Satgas COVID-19: Pandemi COVID-19 Belum Berakhir

Satuan Tugas Penanganan COVID-19 mengingatkan kepada masyarakat bahwa pandemi COVID-19 di Indonesia belum berakhir.

Pemerintah terus berupaya untuk mengendalikan COVID-19 meski tren kasus positif di Indonesia sudah melandai demi mengantisipasi potensi gelombang ketiga.

“Beberapa kalangan masyarakat berpikir bahwa pandemi sudah berakhir, padahal belum. Di dunia ini, sekarang ada yang sedang berhadapan dengan gelombang 4, gelombang 5, ditunjukkan dengan peningkatan kasus harian secara drastis. Ini membuktikan dunia belum selesai dari pandemi,” kata Ketua Bidang Perubahan Perilaku Sonny Harry B dalam diskusi daring, Senin (22/11/2021).

Oleh karena itu, menurut Sonny, sangat memungkinkan jika Indonesia akan mengalami kenaikan kasus positif COVID-19.

Dia mengatakan, libur panjang seperti Idul Fitri serta libur natal dan tahun baru menjadi tantangan besar dalam mengendalikan COVID-19 di Indonesia.

Pasalnya setelah libur natal dan tahun baru 2020, terjadi kenaikan kasus COVID-19 sebanyak 37-78 persen. Kemudian setelah Idul Fitri 2021, lonjakan kasus terjadi sangat dratis yaitu sebanyak 104,34-473,16 persen.

“Kita belajar bahwa sehabis libur panjang ada potensi lonjakan kasus karena mobilitas meningkat tidak hanya di dalam negara tapi juga dari negara lain,” ujar Sonny.

Adapun langkah-langkah yang dilakukan pemerintah untuk mengantisipasi potensi gelombang ketiga COVID-19 antara lain melarang cuti atau libur bagi ASN, TNI, Polri, dan karyawan BUMN maupun swasta selama libur akhir tahun dengan menghapus cuti bersama pada 24 Desember 2021.

Kemudian, lanjut Sonny, pemerintah juga melakukan pembatasan pergerakan masyarakat, pengetatan penerapan protokol kesehatan pada kegiatan masyarakat di seluruh fasilitas publik, dan pengawasan penerapan kebijakan pendengandalian sampai ke tingkat komunitas serta pendisiplinan di lapangan secara langsung.

Selain itu, pemerintah juga akan terus berupaya meningkatan testing dan tracing serta menggencarkan vaksinasi.

“Kalau sampai ada yang longgar, misalnya testing diturunkan, cakupan vaksinasi melambat, atau melemahnya protokol kesehatan, hal itu bisa menyebabkan lonjakan kasus,” ujar Sonny.

“Oleh karenanya, peran dan partisipasi masyarakat amat sangat penting di mana protokol kesehatan terus tetap dilaksanakan secara sadar. Masyarakat juga berpartisipasi dalam testing, tracing, dan program vaksinasi,” tambahnya. (*)