Koordinator Bidang Kemaritiman (Kemenko Maritim) memastikan program Bahan Bakar Minyak (BBM) Satu harga masih terus berlanjut di 2019.

Hal ini disampaikan oleh Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Alam Agung Kuswandono Rapat Koordinasi Evaluasi Pelaksanaan Program BBM Satu harga Tahun 2018 dan Rencana Pelaksanaan Tahun 2019 di Tangerang, Senin (06/05/2019).

“Negara kita sangat luas, kepulauan yang disatukan oleh laut, jadi salah satu cara mewujudkan keadilan sosial untuk masyarakat yang tinggal di daerah tertinggal, terdepan dan terluar adalah melalui BBM satu harga. Program lainnya yang sudah berjalan ada program lampu tenaga surya hemat energi (LTSHE),” kata Agung.

Menurut Agung, harga BBM yang tidak merata ini disebabkan oleh wilayah yang belum memiliki lembaga penyalur khusus, infrastruktur jalan yang tidak memadai untuk pengiriman BBM dan belum ekonomis untuk dibangun penyalur karena volume yang kecil.

Pada tahun 2018, dari target 67 penyalur, Pertamina berhasil mengoperasionalkan 70 penyalur. Ditargetkan pada akhir 2019 total 160 titik penyaluran BBM satu harga untuk Kawasan 3T akan beroperasi

Mewujudkan BBM Satu harga, tidak mudah. Moda transportasi BBM ke penyalur yang ekstrim, kendala cuaca dan geografis juga kendala keamanan.

“Tempatnya terpencil, transport membutuhkan biaya tidak murah. Pemerintah harus melakukan terobosan. Jalur dibuka, suplai memadai, dan diperlukan subsidi. Saya yakin daerah yang membutuhkan sangat banyak,” jelas Agung

Deputi Agung menambahkan pemerintah juga membutuhkan data untuk membangun infrastruktur agar tepat sasaran dan program BBM Satu harga terus berjalan.

“Nah, dengan data yang tepat Kita bisa lihat kekurangannya dimana, lalu kita perbaiki. BBM satu harga harus berlanjut, tapi infrastruktur jalan juga harus diperbaiki agar daerah-daerah ini tidak lagi terpencil terisolir, kalau daerahnya sudah terbuka, penyaluran BBM tentu akan lebih mudah dan subsidi transportasi dapat berkurang,” tegasnya.