam hal penghasilan setelah pengurangan biaya operasi masih terdapat kerugian, kerugian tersebut dapat dikompensasikan dengan penghasilan mulai tahun pajak berikutnya berturut-turut sampai dengan 10 tahun.

Melalui Kontrak Bagi Hasil Gross Split ini, sesuai Peraturan Menteri ESDM No 52 Tahun 2017 yang merupakan revisi Peraturan Menteri ESDM No.8 Tahun 2017, apabila diperlukan, menteri dapat memberikan tambahan split untuk membantu komersialisasi wilayah kerja pada saat POD untuk suatu tingkat keekonomian tertentu. (*)