Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengatakan bahwa makna kebangkitan nasional dalam konteks saat ini adalah bangkit dari ketertinggalan, bangkit dari rasa malas, bangkit dari rasa pesimisme, dan bangkit untuk tetap bersatu.

“Sehingga dengan demikian kebangkitan itu harus dimaknai apa yang akan kita lakukan untuk memperkuat bangsa ini ke depan. Itu yang paling utama,” tegas Seskab di ruang kerjanya Gedung III Kemensetneg, Jakarta, Senin (20/05/2019) pagi

Menurut Seskab, Indonesia beruntung ketika berdiri sudah mempunyai ideologi, mempunyai Undang-Undang Dasar 1945 mengenai bentuk negara.

“Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) inilah warisan yang diberikan oleh para pendiri bangsa kepada kita,” kata Seskab.

Mengenai pengajaran sejarah pembentukan bangsa, nilai-nilai patriotisme dan cinta Tanah Air, Seskab menegaskan, nasionalisme harus ditanamkan sejak usia dini, sejak anak mulai bisa membaca menulis bahwa Indonesia adalah negara yang beragam.

Indonesia adalah negara multi etnik, terdiri dari 17.000 pulau, sehingga meskipun berbeda dari warna kulit, bahasa, tetapi bangsa ini dipersatukan dalam bahasa yang sama.

Maka dengan demikian, lanjut Seskab, sejak usia dini, kalau perlu sejak taman kanak-kanak harus diajarkan untuk mencintai Indonesia yang beragam ini.

“Itulah keindonesiaan kita dalam konteks hari ini dan tentunya untuk konteks kedepan dan masa mendatang,” tegas Seskab.

Untuk generasi muda, Seskab mengatakan bahwa cinta tanah air harus dibuktikan dengan hal-hal kongkret dan pasti.

Anak muda, menurut Seskab, harus hidup lebih efisien dan produktif, harus mempunyai cita-cita setinggi langit, harus melakukan sesuatu yang bermanfaat bukan hanya pada dirinya, tetapi juga pada yang lain, terutama kepada bangsa dan negaranya.

Karena tantangan anak muda pada hari ini berbeda dengan tantangan anak muda pada zaman para pendiri bangsa.

“Sehingga patriotisme apa yang perlu direfleksikan adalah, kalau mereka bisa menjadi dan merawat keindonesiaan dan menjadi bangsa pemenang itu adalah patriotisme model baru, zaman baru, tantangan baru,” tutur Seskab. (*)