Sebuah laporan dirilis oleh lembaga konsultan di Australia pada Jumat (25/09/2020) yang menyebutkan otoritas China telah menghancurkan ribuan masjid di Xinjiang.

Selain itu, jutaan Muslim Uighur dikabarkan juga ditahan pada sebuah kamp, dipaksa menghentikan kegiatan tradisional dan keagamaan.

Menanggapi hal itu, Kementerian Agama meminta otoritas China memberikan penjelasan terkait dengan laporan tersebut.

“Kami mencermati perkembangan berita itu. Ada berita bahwa ribuan masjid di wilayah Xinjiang, di Uighur dirobohkan. Kami mencermati perkembangannya dan ada juga informasi bantahan dari otoritas setempat,” kata Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi, di Jakarta, Senin (28/09/2020). 

“Namun demikian, kami meminta otoritas setempat  dalam hal ini Pemerintah China untuk memberikan kejelasan apa yang terjadi. Sehingga dapat menjawab pertanyaan umat muslim di dunia tentang apa yang sesungguhnya terjadi,” lanjut Wamenag.

Menurut Wamenag, pihaknya juga akan berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri RI untuk mendiskusikan informasi tersebut, sekaligus menyampaikan kepedulian Muslim Indonesia kepada masyarakat Uighur.

“Karena ini menyangkut dengan hubungan diplomatik,” tutur Wamenag. 

Jika memang ada persoalan yang terkait dengan kehidupan beragama di sana, Wamenag menggarisbawahi tentang pentingnya kebebasan dalam beragama.

“Kami di Kementerian Agama berpandangan bahwa kebebasan beragama adalah hak asasi manusia yang harus dilindungi, dijaga, dan dihormati,” kata Wamenag menegaskan. (*)