Berawal dari kepentingan perdagangan dan kebutuhan pekerja Belanda, Kota Sibolga menjadi kota dihuni oleh ragam etnis dan budaya. Bukan hanya Batak yang datang ke Sibolga ada Cina, Jawa, Arab dimana dimasa itu di bawa Belanda.
Sibolga sendiri menurut kisahnya sebelum kedatangan Belanda sudah berpenghuni, daerah ini didiami Etnis Pesisir yang merupakan imigran dari Minangkabau pada sekitar abad ke-14. Pada abad ke-19 Belanda datang ke daerah ini dan mendirikan Bandar di pulau Poncan, pulau yang tidak terlalu jauh dari daratan Sibolga saat ini.
Awalnya Sibolga hanya dijadikan tempat untuk bongkar muat logistik pemerintah Belanda, namun karena adanya serangan dan sulitnya mempertahankan Poncan, Pemerintah Belanda memilih salah satu daratan yang cukup terlindungi dan sulit di serang, dia adalah Sibolga yang kita ketahui saat ini.
Bukan hanya itu, Poncan juga dianggap terlalu kecil dan sulit menjadi pelabuhan besar, sehingga akhirnya Belanda memutuskan untuk pindah ke daratan Sibolga saat ini. Inilah sejarah Sibolga menurut versi budayawan Sibolga Syafriwal Marbun. Menurut Syafriwal Marbun, Belanda merasa Sibolga posisi yang pas untuk dijadikan pelabuhan dengan pertahanan yang baik.
Pelabuhan Kota Sibolga
Pelabuhan Kota Sibolga
Kota Sibolga berada di teluk dan dikelilingi tebing tinggi, sulit untuk mengaksesnya dari daratan karena pada saat itu jalan belum terbangun dan Sibolga juga dikelilingi hutan yang lebat. Kondisi ini menjadi pertahanan yang bagus karena Belanda fokus pada angkutan laut pada saat itu.

Tidak hanya ke Pantai Barat Sumatera Utara, sebagian dari Etnis Pesisir juga menyebar ke Singkil, Tapak Tuan dan Blang Pidie Bukan hanya karena Etnis Pesisir, tetapi juga ada Etnis Tionghoa, Melayu, Batak dan lainnya.

Ketika Belanda memimpin daerah ini, mereka memproduksi garam dengan skala yang besar – sebelumnya Sibolga memang sudah memproduksi garam.

Ini semakin menarik perhatian etnis lain di daratan Sumatera Utara termasuk Etnis Batak dari Danau Toba. Belanda juga membawa Etnis lain ke Sibolga untuk menjadi pekerja mereka sehingga ada asimilasi budaya yang kuat terjadi di Sibolga dan berlangsung beratus-ratus tahun.
Walau begitu, akar Minagkabau Etnis Pesisir memang tidak bisa lepas, bahasa Pesisir yang dikenal dengan beko-beko didominasi bahasa Minangkabau dengan sedikit tambahan bahasa Batak Toba.

Adat istiadat Etnis Pesisir asli juga hampir tidak ada kaitannya dengan Batak. Etnis Pesisir memegang teguh Syariat Islam sehingga tidak sinkron dengan budaya Batak yang pada saat itu masih menganut Animisme.

“Dilihat dari adat istiadatnya, etnis Pesisir sangat jauh dari Batak Toba. Etnis Pesisir sudah mengenal agama yaitu agama Islam sehingga peradaban di sini saat itu lebih maju. Memiliki pendidikan dan yang paling mereka cari adalah garam.

Danau Toba tidak bisa memproduksi garam, tanpa garam manusia akan kesulitan hidup. Dari sinilah terjadinya pertemuan Batak dengan Pesisir,” katanya.

Sejak saat itu mulailah suku Batak tertarik belajar tentang Islam di Sibolga, melunturkan adat-istiadat Bataknya dan mulai menjadi mualaf dan menikah dengan etnis pesisir.

Percampuran budaya kedua etnis ini semakin kuat, tetapi tetap budaya Minangkabau masih dipegang erat Etnis Pesisir karena mereka memegang teguh Syariat Islam.

Walau Etnis Pesisir memegang adat istiadat Minangkabau, mereka tidak menurunkan sistem kekeluargaan matrilineal, mereka memilih patrilineal yang sesuai dengan Syariat Islam. Karena banyaknya pernikahan antar Batak dan Pesisir kemudian menggunakan sistem kekerabatan patrilineal maka ada beberapa Marga Batak yang ada di Etnis Pesisir selain dari marga-marga Minangkabau.

Walau begitu, mirip seperti Karo, Angkola dan Mandiling tidak mau di sebut Batak, Etnis Pesisir asli tidak ingin mereka disebut Batak.

“Bagaimana kami etnis pesisir asli disebut Batak, budaya kami sangat jauh berbeda, kami lebih cenderung ke Minangkabau, Melayu, hampir tidak ada adat istiadat kami yang berbau Batak sebenarnya.

Dilihat dari sejarahnya juga Batak ke Sibolga, mereka pendatang dan terjadi asimilasi budaya. Bukan hanya Batak yang datang ke sini sebenarnya, ada Cina, Jawa, Arab yang di bawa Belanda ke sini. Jadi, kita tidak bisa mengatakan Batak Pesisir. Pesisir adalah Pesisir, etnis yang menghuni daratan di sebagian pantai barat Sumatera utara dari Padang hingga Aceh. Etnis ini terpisah hanya karena batas pemerintahan saat ini, dipisahkan karena provinsi.
Sebenarnya bagi saya etnis ini satu sebelum bercampur dengan suku yang ada di dekatnya.
Berikut Videonya, Klik Saja…!

