kliksaja.co – Horja Bius merupakan elemen dasar dalam sistem kelembagaan masyarakat Toba. Sebuah tradisi orang parmalim yang menunjukan bahwa untuk menyelesaikan masalah orang Batak lebih mengedepankan musyawarah. Dimana raja bersama tetua adat berkumpul untuk mengatur tatanan pemerintahan dan spiritual pada satu kampung pada zaman dahulu.

Dalam Pagelaran pesta Horja Bius juga diadakan beberapa ritual, mulai dari Ulaon Hahomion, Tortor Tunggal Panaluan, Tortor Parsiarabu, Marjoting, Pajongjong Borotan, Makharikkiri Horbo dan ditutup dengan Mangalahat Horbo. Pada upacara ulaon hahomion ada dua kegiatan yang dilaksanakan yaitu, ziarah ke tambak (makam) dolok ompu raja sidabutar dan mangalopas tu mual natio. Ini merupakan sebuah upacara ritual penghormatan kepada roh-roh leluhur untuk memohon berkat perlindungan dan kelancaran dalam melaksanakan tahapan-tahapan upacara yang akan dilangsungkan.

Di Desa Tomok, Horja Bius kini menjadi salah satu event tahunan, yang merupakan bagian dari Horas Samosir Festival. Pagelaran ini dikemas dalam bentuk teater kolosal, merupakan modifikasi upacara yang pernah dilakukan oleh para leluhurnya. Pada masa dahulu upacara Horja Bius Tomok bersifat sakral sebagai upacara persembahan kepada leluhur Ompung Raja Sidabutar yang telah mendirikan kampung Tomok.

Orang Batak Toba memiliki pemahaman bahwa roh leluhur masih ada di sekitar mereka, orang Batak pun yakin roh itu mengawasi dan tetap menyertai keturunannya. Pemahaman seperti ini masih tertanam kuat pada mereka yang sangat memegang teguh budaya habatakon.