Tulisan ini dibuat, setelah di dalam hari-hari yang cukup, saya tinggal di Pontianak. Juga, di antara hari-hari itu, saya sempat mengunjungi beberapa kota Kabupaten di Kalimantan Barat. Sungguh, tempat yang memikat.

Bagi orang yang sudah biasa mengandalkan beberapa aplikasi di internet, mulanya, agak grogi ketika berada di Pontianak. Apalagi di kota-kota Kabupaten di Kalimantan Barat.

Pada siang hari, saat matahari bersinar begitu terang, indikator suhu udara berada di atas derajat yang biasa saya rasakan di Jakarta, pada umumnya. Begitu juga malamnya, masih di atas rata-rata suhu Jakarta. Intinya, udara lebih panas.

Tak banyak hujan, meski di beberapa kota di Jawa sedang deras-derasnya. Bagi orang baru, seperti saya, ini menjadi tantangan tersendiri. Meski beberapa hari kemudian ada yang berbeda dengan kondisi badan: terasa segar karena keringat terus keluar. Lancar!

Dari referensi yang saya dapat, secara astronomi Provinsi Kalimantan Barat terletak di antara garis 2008’ Lintang Utara serta 3002’ Lintang Selatan, serta di antara 108030’ Bujur Timur dan 114010’ Bujur Timur pada peta bumi.

Berdasarkan letak geografis yang spesifik ini, maka daerah Kalimantan Barat tepat dilalui oleh garis Khatulistiwa (garis lintang 00). Tepatnya, di atas Kota Pontianak.

Karena pengaruh letak ini pula, maka Kalimantan Barat menjadi daerah tropik dengan suhu udara cukup tinggi, dengan kelembaban tinggi pula.

Nah, soal kuliner. Pontianak adalah kota yang memberikan begitu banyak pilihan menu dan aneka masakan. Hanya saja, persoalan yang dihadapi oleh orang baru seperti saya adalah: hampir semua kuliner yang tersedia benar-benar baru.

Artinya, menu yang ditawarkan, jarang dijumpai di Jakarta. Kalaupun ada yang sama, rasa dan dinamikanya berbeda. Sebut saja, misalnya nasi goreng. Di Jakarta, banyak nasi goreng. Termasuk nasi goreng gila.

Di Pontianak, hanya ada dua menu nasi goreng. Menu yang biasa, atau yang istimewa. Nah, yang kedua itulah yang banyak dijumpai. Namanya Nasi Goreng Fatimah.

Begitu juga kwe-tiau. Atau, yang cukup terkenal di Jakarta, pisang goreng Pontianak. Ini jajanan yang memang istimewa. Tapi, percayalah, rasa dan bentuknya hampir tidak mirip dengan di Jakarta. Lebih beraneka ragam lagi.

Inilah yang menjadikan tantangan utama petualangan kuliner di Pontianak bagi orang baru adalah: berani mencoba enggak?

Begitu juga tempat ngupi-ngupi, jangan ragu. Di Pontianak, dan kota-kota di Kabupaten yang ada di Kalimantan Barat, tempat ngupi adalah tempat yang paling banyak dijumpai. Bahkan, sempat saya bercanda dengan beberapa kawan dari Pontianak,”Di malam hari, Pontianak ini layak dijuluki sebagai Kota Seribu Kafe.”

Ya, kafe atau tempat untuk ngupi, begitu banyak bertumbuhan di kota Pontianak. Juga di daerah sampingnya: Kabupaten Kubu Raya. Di beberapa kota kabupaten, juga saya temukan suasana yang sama. Termasuk di Kota Sambas, kota yang berdekatan dengan perbatasan Malaysia.

* * *

Beruntung, saya tinggal dalam waktu yang cukup di Pontianak, saat kontestasi politik sedang ramai-ramainya. Ada pileg, ada pemilihan senator, dan tentu saja: Pilpres!

Baliho, poster, spanduk, membentang di jalanan. Di ibukota propinsi, dan ibukota-ibukota kabupaten. Bertebaran di sepanjang jalan trans Kalimantan yang membelah desa-desa. Di antara hamparan sawah, di rimbunan kebun-kebun kelapa dan sawit.

