Oleh: Meki Polanda*

Isu terkait agama dan kebinekaan sebenarnya telah muncul sejak berabad-abad yang silam. Seperti pada awal abad ke-16, terjadi ketegangan antara Hindu dan Islam yang direpresentasikan oleh ketegangan antara Majapahit dan Demak. Selain itu juga ketegangan antara Pajajaran dan Banten. Ini menandakan bahwa isu relasi antara agama dan kebinekaan bukanlah hal yang baru.

Kata agama di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki arti ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.

Menurut Gus Dur, agama itu ajaran yang bersumberkan wahyu dan mempunyai aturan bersifat normatif dan permanen.

Sedangkan kata kebinekaan berasal dari kata bineka yang di dalam KBBI memiliki arti beragam; beraneka ragam; yang kemudian terjadinya afiksasi ke- dan –an, dan berubah menjadi ke-bineka-an yang di dalam KBBI memiliki arti keberagaman.

Di dalam Kitab Sutasoma, Mpu Tantular telah merumuskan istilah “Bhineka Tunggal ika tan Hana Dharma Mangrwa” yang berarti berbeda-beda namun satu, tiada kebenaran yang mendua. Tujuan Mpu Tantular memformulasikan itu adalah demi menjaga keragaman ekspresi keagamaan di zaman Kerajaan Majapahit.

Jadi, gesekan-gesekan keagamaan dan kemudian ada amanat untuk menjaga kebinekaan, semuanya sudah pernah terjadi sejak dahulu kala di bumi nusantara ini.

Pesan kebinekaan itu dipahami betul oleh para founding fathers  saat merumuskan Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila yang berbunyi “Ketuhanan yang Maha Esa”, yang artinya bahwa bangsa Indonesia percaya akan adanya Tuhan dan wajib menjalani ajaran-ajaran sesuai kepercayaan masing-masing.

Dalam pidato sidang BPUPKI 1 Juni 1945, Ir. Soekarno mengatakan “apakah kita hendak mendirikan Indonesia Merdeka untuk sesuatu orang, untuk suatu golongan? Kita hendak mendirikan suatu negara semua untuk semua”.

Sedangkan Presiden Indonesia ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pernah mengatakan “Indonesia bukan negara agama tetapi Indonesia adalah negara yang beragama”. Artinya, Indonesia bukanlah negara yang dimiliki oleh satu agama saja, tetapi beberapa agama.

Agama dan Kebinekaan

Akhir-akhir ini, di media-media, entah cetak, online, atau televisi, banyak memberitakan isu yang berkaitan dengan agama dan kebinekaan. Dari berita-berita, tidak sedikit yang memunculkan kesan bahwa agama merusak kebinekaan. Apakah benar seperti itu?

Terkait dengan hal itu, penulis mengajak secara seksama melihat agama sebagai sesuatu yang suci dan sakral. Selain itu, agama adalah pedoman hidup yang selalu membawa nilai kebaikan.

Sidharta Gautama mengajarkan tentang personalitas Budha yaitu tindakan tanpa kekerasan, tiga tanda, pengabaian keinginan, dan status tertinggi bagi percarian nirwana. Nirwana adalah kebebasan tubuh, ujaran, dan pikiran secara total dalam kesempurnaan kebijaksanaan, cinta, dan energi.

Begitu juga dengan Konfusius di dalam Konfusianisme yang mengajarkan sebuah kebaikan yang memberikan keindahan kepada sebuah komunitas. Yesus juga mengajarkan kita bahwa orang-orang di sekitar kita adalah sesama kita, bukan musuh. Jadi, berbuat baiklah kepada siapa pun yang memerlukan pertolongan.

Nabi Muhammad juga mengajarkan umatnya tentang menyayangi makhluk yang ada di bumi, niscaya kamu akan disayangi makhluk yang ada di langit. Kemudian ia juga mengajarkan bahwa Islam itu menyebarkan kasih sayang kepada seluruh alam (rahmat lil alamin).

Dari ajaran-ajaran agama di atas, terlihat bahwa semua agama selalu mengajarkan kedamaian, kebaikan, kasih sayang, dan cinta  antar sesama. Sehingga tidak mungkin keberadaan agama merusak kebinekaan yang di dalamnya banyak kebaikan.

Jadi dapat disimpulkan bahwa kebinekaan adalah sebuah kemajemukan dan agama merupakan bagian di dalamnya. Merawat keberagaman pemeluk agama sama dengan merawat kebinekaan yang merupakan semboyan negara.

*Meki Polanda, Mahasiswa Magister Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta