Tiga hal, setidaknya, yang membuat kesan pertama pada perempuan muda ini jadi berbeda: cekatan, tangkas dan milenial. Apalagi untuk pekerjaan yang dibebankan padanya, orang bisa geleng kepala dengan apa yang dilakukannya.

Khairul Hidayati, namanya. Tapi, cukup dipanggil Hida saja. Jabatan resminya: Kepala Sub Bagian Publikasi Biro Informasi dan Hukum Kemenko Bidang Kemaritiman.

Tugasnya: meliput, memfoto, membuat video, mengunggahnya ke media sosial, mentranskrip, membuat rilis, sampai pengarsipan. Masih ada tugas lain, sebenarnya. Tapi, dia enggan menjelaskan detailnya.

Inilah yang membuat banyak orang geleng kepala. Di usia yang masih muda, Khairul Hidayati harus membangun dan mengembangkan pemahaman publik terhadap instansi tempatnya bekerja: Kementerian Koordinator Kemaritiman.

Instansi yang masih muda juga usianya. Karenanya, tidak heran jika suatu ketika, Khairul Hidayati terpaksa sempat jatuh pingsan saat bertugas.

Ya, kejadiannya ketika dia harus bertugas mengikuti rangkaian Hari Pers Nasional (HPN) di Ambon tahun lalu.

“Sehari sebelumnya, saya mendampingi kegiatan Menko Luhut di sembilan lokasi. Nah, besoknya, saat sedang liputan pada acara puncak HPN yang juga dihadiri oleh Presiden Jokowi itulah saya pingsan,” katanya berkisah, dan tetap tertawa.

Ini, mungkin risiko yang harus dia terima. Tidak mudah memang, bekerja di instansi yang masih memiliki keterbatasan personel.

Tapi, ini juga menjadi tantangan yang menarik. Terutama, untuk membangun image dan brand awareness Kemenko Maritim. Apalagi, nama maritim yang melekat di kementerian, baru berusia empat tahun. Dan, sering dikaitkan dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Jadi, Khairul Hidayati tidak kaget jika ada orang yang ditanya siapakah Menteri Kemenko Maritim, lalu muncul jawaban: Susi Pudjiastuti!

Itu pengalaman lain. Dan, ini juga menjadi pengalaman baru bagi perempuan, yang selama tiga tahun bekerja sebagai editor buku di salah satu perusahaan penerbit di Indonesia.

Perempuan penyandang gelar Magister Psikologi Universitas Gadjah Mada, terlihat tetap bersemangat. Termasuk, ketika dia mendapatkan penugasan sebagai Kasubag di kementerian yang saat ini dipimpin Luhut Binsar Pandjaitan itu.

Perempuan kelahiran Grobogan ini, pernah mengelola tiga sub bagian humas seorang diri: sub bagian publikasi, dokumentasi, dan pengelolaan opini publik.

Dia jalani dengan cekatan dan tangkas. Bahkan, itu yang menjadikannya semakin dekat dengan mitra kerjanya: wartawan.

Bahkan, Khairul Hidayati juga dikenal sebagai orang di balik penggagas Aplikasi Pengelolaan Sistem Informasi Aspirasi Kemaritiman (PESAN). Inovasi yang diluncurkan pada awal September 2018 ini, bertujuan untuk memudahkan humas memantau serta merespons semua pesan ataupun pelaporan yang masuk melalui berbagai saluran komunikasi milik Kemenko Maritim.

Jadi, tidak heran jika Hida dikenal oleh orang-orang dekatnya sebagai workaholic. Setiap hari ia berangkat dari rumahnya di Depok pukul 05.30 WIB dan baru kembali ke rumah paling cepat pukul 21.30 WIB.

Totalitasnya dalam bekerja, membuat Hida belum pernah mengambil hak cuti selama mengabdi di Kemenko Maritim. Awalnya, keluarganya protes.

Keluhan itu berangsur berkurang setelah bungsu dari lima bersaudara ini memberikan pemahaman. Meski menghabiskan banyak waktu di luar rumah, Hida selalu berkomunikasi dengan keluarganya. Terutama melalui panggilan langsung maupun panggilan video.

Apa pernah stres?

Tentu saja. Dalam situasi seperti ini, Hida biasanya melipir ke tempat favoritnya. Nongkrong sambil menyeruput kopi.

Ya, Hida adalah pencinta kopi, terutama kopi hitam tanpa gula. “Kadang kalau lagi banyak pikiran, saya suka makan biji kopi. Kalau sudah begitu artinya saya sedang mengalami stres ‘tingkat dewa’, ha-ha!” kata Hida yang semasa kuliah aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pencak Silat. (*)