Jakarta, Badan Eksesktuif Mahasaiswa (BEM) Fakulktas Ilmu Pendidikan (FIP) menggelar Diskusi Publik “EduTalk: Efektivitas Pembelajaran Daring di Tengah Pandemi Covid-19” dengan menggandeng Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) bersama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Kemendikbud dan DPR RI dilinai telah mencetuskan banyak kebijakan di sektor pendidikan terkait dengan adanya dampak Covid-19, dimulai dari Peniadaan Ujian Nasional (UN) 2020, Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) secara online, penundaan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri, Kegiatan Belajar Mengajar yang dilaksanakan secara daring serta menyiapkan relokasi anggaran untuk program-program terkait penanggulangan Covid-19.

Pemerintah juga menyiapkan program mahasiswa Relawan Covid-19 dan menyiapkan rumah sakit sebagai tempat isolasi di sekolah. Pembelajaran daring/jarak jauh juga dinilai tidak perlu untuk mengejar ketuntasan kurikulum, tetapi lebih difokuskan kepada pembelajaran kecakapan hidup yang lebih bermakna dan bersifat kontekstual. Hal tersebut guna mencegaha penyebaran covid-19 di lingkungan pendidikan.

Hetifah Sjaifudian, Wakil Ketua Komisi X DPR RI, mengatakan akses internet yang tidak stabil di beberapa daerah, mahalnya biaya kuota, beban tugas yang tidak proposional menyebabkan kurangnya pemahaman dan kesiapan tenaga pengajar dengan metode pembelajaran jarak jauh. Serta, kesulitan orang tua dalam mendampingi anak-anaknya belajar di rumah menjadi pemasalahan pembelajaran daring saat ini.

“Hal ini menunjukan sekolah harus pintar dalam mengoptimalkan dana operasional dengan tetap memenuhi hak guru dan karyawan, serta menjamin keberlangsungan pembelajaran. Disaat seperti ini kesadaran pemerintah akan pentingnya pemerataan teknologi semakin tinggi. Diharapkan, kedepannya penyediaan infrastruktur telekomunikasi hingga ke pelosok akan menjadi fokus pembangunan,” tutur Hetifah saat menjadi narasumber di EDUTalk, Senin, (18/05/2020).

Permasalahan Lama

Proses belajar mengajar melalui teknologi nyatanya belum menjadi hal biasa dalam pendidikan kita, pasalnya pendidikan hari ini cukup gagap dikala pandemi menyerang. Sebagian pelajar mengira bahwa belajar dari rumah merupakan suatu hal yang enteng, bahkan dianggap sebagai liburan.

Padahal Kemdikbud telah memfasilitasi program belajar di rumah dengan pendekatan tatap muka virtual. Pelajar dapat mengakses media pembelajaran berbentuk video, audio, teks, dan latihan secara mandiri. Aplikasi tersebut telah disediakan Kemdikbud dan mitra platform digital. Namun secara pemanfaatan teknologi dalam bidang pendidikan saat ini lebih banyak diterapkan di Kota dan Daerah yang sudah terjangkau Internet. Pemerintah dinilai harus melakukan pemerataan teknologi hingga ke daerah tertinggal, terdepan dan terluar.

Ferdiansyah, Komisi X DPR RI, mengatakan masih banyak sekolah, guru, dan siswa yang belum terbiasa dengan teknologi. Karena tidak seluruhnya masyarakat memiliki akses listrik, apalagi internet. Sehingga banyak peserta didik yang terhambat untuk melakukan kegiatan belajar dari rumah. Kemdikbud menginisiasi program belajar dari rumah yang ditayangkan di TVRI. Program ini ditujukan kepada para siswa/i jenjang TK/PAUD, SD, SMP, SMA. Akan tetapi problem masih ada daerah yang belum bisa menangkap sinyal TVRI. Selama pandemi COVID-19, pembelajaran daring harus menjadi evaluasi menyeluruh untuk segala lini pendidikan.

“Ini jadi catatan penting untuk kita kedepan agar bisa menghadapi proses belajar mengajar saat ada atau tidak adanya pandemi Covid-19. Baik, meliputi sarana prasarana, gedung sekolah, hingga teknologi. Ini semua bisa diseragamkan,” Ferdiansyah.

Ia juga menjelaskan terkait koneksi jaringan internet yang menjadi problem pada pembelajaran berbasis daring. Baik itu di perkotaan hingga mereka yang tinggal di wilayah pinggiran. “Banyak temen-temen yang kurang beruntung, tidak mendapatkan koneksi jaringan internet untuk belajar dari rumah. Ini bisa menjadi pembelajaran kita semua, saat menghadapi pandemi Covid-19,” ujar nya.

Pandemi di Perguran Tinggi

Ismah, Wakil Dekan 1 FIP UMJ, mengungkapkan Covid-19 merupakan tantangan yang dirasakan seluruh dunia. Ia juga mengatakan pendidikan di perguran tinggi sangat dipengaruhi oleh adanya pandemi seperti ini, namun tidak membatasi dalam kegiatan belajar mengajar.

Ia juga menyarankan banyak sarana yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran online diantaranya: e-learning yang digagas oleh FIP yaitu E-Campus, Zoom Meeting, Chromebook, Jitsi, Youtube hingga Goggle Clasroom. Ia juga menambahkan Kemendikbud telah memberikan akses yaitu https://belajar.kemdikbud.go.id/ didalamnya dapat dimanfaatkan oleh siswa dan guru mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas/Kejuruan (SMA/SMK) sederajat. Hingga menggandeng kurang lebih 7 platform aplikasi digital untuk mengoptimalkan pembelajaran daring.

“Dampak yang di terima karena pandemi covid ini membuat dosen dan mahasiswa harus mengupdate dirinya untuk lebih memanfaatkan teknologi, berfikir berkreasi dalam membangun model pembelajaran yang mudah dipahami dan berjalan dengan baik dan tidak terbebani. Pandemi telah motivasi kita agar belajar dan berkreasi menggunakan teknologi.

Hal ini menuntut kita perlu menyiapkan dan mengembangkan platform pembelajaran yang lebih efektif yang dapat menunjang kebutuhan mahasiswa dalam melengkapi pembelajaran, baik yang bersifat akademik maupun non-akademik,” kata Ismiah.

Harapan juga datang dari Ketua Umum BEM FIP, Muhammad Fathur Fachruzi, ia mengatakan pendidikan merupakan aset bangsa yang harus dipertahankan, terlebih pemerintah harus melakuan berbagai terobosan agar pendidikan di tengah pandemi ini segera teratasi.

“Pendidikan adalah jantung bagi sebuah Negara, dengan dihadapkannya kondisi pandemic saat ini memang sangat berdampak bagi pendidikan di Indonesia. Dengan dilakukan sistem pembelajaran daring (online) yang memang belum cukup efektif untuk dilakukan dan masih terlihat gagap atau bisa dibilang terkesan memaksakan. Saya berharap pemerintah sangat harus memperhatikan pendidikan saat ini yang sedang mengalami kendala dari berbagai kalangan, dan segera melakukan evaluasi serta mencari solusi untuk kedepannya menjadi lebih baik, semoga ya, tutup Fathur.