Oleh : Ibnu Nadzir (Peneliti Pusat Penelitian Kemasyarakatan & Kebudayaan LIPI)

Dalam beberapa tahun terakhir, kata milenial kerap mengemuka dalam percakapan di ruang publik. Lantas siapa itu millenial?.

Perbincangan mengenai milenial merujuk pada kelompok umur tertentu yang dibayangkan memiliki kekhasan khusus. Baik aspirasi politik maupun sosial,  kelompok ini seolah menjadi kelompok yang terpisah dari generasi-generasi yang muncul sebelumnya.

Setidaknya, demikian ujaran yang kerap disampaikan ahli pemasaran ketika mendeskripsikan generasi ini. Euforia serupa juga bisa ditemukan di antara kandidat politik yang berupaya mendulang suara kelompok usia ini dengan beragam cara.

Konsep milenial adalah kategori umur yang diajukan oleh demografer di Amerika Serikat untuk membedakannya dengan generasi sebelum mereka seperti Gen X ataupun Baby Boomers.

Tidak ada kesepatakan tunggal mengenai batasan atas dan bawah terhadap kelompok generasi ini. Sebagian tokoh mengusulkan batas generasi ini bermula dari periode akhir 1970-an hingga yang lahir pada pertengahan 1990-an.

William Strauss dan Neil Howe, salah satu perintis konsep milenial, mengajukan rentang generasi ini dimulai dari
anak yang lahir pada 1982 sampai yang lahir pada 2004.3.

Secara umum para ahli menempatkan periode antara 1980-an sampai 1990-an sebagai kelompok inti dari generasi yang disebut sebagai milenial.

Di Amerika Serikat, kajian demografi memang telah lama menaruh perhatian khusus pada perbedaan generasi di masyarakatnya. Sebab, pemahaman mengenai generasi dianggap penting dalam pembuatan keputusan baik di politik maupun bisnis.

Pew Research memetakan, milenial Amerika Serikat sebagai kelompok yang independen baik dalam pekerjaan dan
politik. Mereka juga secara umum lebih liberal dalam arti sangat mementingkan kebebasan berekspresi individu.

Hal ini berimplikasi pada cara mereka melihat negara yang tidak lagi terikat pada simbol-simbol lama nasionalisme seperti bendera, patriotisme, dan lagu kebangsaan.

Iklan Nike

Perbedaan cara pandang generasi millenial ini terhadap simbol-simbol nasionalisme
terilustrasikan dengan jelas dalam iklan Nike yang mengangkat Colin Kaepernick sebagai figur
utama.

Colin Kaepernick dikenal luas sebagai atlet American football yang menolak berdiri ketika lagu kebangsaan diputarkan di stadion. Alih-alih ikut menyanyi, ia malah berlutut sebagai bentuk protes atas diskriminasi dan kekerasan yang masih banyak terjadi pada kelompok minoritas khususnya warga keturunan Afrika-Amerika.

Sikap Kaepernick memicu kontroversi yang luas, generasi tua, khususnya pendukung Partai Republikan cenderung
melihat sikap tersebut sebagai pengkhianatan terhadap simbol-simbol negara.

Oleh karena itu, keputusan Nike memilih Colin Kaepernick sebagai tokoh iklan mereka dianggap sebagai bentuk provokasi terbuka. Sebagian orang bahkan membakar koleksi Nike yang mereka miliki sebagai bentuk protes pada merek tersebut.

Namun, keputusan merek olahraga besar ini ternyata positif. Generasi milenial Amerika yang menjadi segmen utama Nike malah berbondong-bondong membeli produk mereka.

Pesan yang disampaikan Colin Kaepernick dianggap merepresentasikan ide mereka mengenai persamaan hak dan
pengakuan kebebasan individu yang jadi salah satu nilai utama milenial di Amerika Serikat.

Deskripsi serupa itu nampaknya juga jadi stereotipe umum yang dipahami dalam pembicaraan publik soal milenial di Indonesia.

Yoris Sebastian misalnya, mengusulkan penggunaan kata langgas sebagai padanan kata milenial. Kata yang bermakna bebas ini dipilih karena generasi ini digambarkan sebagai generasi yang lebih merdeka dalam memilih dan memiliki kepercayaan diri yang tinggi.

Beberapa lembaga yang beberapa kali mengeluarkan riisan mengenai milenial juga cenderung berfokus pada milenial kelas menengah urban yang ditandai dengan tiga karakteristik: connected, creative, dan confidence.

Penggambaran-penggambaran semacam ini serupa kalau bukan malah identik dengan gambaran mengenai
milenial di Amerika Serikat.

Politik Millenial 

Ketika berbicara soal milenial, kerangka inilah yang juga diangkat dan dibicarakan politisi kita, sehingga banyak politisi bahkan sekelas Jokowi merasa perlu memoles diri untuk merebut suara mereka.

Walaupun kerap dikemas sebagai prospek menjanjikan, perspektif ini masih menyisakan beberapa persoalan.

Pertama, kuatnya bias bahwa milenial merupakan generasi yang sama sekali baru sehingga memiliki elan khusus soal sosial dan politik yang terpisah dari generasi sebelumnya.

