Penyelesaian proyek pembangkit listrik 35.000 megawat (MW) diprediksi mundur hingga 2028. Hal ini dikarenakan pertumbuhan ekonomi dan konsumsi listrik Indonesia.

Pernyataan ini disampaikan oleh Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Jisman Hutajulu, Rabu (03/07/2019).

Jisman mengatakan, pertumbuhan konsumsi listrik tidak setinggi proyeksi awal, dan itu berdampak pada penyelesaian pembangunan beberapa pembangkit.

“Ada pergeseran dan sebagian COD [commercial operation date] 35 gigawatt [GW] itu bisa di 2028. Disesuaikan dengan pertumbuhan sistem setempat. Sementara itu, sampai dengan 15 Juni 2019, proyek yang telah COD baru sekitar 3.617 MW atau 10% saja. Mayoritas masih berada dalam tahap konstruksi sebesar 20.119 MW atau 57%,” kata Jisman.

Meskipun begitu, Jisman menilai hal tersebut bukan berarti proyek 35.000 MW bermasalah.

Pasalnya, total proyek yang telah menyelesaikan perjanjian jual beli tenaga listrik (power purchase agreement/PPA) sudah mencapai 33.251 MW atau 93,83%. Hanya tersisa 2.187 MW yang belum meneken PPA.

“Tinggal sedikit yang belum PPA. Dari situ kelihatan 35 GW ini tidak ada permasalahan. Hanya COD-nya saja yang disesuaikan,” ujar Jisman.

Hingga 15 Juni 2019, proyek yang selesai dan beroperasi mencapai 16.483 kilometer sirkuit (kms) atau 35%.

Sebanyak 17.440 kms atau 37% tengah berada dalam tahap penyelesaian dan sisanya 13.620 kms atau 28% masih dalam tahap prakonstruksi.

Untuk gardu induk, yang telah selesai dan beroperasi sebesar 61.223 megavolt ampere (MVA) atau 54%, sementara 26.291 MVA atau 23% dalam proses penyelesaian, dan sisanya 25.990 MVA atau 23% masih dalam tahap prakonstruksi. (*)