Pandemi COVID-19 yang menyebar hampir di seluruh dunia telah memukul sektor perekonomian Indonesia. Salah sektor yang terdampak adalah Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), di mana omzet usaha mengalami penurunan yang drastis.

Melihat hal tersebut, Basir Basri MR, SE, M.Ak, C.bc (Ketua Inkubator Bisnis dan Pengembangan Kewirausahaan Unismuh Makassar) mengatakan bahwa pemerintah harus memberikan perhatian lebih terhadap UMKM dibandingkan harus fokus ke bidang infrastruktur, karena saat ini sudah banyak terjadi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

“Hal tersebut terjadi karena ketidakmampuan perusahaan (UMKM) di tengah Inflasi, sehingga tidak mampu dalam menggaji karyawan dan itu penyebab terjadinya PHK besar-besaran saat ini,” tutur Basri dalam dialog virtual yang diselenggarakan oleh Klik TV dengan tema Penguatan Sektor UMKM di Tengah Pandemi COVID-19, Kamis, (07/05/2020).

Ia menambahkan, masyarakat yang memiliki usaha UMKM, dianggap sebagai pencipta lapangan kerja, karena dianggap mampu untuk memutus rantai pengangguran yang ada di Indonesia dan saat ini, infrastruktur tidak memberikan lapangan kerja yang memadai.

“Pemerintah harus memberikan perhatiannya kepada UMKM, karena 97% lapangan pekerjaan dan 60% ekonomi Indonesia ditopang oleh UMKM ,” kata Basri.

Basri mengingatkan bahwa jika COVID-19 ini masuk sampai bulan Juli, maka negara menuju jurang guncangan ekonomi yang sangat luar biasa, maka ekononi negara Indonesia akan -4%.

Tambah Basri, Mengutip statement Sri Mulyani, Menteri Keuangan RI, jika Covid-19 ini masuk sampai bulan July, maka negara menuju jurang guncangan ekonomi yang sangat luar biasa, maka ekononi negara Indonesia akan -4%.

“Saya sepakat dengan Bu Yani jika pandemi ini tidak kelar sampai bulan Juli, maka ekonomi kita turun -4%, dan itu sangat berbahaya,” kata Basri.

Basri menilai UMKM bisa lolos dari krisis jika ada bantuan dana insentif dan akses pemodalan yang mudah.

“Pemerintah dari pusat hingga daerah harus mampu berkoordinasi untuk menumbuhkan perekonomian,” tutup Basri.