ASN Kementerian Agama harus mampu menjadi “Adem Sari” bagi kondisi masyarakat saat ini yang mudah sekali “digoreng” dengan isu-isu framing dan hoax.

Hal ini disampaikan oleh Sekretaris Jenderal, M. Nurkholis Setiawan, dalam Halaqoh Pengembangan Pendidikan Islam (HAPPI) 2019 di Jakarta 10/03/2019.

Kegiatan tersebut berlangsung 10-12 maret 2019, diikuti oleh pejabat Ditjen Pendis, Kepala Kantor Kementerian Agama Kab/Kota dan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) seluruh Indonesia.

Hadir dalam acara tersebut Menteri Agama, Lukman Hakim Saifudin sekaligus membuka acara.

Dalam pidatonya, Menteri Agama menyampsikan tentang pentingnya perilaku dan akhlak sebagai esensi pendidikan Islam.

“Pendidikan Islam tidak sekedar bertukar atau saling transfer ilmu. Agama bukan pengetahuan saja, bukan hanya untuk didiskusikan, apalagi diperdebatkan. Pengamalan jauh lebih penting, karena itulah esensi dari pendidikan Islam, yaitu perilaku dan akhlak”. Kata Lukman Hakim.

Pada kesempatan yang sama Dirjen Pendidikan Islam, Kamaruddin Amin, menyampaikan pesan bahwa agama bukan sekedar membentuk individu yang soleh secara personal, tapi lebih dari itu.

“Moderasi beragama berarti mengajarkan agama bukan hanya untuk membentuk individu yang sholeh secara personal, tapi juga mampu menjadikan paham agamanya sebagai instrumen untuk menghargai umat agama lain” kata Dirjen Pendidikan Islam, Kamaruddin amin.

Disampaikan
#HAPPI2019
#DitjenPendis
#KementerianAgama