Kisah dr Muhammad Ichsan dan Ibu Sumiyati di Kota Kupang NTT

Pertama kali aku mendengar cerita Pasar Malam Seafood Kampung Solor Kupang Nusa Tenggara Timur (NTT) dari membaca blog Munir Sara, penulis, citizen journalism, putra asli NTT, juga teman dekatku di Jakarta.

Lalu setahun kemudian (2013) aku membuktikannya sendiri saat berkunjung ke Kupang.
Ternyata, dari puluhan (mungkin hingga ratusan) penjual Seafood di Kampung Solor Kota Kupang yang aku temui, mayoritas berasal dari Lamongan (satu sumber valid menyebut 90% penjual Seafood di Kampung Solor berasal dari Lamongan, utamanya dari Desa Brumbun Kecamatan Maduran).

Pekan lalu, aku meminta tolong Munir Sara yang sedang di Kupang menemui beberapa diaspora Lamongan, inilah kisahnya;

dr MUHAMMAD ICHSAN, saat ini menjabat Direktur RSUD Kupang. Siapa sangka pria bertubuh sedang ini menyimpan sejarah perantauan Lamongan di Kota Kupang. Ayah beliau, alm H. Subur merantau ke Kupang dari Desa Kendal Kecamatan Sekaran sejak 1970. dr Ichsan sendiri lahir dan besar di perantauan.

Alm H. Subur bisa dikatakan perintis perantauan Lamongan di Kupang yang menekuni bisnis kuliner. Usahanya maju pesat dan saat ini keluarga besar alm H Subur mengelola 3 restoran besar di Kota Kupang.

dr Muhammad Ichsan mengenang tahun 80-an hampir semua perantau baru dari Lamongan selalu menginap di rumah alm H Subur yang juga sesepuh dan pendiri paguyuban Lamongan di Kupang. Setelah H Subur meninggal tahun 2001, dr Ichsan menggantikan sebagai ketua Paguyuban.

“Hampir 20% orang Jawa di Kupang berasal dari Lamongan, jumlahnya sekitar 4.000an jiwa” demikian ungkap dr Ichsan saat ditemui Munir Sara. Bukan jumlah yang sedikit. Mayoritas berbisnis kuliner.

Ada satu tradisi bagus yang diungkap dr Ichsan. Semua perantauan asal Lamongan yang baru datang dan tidak punya modal akan dipinjami modal oleh Paguyuban, dan harus dibayar kembali setelah usahanya berjalan. Saling tolong menolong di tanah rantau, kunci sukses diaspora Lamongan.

Keluarga besar Alm H. subur sendiri memilih menetap di Kota Kupang walaupun ikatannya dengan tanah asal (Kendal-Sekaran) tak pernah luntur. Apalagi dr Ichsan, sebagai generasi kedua diaspora Lamongan, telah menjadi tokoh masyarakat dan pejabat di Kota Kupang. Dimana tanah dipijak, di situ langit dijunjung.

Lain lagi cerita Ibu SUMIYATI yang menetap di Kupang sejak 2009. Ibu dua anak yang berasal dari Desa Taji Kecamatan Maduran ini memiliki lapak Seafood di Kampung Solor. Satu anaknya telah menjadi sarjana dan satunya lagi tidak mau kuliah.

Ibu Sumiyati bersama keluarganya memiliki cita-cita akan kembali ke kampung halaman di Lamongan suatu saat kelak. Dari hasil tabungannya selama berusaha di Kupang, mereka telah membeli lahan sawah dan mendirikan rumah di kampung asal. Persiapan jika satu saat kembali ke Lamongan, entah kapan.

“Persaingan semakin ketat mas, makin banyak warung makan Lamongan di sini” katanya kepada @Munir Sara sambil menatap langit.

Sayang Munir Sara tidak sempat menemui Pak Jasmiran, pemilik Depot Makan Ria di Jalan Palapa Kota Kupang yang banyak disebut sebagai perantauan Lamongan di Kupang paling sukses saat ini.

Namun sukses atau belum, tidak menutup fakta bahwa kemandirian dan keuletan warga diaspora Lamongan (perantauan) sudah sangat teruji. Potensi ini aku yakin melekat di darah warga Lamongan, perantauan maupun bukan. InsyaAllah.