Hari sudah menjelang siang. Terminal Leuwipanjang, Bandung mulai padat. Beberapa bus masih terparkir, dan siap berangkat. Situasi akhir tahun yang rutin: liburan Natal 2018 dan Tahun Baru 2019.

Cris Kuntadi, Staf Ahli Bidang Logistik, Multimoda dan Keselamatan, Kementerian Perhubungan, terlihat di antara deretan bus parkir. Lalu, sesekali berkeliling di tempat penumpang menunggu.

Tak berapa lama, menuju ke beberapa bus. Mendatangi bus, melihat bagian ban, bagian mesin, mengecek satu per satu, bahkan sampai menguji menyalakan mesin.

Tak banyak pengunjung yang mulai padat, memperhatikan. Ya, Cris Kuntadi hari itu memang melakukan piket Nataru: Natal dan Tahun Baru. Wilayah yang dikunjung adalah Jawa Barat. Pemantauan pertama dilakukan di dua terminal, yaitu terminal leuwipanjang dan cicaheum.

Cris didampingi oleh tim penguji, Eki Kurniaswan. Memang, tak banyak yang tahu, bahwa Kemterian Perhubungan memiliki tanggungjawab atas keselamatan penumpang, yang berkaitan dengan kelayakan angkutan umum. Inilah yag dilakukan Ceis Kuntadi saat itu.

Cris menguji kelaikan bus di terminal dengan mengendarai bus secara langsung untuk mengecek kelaikan rem, whiper, speedo meter, lampu dan gigi roda. Dari bus yang di ramp check, ditemukan tidak ada safety belt pada kursi supir.

Di samping itu, ditemukan juga bis dengan sasis bagian tengahnya dipotong agar tempat bagasi lebih luas sehingga supir bisa tidur atau istirahat ketika berhenti di terminal. Ini terjadi karena tidak tersedia ruangan atau kamar istirahat untuk para supir bis.

Kepala Terminal Leuwipanjang, Edi Kalbari menyatakan ramp check terus dilakukan setiap hari. “Jadi, sebelum bus masuk terminal, penumpang sudah harus turun untuk dilakukan ramp check. Jika tidak memenuhi syarat bus tidak akan masuk ataupun jalan”, ungkap Edi di lokasi.

Sayangnya masih terdapat beberapa temuan pada ramp check yang dilakukan di dua terminal, yaitu terminal Leuwipanjang dan Cicaheum.

Temuan di terminal Cicaheum, yaitu terdapat bis dengan suspensi yang telah diganti dari semula pegas daun/per (RN) menjadi suspensi udara (RK).

“Secara kenyamanan, bagus. Tapi secara keselamatan jadi berkurang”, jelasnya.

Penggantian suspensi sangat berpengaruh pada tipe. “Jadi, harus dipastikan mengganti suspensi itu cocok tidak dengan tipe bus”,” kata Eki menambahkan.

Selain itu, Cris juga menemukan adanya bus yang pintu belakangannya sempit, hanya separuh dari ukuran standar sehingga menyulitkan penumpang untuk naik turun penumpang.

“Ini kan berbahaya karena dalam kondisi darurat akan sulit untuk melakukan penyelamatan,” kata Cris.

Sejatinya, persoalaan bus yang tidak memenuhi standar keselamatan seperti kasus di atas, sudah sering kali ditemukan dan tidak juga mereda. Dihubungi melalui pesan teks, Ketua KNKT menanggapi hal tersebut.

“Uji tipenya kenapa kita loloskan, dan seperti hal itu belum ada aturan khususnya. Saya selalu sampaikan ke Direktorat Sarana Perhubungan Darat, namun belum ada respon yang sigmifikan termasuk roll over test. Industrinya sudah melaksanakan tapi regulasinya masih belum ada”, papar ketua KNKT

Dengan adanya penemuan ini, Cris akan mengagendakan temuan lebih lanjut. Karena, ini terkait keselamatan transportasi darat maupun moda transportasi lain yang terkait.(*)