Padahal, jika kita sedikit menengok masa lampau maka cukup jelas bahwa perubahan sosial dan politik di negara ini sudah sejak lama dikaitkan dengan kelompok pemuda.

Kedua, narasi mengenai milenial yang dibicarakan di Indonesia mengandung bias urban yang sangat kuat. Penggambaran soal kelompok anak muda yang terbuka, percaya diri, dan bebas ini dengan demikian menafikan pengalaman banyak kelompok milenial lainnya yang boleh jadi masih lebih banyak di Indonesia.

Bias Representasi Milenial

Salah satu –kalau malah bukan satu-satunya– penanda penting generasi milenial adalah pertautannya dengan perangkat teknologi dan informasi (TIK).

Persentuhan milenial dengan TIK menjadikan generasi ini memiliki peluang untuk terhubung dengan informasi
maupun manusia di luar batas teritorial negara.

Fenomena ini cukup paralel dengan penggambaran Benedict Anderson soal terbangunnya imajinasi negara-bangsa pada awal abad 20 melalui persebaran media cetak.

Walaupun demikian, hari ini ruang lingkupnya tidak lagi dibatasi oleh batas peninggalan masa kolonial, sehingga genersi ini memiliki kesempatan untuk menautkan dirinya pada ide dan gagasan yang secara geografis jauh dari lokasi fisiknya.

Oleh karena itu, dalam citra idealnya, milenial kerap digambarkan sebagai sosok dengan nilai-nilai kosmopolitan.

Mereka percaya bahwa gagasan yang baik dapat diambil dari mana saja terlepas dari akar-akar primordialnya, milenial jika meminjam istilah Pramoedya, dapat disebut sebagai “anak semua bangsa.”

Milenial jika meminjam istilah Pramoedya, dapat disebut sebagai “anak semua bangsa.”

meski kelompok millenial terhubung dengan nilai-nilai gagasan di luar negara-bangsa karena adanya akses teknologi dan inforasi global tidak serta merta menjadikan generasi ini sebagai sosok kosmopolit.

Karena sejak awal milenial tidak pernah memiliki kesempatan yang sama bahkan untuk sekadar memiliki
aspirasi. Di Indonesia hari ini misalnya, kelompok usia 15-24 tahun menyumbang proporsi besar dari jumlah pengangguran terbuka.

Sebagian besar kelompok usia muda di Indonesia juga hanya menempuh pendidikan setingkat SMA yang mempersulit mereka untuk mendapatkan pekerjaan yang layak.

Jikapun milenial Indonesia mendapatkan pekerjaan, generasi ini tidak lepas dari kerentanan akibat ketimpangan antara kebutuhan dan pendapatan.

Dalam perbincangan soal milenial sekarang, konteks-konteks tersebut banyak dilupakan.

Serupa dengan American dream, hanya dengan menjadi bagian dari generasi ini seorang anak dibayangkan memiliki kapasitas inheren untuk jadi kreatif, bermimpi bebas, dan merdeka.

Mimpi itu juga didukung keberadaan figur-figur muda yang jadi kaya dengan cepat karena penggunaan teknologi informasi seperti Ria Ricis atau Atta Halilintar. Yang jadi persoalan, seperti yang dikemukakan Appadurai, kapasitas untuk bermimpi tidak datang dengan sendirinya, melainkan dibatasi oleh struktur sosial, ekonomi, dan politik seseorang dibesarkan.

Maka di balik limpahan pendapatatan milenial yang jadi vlogger gaming terkenal, ada banyak anak lainnya yang bahkan tidak bisa membayangkan punya komputer sebagai alat kerjanya.

Karenanya memandang milenial sebagai generasi yang independen dan berpikiran terbuka dibandingkan generasi setelahnya. Sebuah pandangan yang tidak sepenuhnya tepat digunakan dalam membaca kelompok muda di Indonesia dengan kompleksitas persoalannya sendiri.

Salah satu persoalan paling mendasar dari pembahasan soal milenial di Indonesia adalah melekatnya konsep ini dengan kelas menengah urban.

Generasi ini cenderung digambarkan sebagai kelompok yang berpikiran bebas, punya jejaring luas, dan terbuka pada ide-ide baru.

Penggambaran semacam ini menafikan persoalan banyak kelompok umur ini di Indonesia yang secara sosial dan struktural tidak mampu mengakses pendidikan dan lapangan tenaga kerja.

Di samping itu, pertumbuhan konservatisme keagamaan juga menjadi salah satu saluran yang dipilih banyak milenial karena menawarkan jawaban untuk persoalan-persoalan tersebut.

Seluruh proses tersebut hari ini juga tidak dapat dilepaskan dari kosmopolitanisasi, yang memaksa individu untuk berinteraksi dengan ide maupun simbol yang datang dari luar negara bangsanya.

Fakta yang menjadi pengalaman keseharian milenial tersebut dengan demikian menjadi isu yang harus dikelola banyak negara bangsa termasuk Indonesia.

Dalam konteks tersebut, tulisan ini mengajukan nasionalisme kosmopolitan yang walaupun bukan tanpa kekurangan mungkin menjadi bentuk nasionalisme yang bisa dituju di masa yang akan datang.