kliksaja – Asteroid bernama 2019 MO menghantam Bumi pada 22 Juli 2019, tepatnya di atas Laut Karibia. Asteroid semula hanya dikira melintas, sehingga luput dari pantauan NASA.

” 2019 MO pertama kali terlihat 500 ribu kilometer dari Bumi- lebih jauh dari orbit Bulan kita. Ini kira-kira setara menemukan sesuatu seukuran nyamuk dengan jarak 500 kilometer,” ujar NASA, dikutip dari Express, Senin (09/09/2019).

Asteroid itu terdeteksi teleskop survei ATLAS yang terletak di Universitas Hawaii. Data diteruskan ke Minor Planet Center yang menghitung asteroid itu berada di jalur tabrakan dengan Bumi.

Davide Farnocchia, ilmuwan di Pusat Studi Objek Dekat Bumi NASA, mengatakan, ukuran 2019 MO jauh lebih kecil daripada asteroid yang diminta untuk mereka amati.

” Asteroid itu sangat kecil, mereka tidak akan selamat melewati atmosfer kita untuk menyebabkan kerusakan pada permukaan bumi,” ujar dia.

NASA Pantau Asteroid Berbahaya
Tidak ada korban atau kerusakan yang dilaporkan ketika 2019 MO terbakar di atas Laut Karibia.

Saat ini, NASA cenderung memusatkan perhatiannya pada asteroid yang lebih besar, yang lebih mudah dideteksi dan berpotensi lebih berbahaya.

Tetapi, asteroid yang lebih kecil juga dapat menyebabkan kerusakan yang signifikan.

Pada Februari 2013 ketika asteroid pecah di Chelyabinsk di Rusia, melukai lebih dari 1.200 orang dan merusak sekitar 7.000 bangunan.

Asteroid yang dimaksud berukuran kira-kira sama dengan bangunan enam lantai.

NASA & ESA Akan Belokkan Asteroid yang Berpotensi Tabrak Bumi

kliksaja – Skenario menyelamatkan Bumi dari tabrakan asteroid di film Armageddon yang dibintangi Liv Tyler, Bruce Willis, dan Ben Affleck, menempel dalam ingatan manusia.

Kini, dan ini bukan kejadian di film, ancaman asteroid yang menabrak Bumi sedang terjadi. Badan Antariksa dan Penerbangan Amerika Serikat (NASA) dan Badan Antariksa Eropa (ESA) bertemu di Roma pekan depan untuk membahas penyelamatan Bumi dari ancaman tabrakan ini.

Proyek ini bertujuan untuk membelokkan orbit salah satu dari dua asteroid yang mengancam Bumi dan Mars, Didymos.

Menurut laman Engadget, NASA dan ESA akan mengukur terlebih dahulu mengukur dampak dan kondisi penyelamatan yang efektif.

NASA Akan memberikan akselerator Uji Dampak Asteroid Ganda (DART) yang diluncurkan pada musim panas 2021. Akselelator itu akan menabrak Didymos yang berukuran lebih kecil.

Setelah tabrakan, Cubesat Italia, LICIACUbe, akan mempelajari dampak kerusakan. ESA kemudian akan meluncurkan satelit Hera pada 2024 untuk mempelajari asteroid Didymos yang lebih besar.

Hera Tiba 2026
ESA akan mempelajari kawah, massa, dan satelit radar. Hera dijadwalkan akan tiba di asteroid raksasa itu pada 2026.

Para ilmuwan memilih asteroid Didymos karena orbitnya yang cukup lambat. Dengan kondisi itu, NASA berasumsi, cukup realistis untuk mengubah orbitnya.

Sebelumnya, pada 26 Maret lalu para astronom NASA menemukan asteroid saat malam hari yang jauh lebih gelap dibanding Pluto. Kala itu mereka menyebut asteroid itu dengan PDC 2019.

Asteroid itu memiliki orbit yang melewati 0,05 unit astronomi. Lalu NASA dan Badan Antariksa Eropa berspekulasi asteroid itu akan menghantam Bumi pada 29 April 2027.

Asteroid Raksasa Ancam Bumi 10 Tahun Lagi, NASA Sempat Panik!
kliksaja – Miliarder sekaligus CEO Space-X membuat ramalan mengerikan tentang kemampuan bumi menangkal serangan asteroid raksasa. Menurut Musk, manusia sampai kini belum memiliki pertahanan yang bisa mencegah tabrakan tersebut.

Pernyataan Musk itu diucapkan dalam cuitan Twitternya setelah badan antariksa AS, NASA menyatakan tengah bersiap menghadapi datangnya batu angkasa yang mereka beri julukan `God of Chaos` bernama Apophis.

Menurut Musk, publik tak perlu khawatir dengan datangnya asteroid seperti disebutkan NASA. Namun dia mengatakan akan datang batu angkasa yang ukuran jauh lebih besar dan menghantam bumi.

Dalam laporannya NASA mengungkapkan batu raksasa itu berukuran 340 meter dan bergerak ke jalur yang dekat dengan bumi. NASA bahkan pernah mengkhawatirkan batu raksasa itu akan menabrak Bumi.

Diramalkan Melintas 10 Tahun Lagi
Beruntung, kalkulasi terbaru menunjukan objek luar angkasa tak jadi menghantam dan hanya melintasi bumi dengan arak 19 ribu mile dari permukaan planet ini.

Marina Brozovic, peneliti NASA yang bertugas memantau pergerakan objek yang mendekati bumi mengatakan, Apophis yang bakal mendekati orbit bumi pada 2029 menjadi momen mengagumkan bagi dunia sains.

Kami akan memantau asteroid ini menggunakan lensa dan teleskop radar. Dengan pemantauan radar, kita mungkin bisa melihat detail permukaan asteroid yang hanya berukuran beberapa meter.”

Jika Apophos sampai menabrak bumi, diperkirakan jutaan warga London akan tewas dan muncul cekungan seluas 3 mile. Namun tak semua warga London akan binasa.

(Sumber: Metro.co.uk)