Indonesia, tentu akan bergerak menuju energi alternatif sebagai penunjang ketahanan energi nasional. Energi fosil yang ada di negeri ini, beratus tahun telah menjadi penopang kebutuhan hidup rakyat.

Namun, serapan terbesar masih berada pada energi minyak. Sementara, gas sebagai energi alternatif, belum secara maksimal menjadi penopang ketahanan energi. Karena itu, butuh keadilan untuk menjaga keseimbangan energi bagi kesejahteraan rakyat.

Asyhad, salah satu advisor pada Center of Excellence for Energy Innovation and Technology Studies (CENITS) melihat bahwa energi fosil masih memiliki peran strategis bagi ketahanan energi nasional.

Energi fosil, merupakan salah satu sumber energi yang pertama kali dikembangkan sejak tahun 1892. Hingga saat ini, energi fosil masih memegang peranan penting dalam penggerak perekonomian.

Kontribusi energi fosil (minyak dan gas), sebesar Rp 228 Triliun pada tahun 2018 dari total realisasi penerimaan negara sebesar Rp 1.942,3 Triliun atau sebesar 11.7%

Cak Asyhad, begitu akrab dipanggil, melihat bahwa negara Indonesia masih lebih baik soal energi ini. Karena, negara ini masih punya cadangan gas ratusan TCF dan belum termanfaatkan sekitar 70 TCF atau ekivalen 13 milyar BOE.

“Yang menjadi persoalan saat ini adalah infrastruktur. Terutama, infrastruktur pipa gas di Indonesia. Kita perlu mendapat dukungan dari pemerintah agar mendorong investasi swasta dalam mengembangkan daerah-daerah di luar pulau Jawa,” katanya.

Ada persoalan dengan penyerapan gas domestik. Ini yang menyebabkan persoalan untuk pengembangan gas. Terutama, adanya gap atau kesenjangan antara kebutuhan gas di berbagai daerah, antara daerah penghasil dengan daerah penerima.

Artinya, industri penyerap gas sendiri relatif tidak merata. “Perlu dikembangkan ide-ide inovasi untuk mengatasi kendala infrastruktur ini. Selain juga butuh modal yang besar dengan bantuan teknologi maupun inovasi lain,” katanya.

Sebagai contoh, distribusi gas dengan iso tank LNG untuk kebutuhan industri, mall dan listrik. Ini adalah inovasi teknologi yang mampu mendistribusikan gas lebih luas. Efeknya adalah penyerapan gas menjadi tinggi.

Karena itu, Cak Asyhad menilai bahwa saat ini pihak terkait perlu melakukan evaluasi atas kontrak-kontrak gas yang belum sepenuhnya termonetisasi. Targetnya, untuk mengutamakan kebutuhan gas domestik.

“Kesiapan sumber daya manusia yang bergerak di sektor energi minyak, dapat dimanfaatkan untuk pengembangan energi alternatif sebagai penunjang ketahanan energi nasional,” katanya.

Untuk bisa melakukan hal ini, diperlukan sudut pandang dari sektor migas yang visioner. Tidak hanya berpikir pada kebutuhan short-term, atau hanya untuk pemenuhan target lifting sesaat saja. Atau, hanya mendapatkan revenue.

“Tapi, sektor migas seharusnya berpikir bagaimana meningkatkan added values energi gas yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi nasional,” katanya.(*)