Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Rajamandala siap memasok listrik Jawa-Bali melalui transmisi 150 kV Cianjur-Cigereleng. PLTA ini diperbolehkan beroperasi setelah mendapatkan Sertifikat Laik Operasi (SLO) Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan (DJK) Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada Sabtu (11/05/2019).

“Dengan siap beroperasinya PLTA Rajamandala ini, selain dapat meningkatkan kehandalan sistem kelistrikan setempat juga akan meningkatkan porsi EBT dalam bauran energi pembangkit tenaga listrik,” kata Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi di Bandung, Jumat (17/05/2019).

Sesuai Undang-undang Nomor 30 Tahun 2009, setiap instalasi tenaga listrik harus memiliki sertifikat laik operasi (SLO).

Dengan adanya SLO ini, instalasi ketenagalistrikan tersebut sudah dapat dioperasikan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Kepastian terbitnya SLO diperoleh usai melewati serangkaian test yakni NDC (Nett Dependable Capacity) Test dan RR (Reliability Run) Test selama 3×24 jam dari rangkaian Commissioning Test.

Rangkaian tes tersebut bertujuan untuk menguji kehandalan dan kapasitas maksimum pembangkit listrik sebelum beroperasi secara komersial.

“Berdasarkan hasil test tersebut, PLTA Rajamandala telah mendapatkan Sertifikat Laik Operasi (SLO) dan siap memasok listrik untuk PLN,” ungkap Direktur Utama Indonesia Power Sripeni Inten Cahyani dalam keterang tertulis, Jumat (17/05/2019)

Pembangunan pembangkit yang memiliki kapasitas 47 megawatt (MW) ini memakan dana investasi sebesar US$ 150 juta.

Pembangunan proyek ini merupakan kerja sama yang dikerjakan oleh anak usaha PLN yakni PT Indonesia Power dengan The Kansai Electric Power Co. Inc.

Pembangkit energi terbarukan ini memanfaatkan aliran sungai Citarum yang merupakan keluaran dari PLTA Saguling dengan menggunakan turbin Francis Vertical Kaplan.

PLTA ini tidak memerlukan pembangunan waduk atau bisa disebut dengan kategori PLTA run-of-river. Listriknya dihasilkan dengan memanfaatkan debit air 168 meter kubik dan ketinggian jatuh air (gross head) 34 meter.

Sripeni menambahkan, dengan pengoperasian PLTA Rajamandala, dapat menambah jumlah pembangkit listrik yang menggunakan energi baru dan terbarukan.

“Satu lagi program pengembangan pembangkit EBT telah selesai pembangunannya. Harapannya dengan ini kami bisa terus mendukung target 23% bauran energi (energy mix) dari program PLN,” pungkasnya. (*)