Usai sholat jumat (18/10/2019) saya menyempatkan diri bertandang di Kementerian Sosial di kawasan Salemba, Jakarta Pusat.

saya silaturahmi dan makan siang di lantai 4, ruangan sahabat saya, Prof. Dr. Syahabuddin, Kepala Badan Pendidikan, Penelitian, Penyuluh Sosial Kementerian Sosial RI.

Ia adalah figur tokoh Sulsel yang tidak ada habusnya jika dikisahkan. Hidupnya penuh dengan kisah dan cerita.

Hasil pertemuan saya siang ini dengan Syahabuddin, meninggalkan sekulimit cerita tentang sang profesor.

Syahabuddin mengaku dilahirkan di Bone, 10 Februari 1967 dan menyelesaikan seluruh pendidikannya di Sulsel. Dilahirkan dan dididik dengan Sulsel hingga S1.

Pendidikan dasar, menengah hingga sarjananya di fakultas Syariah, IAIN Bone.

Profesor Syahbuddin menyelesaikan master agama di IAIN Walisongo Semarang, dan program doktor di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Selesai kuliah di Jawa ia mengemban tugas pokoknya sebagai pengajar (dosen) dan guru besar dijalani puluhan tahun di IAIN Palu, Sulawesi Tengah.

Semangat mencari ilmu di pulau Jawa menuntun nasib baiknya ketika menempuh program master di IAIN Walisongo Semarang.

Syahabuddin berkenalan dengan seorang guru besarnya, alm. Prof. Dr. Qodry Azizy. Di mata Prof Azizy, Syahabuddin adalah sarjana berprestasi yang layak direkomendasikan melanjutkan pendidikan doktornya di IAIN Sunan Kalijaga, hasilnya memuaskan, meraih predikat amat baik.

Setelah meraih gelar doktornya, Syahabuddin kembali ke Palu mengajar, tapi karena kuat hubungan emosionalnya dengan gurunya, Prof. Azizy, Syahabuddin pun harus menjinjing kopernya masuk Ibukota, membantu gurunya di Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menkokesra) era Bapak Aburizal Bakrie sejak 2007-2012.

Tahun 2012-2016, Syahabuddin diminta oleh Menteri Sosial, Salim Asegaf Al-Jufri untuk membantunya sebagai Direktur Bencana Sosial.

Kemudian, 2017-2018, Syahabuddin kembali mengabdi di IAIN Palu.

Tahun 2018 hingga 4 Oktober 2019, panggilan tugas sebagai Staf Ahli di Kementerian Sosial, era Bapak Idrus Marham memintanya kembali ke Jakarta.

Nasib baik menghampirinya, 4 Oktober 2019, Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita melantiknya menduduki kursi eselon 1-A sebagai Kepala Badan Pendidikan, Pelatihan, dan Penyuluh Sosial Kementerian Sosial.

Jabatan baru ini selevel Direktur Jenderal di Kementerian Sosial dan membawahi 13 pejabat eselon 2 atau direktur. Wilayah kerjanya pun mencakup seluruh Indonesia.

Program Utama
Syahabuddin pun berjanji memaksimalkan peningkatan mutu sumberdaya manusia (SDM) yang unggul di lingkungan Kementerian Sosial.

Ia menggalakkan penelitian-penelitian sosial yang menyentuh kebutuhan kementeriannya.

Dan memperbanyak kegiatan pelatihan dan penyuluhan di lingkungan dan wilayah kerjanya, melingkupi seluruh Indonesia.

Khusus untuk penyuluhan sosial, Syahabuddin mengaku akan menjemput Undang-Undang Nomor 14 tahun 2019, tentang Pekerja Sosial.

KKSS
Syahabuddin mengaku sudah lama mengenal organisasi KKSS dan bersyukur dapat berinteraksi dengan banyak kalangan pengurus dan tokoh-tokoh KKSS di Jakarta.

Syahabuddin berharap agar KKSS terus aktif menggelar kegiatan-kegiatan yang berjiwa silaturahmi antar-perantau di negeri diaspora (perantauan) dan diharapkan membentuk karakter (character building) di kalangan perantau agar menjadi teladan (uswa) di kalangan suku dan etnis lain misalnya di Jakarta ini,” katanya.

Tentang aroma Musyawarah Besar (Mubes) XI KKSS yang akan diadakan dan dibuka oleh Presiden Joko Widodo di Solo, 15-17 November 2019, Syahabuddin berharap, “semoga hajatan Mubes berjalan lancar dan sukses memilih sosok pemimpin KKSS yang menguasai banyak lini dan jaringan di Ibukota ini, membesarkan organisasi dan memberi manfaat kepada warga KKSS.” (M. Saleh Mude)