Etnis Pesisir Sumatera Utara, Siapa Mereka?

Etnis Pesisir Sumatera Utara, Siapa Mereka?Sibolga pada awalnya bukan kota seperti yang kita lihat sekarang. Pada abad ke-19 Belanda datang ke daerah ini dan mendirikan Bandar di pulau Poncan, pulau yang tidak terlalu jauh dari daratan Sibolga saat ini. Awalnya dia hanya dijadikan tempat untuk bongkar muat logistik pemerintah Belanda, namun karena adanya serangan dan sulitnya mempertahankan Poncan, Pemerintah Belanda memilih salah satu daratan yang cukup terlindungi dan sulit di serang, dia adalah Sibolga yang kita ketahui saat ini. Bukan hanya itu, Poncan juga dianggap terlalu kecil dan sulit menjadi pelabuhan besar, sehingga akhirnya Belanda memutuskan untuk pindah ke daratan Sibolga saat ini. Ini sejarah menurut versi budayawan Syafriwal Marbun.Menurut Syafriwal Marbun, Belanda merasa Sibolga posisi yang pas untuk dijadikan pelabuhan dengan pertahanan yang baik. Kota ini berada di teluk dan dikelilingi tebing tinggi, sulit untuk mengaksesnya dari daratan karena pada saat itu jalan belum terbangun dan Sibolga juga dikelilingi hutan yang lebat. Kondisi ini menjadi pertahanan yang bagus karena Belanda fokus pada angkutan laut pada saat itu.Sibolga sendiri menurut kisahnya sebelum kedatangan Belanda sudah berpenghuni, daerah ini didiami Etnis Pesisir yang merupakan imigran dari Minangkabau pada sekitar abad ke-14. Tidak hanya ke Pantai Barat Sumatera Utara, sebagian dari Etnis Pesisir juga menyebar ke Singkil, Tapak Tuan dan Blang Pidie Bukan hanya karena Etnis Pesisir, tetapi juga ada Etnis Tionghoa, Melayu, Batak dan lainnya.Ketika Belanda memimpin daerah ini, mereka memproduksi garam dengan skala yang besar – sebelumnya Sibolga memang sudah memproduksi garam. Ini semakin menarik perhatian etnis lain di daratan Sumatera Utara termasuk Etnis Batak dari Danau Toba. Belanda juga membawa Etnis lain ke Sibolga untuk menjadi pekerja mereka sehingga ada asimilasi budaya yang kuat terjadi di Sibolga dan berlangsung beratus-ratus tahun. Walau begitu, akar Minagkabau Etnis Pesisir memang tidak bisa lepas, bahasa Pesisir yang dikenal dengan beko-beko didominasi bahasa Minangkabau dengan sedikit tambahan bahasa Batak Toba. Adat istiadat Etnis Pesisir asli juga hampir tidak ada kaitannya dengan Batak. Etnis Pesisir memegang teguh Syariat Islam sehingga tidak sinkron dengan budaya Batak yang pada saat itu masih menganut Animisme. “Dilihat dari adat istiadatnya, etnis Pesisir sangat jauh dari Batak Toba. Etnis Pesisir sudah mengenal agama yaitu agama Islam sehingga peradaban di sini saat itu lebih maju. Memiliki pendidikan dan yang paling mereka cari adalah garam. Danau Toba tidak bisa memproduksi garam, tanpa garam manusia akan kesulitan hidup. Dari sinilah terjadinya pertemuan Batak dengan Pesisir,” katanya.Sejak saat itu mulailah suku Batak tertarik belajar tentang Islam di Sibolga, melunturkan adat-istiadat Bataknya dan mulai menjadi mualaf dan menikah dengan etnis pesisir. Percampuran budaya kedua etnis ini semakin kuat, tetapi tetap budaya Minangkabau masih dipegang erat Etnis Pesisir karena mereka memegang teguh Syariat Islam. Walau Etnis Pesisir memegang adat istiadat Minangkabau, mereka tidak menurunkan sistem kekeluargaan matrilineal, mereka memilih patrilineal yang sesuai dengan Syariat Islam. Karena banyaknya pernikahan antar Batak dan Pesisir kemudian menggunakan sistem kekerabatan patrilineal maka ada beberapa Marga Batak yang ada di Etnis Pesisir selain dari marga-marga Minangkabau. Walau begitu, mirip seperti Karo, Angkola dan Mandiling tidak mau di sebut Batak, Etnis Pesisir asli tidak ingin mereka disebut Batak.“Bagaimana kami etnis pesisir asli disebut Batak, budaya kami sangat jauh berbeda, kami lebih cenderung ke Minangkabau, Melayu, hampir tidak ada adat istiadat kami yang berbau Batak sebenarnya. Dilihat dari sejarahnya juga Batak ke Sibolga, mereka pendatang dan terjadi asimilasi budaya. Bukan hanya Batak yang datang ke sini sebenarnya, ada Cina, Jawa, Arab yang di bawa Belanda ke sini. Jadi, kita tidak bisa mengatakan Batak Pesisir. Pesisir adalah Pesisir, etnis yang menghuni daratan di sebagian pantai barat Sumatera utara dari Padang hingga Aceh. Etnis ini terpisah hanya karena batas pemerintahan saat ini, dipisahkan karena provinsi. Sebenarnya bagi saya etnis ini satu sebelum bercampur dengan suku yang ada di dekatnya,”

Posted by Humas Sumut on Tuesday, August 13, 2019