Ridwan Hisjam, Anggota Komisi VII DPR RI, berpesan kepada generasi bangsa agar siap menghadapi perkembangan teknologi khususnya dibidang transportasi.

“Sudah waktunya bagi generasi bangsa untuk berkembang dan mengimplementasikan karyanya. Tidak hanya berhenti di perlombaan-perlombaan, namun perlu langkah-langkah lebih jauh agar manfaat guna hasil penelitian di kampus dapat diimplementasikan,” terang Wakil Ketua Komisi VII DPR RI tersebut.

Ridwan Hisjam, menjadi keynote speaker dalam acara Round Table Discussion – Energi Bersih yang diselenggarakan oleh Center for Energy Innovation Technology Studies (Cenits) di Surabaya pagi ini, Sabtu (10/08/2019).

Ridwan Hisjam membandingkan antara Indonesia dengan luar negeri. Khususnya saat dia berkunjung ke beberapa negara maju yang telah menggunakan konsep zero carbon.

Di negara maju, transportasi tertata dengan konsep modern. Mobil listrik dan mobil yang dapat berjalan sendiri tanpa dikendarai.

Beberapa minggu yang lalu komisi VII berkunjung ke Dhubai, ia mencontohkan bagimana transportasi di Dubai.

Transportasi Dubai ke Abu Dhabi sudah menggunakan transportasi yang baik. “Bahkan sedang dibangun transportasi dari Dubai ke Abu dhabi dengan hyperloop.

Jika biasanya Abu Dhabi ke Dubai dengan bus atau mobil memerlukan waktu 2,5 jam, dengan hyperloop hanya 20 menit. “Dan itu menjelaskan transportasi di masa mendatang lebih aman dan ramah lingkungan”. Jelas Ridwan Hisjam.

“Saatnya Indonesia mampu menciptakan teknologi sepertu itu,” imbuhnya.

Diakuinya, beberapa kota di Indonesia sudah mulai menggunakan bahan bakar gas untuk transportasi atau dikenal Bus Rapid Transportation (BRT).

“Namun di surabaya, belum diimplementasikan BRT. Apalagi menurut prediksi ahli migas, dalam beberapa tahun ke depan dunia akan kebanjiran sumber daya gas. Transportasi lainnya yang saat ini menarik perhatian adalah kendaraan listrik,” katanya.

“Yang perlu menjadi catatan dalam kendaraan listrik adalah teknologi penyimpanan (battery), kami berharap ada karya anak bangsa ini yang dapat dimanfaatkan, karena kita kaya akan sumber daya mineral sebagai bahan baku dalam industri battery,” lanjut Ridwan.

Untuk itu perlu adanya dukungan dari semua pihak dalam upaya mengembangkan teknologi transportasi, “Peran itu tentu memerlukan dukungan dari pelaku usaha atau industri, sehingga kegiatan semacam ini sangat perlu guna lebih mendekatkan hasil inovasi mahasiswa di kampus dapat dikenal lebih luas lagi,” tutup pria yang akrab disapa Mas Tatok tersebut.