Memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2020, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) PLC Politeknik Negeri Medan (POLMED) mengadakan workshop internasional bekerjasama dengan Politeknik Port Dickson, Malaysia. Kegiatan ini dilaksanakan secara daring akibat pandemi Covid-19.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua UKM PLC POLMED Herri Trisna Frianto, S.T.,M.T dalam acara talkshow memperingati Hardiknas 2020 yang diadakan UKM PLC POLMED bekerjasama dengan Politeknik Port Dickson, Malaysia, dan Klik TV dengan tema “Kompentensi Mahasiswa di Tengah Pandemi”, Kamis (07/05/2020).

Selain Herri, hadir sebagai narasumber adalah Dr. H Isham Shah Hassan (Head of Center of Technology for Politeknik Port Dickson) dengan dipandu oleh Pimpinan Klik TV Mheky Polanda.

Herri menyampaikan bahwa POLMED telah membuat kebijakan meliburkan proses pembelajaran lebih cepat dari jadwal seharusnya akibat pandemi Covid-19.

Dari situ, tercetuslah ide memanfaatkan proses pembelajaran daring dengan melaksanakan workshop internasional sebagai persiapan menghadapi uji kompetensi BNSP yang akan dilaksanakan pada bulan Juli.

“Di situasi seperti ini tercetuslah ide saya untuk mengadakan pendidikan pelatihan atau workshop untuk memperingati Hardiknasi bekerjasama dengan pak Isham dari Politeknik Port Dickson,” terang Herri.

Dalam workshop tersebut, dosen atau pemateri menyiapkan bahan-bahan berbentuk e-book atau video yang dikirimkan kepada mahasiswa. Interaksi dilaksanakan secara langsung melalui aplikasi Teamlink.

“Suasana belajarnya adalah dosen atau pemateri langsung memperagakan dengan alat, atau menggunakan software,” kata Herry.

Herry berharap dengan adanya workshop tersebut, para mahasiswa tidak gamang lagi ketika perkuliahan berjalan normal kembali. Diharapkan mereka telah siap, terlebih dalam menghadapi uji kompetensi.

Selanjutnya, Herri mengungkapkan sisi positif dari proses pembelajaran daring. Menurutnya, hal tersebut telah memudahkan interaksi antara dosen dengan mahasiswa.

Herri mengatakan proses pembelajaran daring bisa dilaksanakan di mana saja, bahkan melampaui batas-batas negara.

Meski begitu, Herri mengakui bahwa proses pembelajaran secara daring masih meninggalkan beberapa masalah, diantaranya adalah jaringan internet. Tidak semua mahasiswa mampu mendapatkan jaringan internet dengan baik karena tempat tinggal mereka di pelosok.

“Kemudian masalah lain adalah keterbatasan fasilitas. Banyak dosen yang hanya menggunakan handphone sebagai alat dalam proses pembelajaran daring,” ungkap Herri.

Sementara itu Isham menyampaikan proses pembelajaran daring di Malaysia di tengah pandemic Covid-19. Ia mengatakan bahwa proses pembelajaran daring di Malaysia bukanlah hal yang baru, bahkan Politeknik Port Dickson sudah memiliki sistem tersendiri.

“Adanya Covid-19 menguji kesiapan perguruan tinggi dalam melaksanakan proses pembelajaran secara daring,” kata Isham.

Isham menilai positif pembelajaran melalui daring. Menurutnya mahasiswa lebih bebas dan berani dalam menyampaikan pertanyaan. Hal itu berbeda ketika mahasiswa berada dalam ruang kelas.

Isham melanjutkan bahwa proses pembelajaran yang dilakukan secara daring tidak berarti membuat mahasiswa berjarak, malah menjadi lebih dekat.

“Sebaliknya pembelajaran yang dilakukan di kelas, meskipun secara fisik dekat, belum tentu hatinya dekat,” kata Isham.

“Pembelajaran secara daring telah membantu mahasiswa dan dosen yang berjauhan jarak. Meleburkan jarak antara Indonesia dan Malaysia,” demikian Isham. (*)