Pesta demokrasi yang meriah!

Tentu, ada juga saya dengar tentang beberapa hal yang mendebarkan. Ada cerita dan analisa tentang potensi konflik. Ada juga yang meyakini akan terjadinya benturan antar pemeluk agama. Bahkan, ada juga yang memprediksi terulangnya kembali konflik horizontal yang pernah ada.

Tapi, sepanjang saya tinggal di Pontianak, dan berkunjung ke beberapa kota, cerita-cerita itu memang terdengar, namun tidak terlalu lantang.

Beberapa petinggi aparat yang saya temui, memastikan hal yang sama: Kalimantan Barat kondusif!

Begitu juga beberapa tokoh yang saya temui: ada yang memprediksi terjadinya konflik, ada yang meyakini bahwa situasi akan aman-aman saja. Dan, jumlah yang kedua lebih banyak dari yang pertama.

Memang, saya tidak bisa memastikan bahwa situasi dan kondisi di beberapa tempat di Kalbar akan aman-aman saja. Tapi, setidaknya hingga hari pencoblosan tiba, saya mendengar bahwa di Kalimantan Barat secara umum, semua berjalan baik-baik saja.

Ini menjadi kabar yang menggembirakan, tentunya. Terutama, kekhawatiran akan terjadinya konflik elit yang menggunakan isu identitas, isu SARA, atau isu etnis merembet ke tingkat bawah, tidak terjadi.

Sungguh, dalam perjalanan dan tinggal dalam hari-hari yang cukup di kota Pontianak, dan beberapa kota di Kalimantan Barat, saya menyaksikan, mendiskusikan, mengikuti, dan sesekali terlibat dalam kehidupan masyarakat yang multi-etnis, multi-budaya dan multi-agama yang tenang-tenang saja.

Tentu, di antara situasi ini, saya juga merasakan adanya semangat militansi, semangat mengekspresikan identitas politik secara berlebihan –yang terkadang terasa provokatif, atau semangat untuk memicu sentimen religiusitas dan kultural sebagai pemicu untuk membuat polarisasi di masyarakat yang multi-identitas, masih terasa dan nyata pergerakannya.

Tapi, hingga tulisan ini dibuat, sekali lagi, saya masih mendengarkan kabar baik dari kawan-kawan: situasi baik-baik saja.

* * *

Berada di Kalimantan Barat, bagi saya yang pasca Pilkada DKI 2014 berada di kawasan Jabodetabek, dan banyak terpapar hawa politiknya yang begitu keras dengan berbagai narasi politik identitas, benar-benar mendapat suasana baru.

Tiba-tiba saja, ada kerinduan yang muncul. Kerinduan sebagai anak bangsa, yang bisa tinggal di suatu wilayah, dimana orang-orang saling menghormati adat dan kepercayaan.

Orang-orang bisa merasakan kehidupan yang penuh toleransi. Orang-orang bisa bekerja dan mencari penghidupan, tanpa kecurigaan terhadap identitas etnik atau religiusitasnya.

Di sinilah saya, secara pribadi, melihat ada masa depan cerah di Kalimantan Barat. Ketika toleransi sedang berhadapan secara massif dalam kontestasi politik di kota-kota besar di Indonesia, di Kalimantan Barat masih terdapat ruang besar untuk menjadikannya sebagai kekuatan.

Toleransi menjadi energi. Energi dimana setiap orang bisa menjalani aktifitas hariannya tanpa ada kecurigaan. Energi dimana ekonomi berjalan tanpa terancam pada terjadinya situasi chaos akibat identitas sosial-politik.

Inilah yang menjadi modal penting, dalam konteks pembangunan dan pemerataan kesejahteraan untuk, setidaknya wilayah provinsi di Kalimantan Barat ke depan. Bahwa, yang begitu dibutuhkan oleh rakyat di wilayah ini adalah pertumbuhan. Peningkatan ekonomi. Kemakmuran. Kesejahteraan. Dan, yang paling substansi adalah keadilan!

