Tadinya, ini forum terbatas. Yaitu, mereka yang berlatar belakang pendidikan dan pengalaman kerja di bidang energi. Dalam perjalanannya, menjadi forum yang meluas. Bukan hanya materi diskusinya, tapi juga gerakan yang dibangun: Masyarakat Madani Energi.

Center of Excellence for Energy Innovation and Technology Studies. Biar mudah dan akrab, disingkat menjadi CENITS. Digagas dan didirikan oleh Soni Fahruri dan beberapa temannya.

Gagasan awalnya, cukup idealis. Yaitu, mencita-citakan peradaban baru dalam dunia energi di tanah airnya. Energi Bersih.

Ya, Soni Fahruri memang pernah belajar energi di Jerman. Begitu juga beberapa kawannya yang ikut membangun CENITS, memiliki pengalaman pendidikan yang sama soal energi di beberapa negara.

Mereka diikatkan oleh kesamaan kampus. Sama-sama alumnus Institut Teknologi Surabaya (ITS). Namun, perjalan CENITS bukan saja memerlukan energi untuk membangun cita-citanya. Tapi, juga membutuhkan lebih banyak lagi dukungan.

Hasilnya, muncullah gagasan forum Cangkrukan Energi. Kali ini, ruang materi dan tema yang didiskusikan lebih luas. Begitu juga mereka yang terlibat dan hadir, lebih beragam. Ada yang berasal dari kalangan akademisi, ada praktisi, ada dari pemerintahan, karyawan swasta, aktifis energi, NGO, dan lain-lainnya.

Semua hampir bersepakat untuk satu hal: bahwa Indonesia sudah waktunya membangun peradaban Energi Bersih.

Perjalanan CENITS sudah memasuki waktu dua tahun. Soni Fahruri menyadari bahwa persoalan energi, bukan hanya persoalan teknik soal pertambangan, soal teknologi, soal industri, soal regulasi atau rumusan-rumusan fisikawi dan kimiawi saja. Lebih dari itu, soal energi adalah soal kesadaran masyarakat.

Karena itulah, forum Cangkrukan Energi dibuat dalam diskusi yang partisipatif. Saling sharing antara pemateri dan peserta. Semua berkontribusi dalam memberikan kemanfaatan: pengetahuan, informasi hingga argumen dalam isu-isu sensitif dan strategis.

Soni Fahruri mengungkapkan bahwa CENITS secara intensif telah melakukan diskusi dalam dua tahun terakhir. Isu-isu yang dibahas adalah isu-isu energi terkini di Indonesia maupun internasional.

Dicky Edwin Hindarto

Hari Rabu (06/02/2019), adalah serial dari rangkaian forum Cangkrukan Energi yang rutin digelar. Tema yang diangkat dalam forum kali ini, adalah “Implementasi Energi Bersih di Indonesia dengan Menggunakan Mekanisme Berbasis Pasar.

Pembicara adalah Dicky Edwin Hindarto, seorang praktisi energi alumni ITS yang selama ini bergerak di dalam bidang implementasi konservasi energi dan energi terbarukan, terutama dengan menggunakan mekanisme pasar karbon.

Dalam paparannya, Dicky menjelaskan bahwa implementasi energi bersih di Indonesia sekarang ini adalah suatu keniscayaan. Hal ini karena Indonesia mempunyai target domestik yang tertuang di dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) dan target internasional yang telah disampaikan melalui Nationally Determined Contribution (NDC).

RUEN dan NDC adalah target mengikat yang oleh pemerintah kemudian diterjemahkan di dalam implementasi yang harus dilakukan oleh seluruh sektor di Indonesia, terutama sektor swasta, dengan pemerintah sebagai pengatur kebijakannya.

Disampaikan juga oleh Dicky bahwa di sisi pengguna, terutama sektor swasta, pemakaian energi bersih adalah suatu kemutlakan. Energi bersih saat ini bukan hanya untuk kebutuhan penenuhan energi, tetapi juga menjadi prasyarat untuk menjadi perusahaan yang lebih sustainable atau berkelanjutan.

Terutama, apabila perusahaan tersebut sudah terdaftar di pasar saham atau berorientasi ekspor. Maka, Energi Bersih akan menjadi nilai tambah dari keberlanjutan perusahaan tersebut.

Dicky juga menjelaskan bahwa kendala untuk implementasi Energi Bersih saat ini, berdasarkan dari survei dan analisis yang dilakukan, adalah sektor pembiayaan, teknologi, dan kemampuan SDM.

Padahal, berdasarkan dari laporan Kementerian ESDM, pembiayaan berbasis pasar justru memberi kemudahan di dalam pengembangan Energi Bersih. Sehingga, Energi Bersih lebih mudah dan layak untuk diimplementasikan.

Dicky juga merujuk pada implementasi kegiatan konservasi energi tahun 2017. Kegiatan yang dilakukan sepanjang tahun itu, paling banyak justru kegiatan konservasi energi melalui mekanisme berbasis pasar.

Nah, di sinilah terjadi dua persoalan. Yaitu, bagaimana mengatasi soal keterbatasan biaya dan kemampuan dari sektor swasta, dan di sisi lain pemerintah sangat perlu untuk mencapai target.

“Karena itulah, sekarang ini sedang dirancang beberapa skema pembiayaan berbasis pasar karbon. Carbon tax atau pajak karbon tampaknya merupakan pilihan yang paling rasional, sementara pengembangan pasar karbon domestik saat ini juga sedang dirancang,” kata Dicky.

Ke depan, baik pemerintah dan sektor swasta, harus melakukan dialog yang sangat intensif di dalam implementasi mekanisme berbasis pasar. Pemerintah dan pelaku usaha diharapkan mampu memanfaatkan berbagai mekanisme pembiayaan multilateral maupun bilateral yang berbasis hibah atau pinjaman bunga rendah untuk pembangunan rendah emisi dan implementasi energi bersih.

“Ini karena implementasi NDC maupun RUEN harus segera dilakukan untuk pencapaian target nasional,” kata Dicky Edwin Hindarto.

Inilah salah satu materi penting yang dibahas di Cangkrukan Energi CENITS. Menurut Soni Fahruri usai menutup acara, di kalangan pemangku kepentingan energi sendiri, tuntutan untuk mewujudkan cita-cita Energi Bersih sudah tidak bisa lagi dihindari.

“Ini untuk kepentingan masa kini dan masa depan. Kepentingan anak-anak dan cucu-cucu bangsa ini, beberapa puluh tahun ke depan. Energi Bersih menjadi pilihan paling rasional dan sehat, untuk keberlangsungan bangsa ini di masa mendatang,” kata Soni.

Karenanya, yang terpenting dari forum ini, adalah meluaskan manfaatnya kepada masyarakat luas. Terutama membangun kesadaran masyarakat pentingnya betapa energi yang bersih yang berdampak pada masa saat ini maupun masa mendatang,

“Cepat atau lambat, kita akan membutuhkan masyarakat madani energi. Masyarakat yang sadar betapa pentingnya energi bersih untuk kehidupan masyarakat ke depan,” kata Soni.(*)