Gerakan mahasiswa Islam bercorak dakwah seperti Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) dan Gema Pembebasan tumbuh subur di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) memanfaatkan kebebasan sebagai buah dari reformasi 1998.

Keberadaan mereka menggeser basis massa gerakan mahasiswa Islam yang lama, seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).

Rusdianto, Dosen Sejarah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado menuturkan, pergeseran basis massa tersebut terjadi di hampir semua PTN.

Menurutnya pergeseran itu terjadi karena gerakan mahasiswa Islam yang lama tidak mampu beradaptasi dengan kebutuhan mahasiswa pasca reformasi yang cenderung praktis.

“Mahasiswa itu cenderung praktis, sehingga organisasi yang mengedepankan wacana itu cenderung kurang diminati,” katanya dalam diskusi virtual yang diadakan oleh Lembaga Kajian Dialektika dengan tema “Dari Islam Substantif ke Islam Formalis; Perubahan Basis Gerakan Mahasiswa Islam Pasca Reformasi”, Jumat (01/05/2020).

Hal ini berbeda dengan gerakan mahasiswa Islam dakwah yang mampu mewadahi kecenderungan itu dalam bentuk kegiatan kajian dengan tema-tema yang praktis, terutama dalam beragama.

Dalam sebuah penelitian yang ia lakukan, Rusdi menemukan bahwa tema-tema gerakan Islam dakwah berkutat pada seputar fikih dan dasar-dasar keislaman.

“Sehingga mereka yang memiliki pengetahuan dasar keislaman yang tidak begitu bagus akan merasa nyaman dengan kondisi itu. Hal itu berbeda dengan gerakan Islam lama yang cenderung mengajak anggotanya banyak membahas wacana keislaman yang besar,” jelas Rusdi.

Selain tidak mampu beradaptasi, kecenderungan gerakan mahasiswa Islam lama juga hanya menawarkan kebesaran sejarah masa lalunya.

“Misalnya HMI membesarkan di era Nurcholis Madjid, PMII juga, dan seterunya,” tutur Rusdi.

Di sisi yang lain, kecenderungan berbeda ditunjukkan oleh gerakan mahasiswa Islam dakwah. Menurut Rusdi, gerakan mahasiswa Islam dakwah ini lebih menawarkan masa depan.

“Karena mereka baru lahir cenderung menawarkan masa depan. Jadi mereka menawarkan apa yang akan diraih di masa depan,” kata Rusdi. (*)