Coba, mari kita lihat dan renungkan fakta yang sebenarnya. Kalimantan Barat adalah provinsi keempat terbesar di Indonesia. Sebagian wilayahnya merupakan daratan berdataran rendah dengan luas 146.807 km2 atau 7,53 persen dari luas Indonesia. Atau, 1,13 kali luas pulau Jawa.

Wilayahnya membentang lurus dari Utara ke Selatan sepanjang lebih dari 600 kilometer, dan sekitar 850 kilometer dari Barat ke Timur.

Jumlah penduduknya, tahun 2017 berdasarkan hasil Proyeksi Penduduk jumlahnya sekitar 4,932 juta jiwa. Sekitar 2,51 juta jiwa berjenis kelamin laki-laki dan 2,42 juta jiwa adalah perempuan.

Dengan luas wilayah sebesar 146.807 kilometer persegi, atau lebih besar dari Pulau Jawa, kepadatan penduduk di Provinsi Kalimantan Barat baru sekitar 30 Jiwa per kilometer persegi!

Problemnya: persebaran penduduk Kalimantan Barat tidak merata. Antar wilayah kabupaten/kota, kecamatan, desa/kelurahan, begitu juga antar wilayah kawasan pantai dan bukan pantai, atau perkotaan dan pedesaan, masih belum merata.

Daerah pesisir yang mencakup Kabupaten Sambas, Kabupaten Bengkayang, Kabupaten Pontianak, Kabupaten Ketapang, Kabupaten Kayong Utara, Kabupaten Kubu Raya dan Kota Singkawang, dihuni oleh hampir 50 persen dari total penduduk Kalimantan Barat dengan kepadatan mencapai 42 jiwa lebih.

Sebaliknya, tujuh kabupaten lain (bukan pantai) selain Kota Pontianak, secara rata-rata tingkat kepadatan penduduknya relatif lebih jarang.

Kabupaten Kapuas Hulu dengan luas wilayah 29.842 km2 atau sekitar 20,33 persen dari luas wilayah Kalimantan Barat, hanya dihuni rata-rata 9 (sembilan) jiwa per kilometer persegi.

* * *

Komposisi penduduk yang bekerja di Provinsi Kalimantan Barat, masih didominasi oleh pekerja yang berpendidikan rendah, yaitu sekitar 68,35 persen adalah tamat SLTP ke bawah.

Lapangan usaha yang paling dominan adalah sektor pertanian, yang menyerap sekitar 51,76 persen dari total angkatan kerja yang bekerja. Jumlah Angkatan Kerja di Provinsi Kalimantan Barat pada tahun 2017 sebanyak 2.408.259 orang, dimana 2.303.198 orang diantaranya bekerja (95,64 persen).

Sedangkan Angkatan Kerja Kalimantan Barat yang belum terserap pada pasar kerja pada tahun 2017 adalah 105.061 jiwa. Data ini memperlihatkan adanya pengangguran terbuka sebesar 4,36 persen.

Sedangkan untuk yang bukan Angkatan Kerja adalah 1.102.076 jiwa, dimana sekitar 27,28 persennya bersekolah atau berjumlah 300.706 jiwa. Kemudian, mengurus rumahtangga 667.370 jiwa (60,55 persen) dan lain-lain sebanyak 134.000 orang (12,16 persen).

Dalam keriuhan politik identitas yang menguat di kota-kota besar di Pulau Jawa, melihat Kalimantan Barat (setidaknya), terasa bahwa Indonesia masih memiliki harapan dan potensi besar. Untuk membangun, untuk meningkatkan kesejahteraan, dan tentunya mendistribusikan kemakmuran secara adil dan merata!

Di sinilah, toleransi akan menjadi energi besar. Energi yang dimiliki bangsa ini selama beratus tahun. Energi yang membuat setiap rakyatnya, bisa bekerja, berpenghasilan, berpartisipasi, berkontribusi tanpa syak-wasangka.

Kita bisa menjalani kehidupan untuk mencapai hal-hal yang lebih baik, dengan energi yang menyatukan semangat dan tujuan bersama. Bahwa: Kita, Satu Indonesia!(*)