Oleh : Hamam Faizin

Di manapun manusia membawa bahasa baru dan budaya baru, disitulah terjadi penerjemahan. Terjadi transformasi sosial, transformasi teks dan tradisi.

Kata “translation” yang berarti terjemah, itu sendiri menjadi sebuah metafor untuk kata transformation dan transposition dari segala sesuatu.

Jadi, jika ada aktivitas translation maka akan ada transformation and transposition. Itu niscaya.

Dari sinilah para psikoanalisis, penyair, dan para penemu teori-teori sosial mengingatkan kita bahwa penerjemahan memiliki peran penting–meskipun tidak sering didiskusikan–dalam perkembangan individu, agency dan identitas.

Bahkan sampai pada perkembangan peradaban. Lebih jauh lagi, transfer pengetahuan, sains, seni dari satu bangsa ke bangsa dan dari satu generasi ke generasi lainnya secara keseluruhan didasarkan pada penerjemahan.

Buku “Sumbangan Islam kepada Ilmu dan Kebudayaan” (Pustaka: 1986) mengisahkan kepada kita bahwa kesusastraan di Eropa sangat dipengaruhi oleh penerjemahan karya sastra dari Arab, seperti Kalilah wa Dimnah, serta Alfu Laila wa Lail. Begitu juga di bidang kedokteran dan sejumlah bidang lainnya.

Apakah ada hubungannya antara gerakan penerjemahan dengan peradaban? Apakah semakin masif penerjemahan dilakukan maka semakin keren peradaban sebuah bangsa?

Untuk menjawab pertanyaan itu, saya akan memulai dari Nabi Adam. Ayat Wa’allama Adam al-Asmaa kullaha.

Pada QS. al-Baqarah ayat 31 tersebut ditafsirkan secara beragam oleh para mufassir. Dalam Al-Quran dan Terjemahnya Kementerian Agama, ayat itu diterjemahkan begini: Dan Dia ajarkan kepada Adam semua nama-nama (benda).

Ibnu Kasir menafsirkan begini: Allah mengajari manusia (Adam) seluruh bahasa untuk nama-nama sesuatu. Fakhruddin Ar-Razi dan An-Naisaburi menafsirkan: Allah mengajarkan sifat sifat dan karakteristik segala sesuatu.

Ibnu Jarir At-Tabari menafsirkan: Allah mengajari nama nama keturunan Adam dan malaikat. Sedangkan para teolog Mu’tazilah menafsirkan: Allah memberi kemampuan untuk menemukan bahasa-bahasa.

Asy-Syaukani dan Az-Zamakhsari menafsirkan: Allah memberikan kemampuan Adam untuk menamai segala sesuatu.

Dari perbedaan penafsiran tersebut ada beberapa kata kunci penting, yakni nama dan bahasa. Penamaan pasti terkait dengan bahasa.

Mari berimajinasi. Ketika Adam dan keturunannya menyebar ke seluruh penjuru bumi, niscaya penamaan dan bahasa akan beragam dan semakin hari akan semakin berkembang.

Menurut Hussein Abdo Rababah dari Universitas Ibnu Saud, yang menulis artikel tentang Gerakan Penerjemahan di Dunia Arab (2015), ayat di atas menunjukkan bahwa Allah mengajari Adam nama-nama (nouns) dan kata-kata (words), yang merujuk pada konsep-konsep tertentu, dan equivalent (padanan)nya pada semua bahasa di dunia, dan Adam mengajarkan nama-nama dan kata-kata itu kepada keturunannya.

Bagi Rababah, ayat ini bisa menjadi argumen tahap paling awal dan dasar aktivitas penerjemahan dalam sejarah manusia.

Penamaan sesuatu di suatu tempat akan menggunakan bahasa penamaan yang berbeda.

Di Arab “menutupi” itu “k-f-r”, di Inggris menjadi “cover”, c-v-r. Di Arab, gula adalah “s-k-r,” di Inggris menjadi “sugar”, s-g-r.

Di Barat ada istilah saind untuk faktor yang tidak diketahui, yakni faktor x. Kata x ini konon berasal dari bahasa Arab, yakni Sya’i (sesuatu–yang belum diketahui). Orang Barat jaman dulu susah menyebut kata Sya’i. Sehingga ia sebut x untuk memudahkan. Hampir mirip tapi beda-beda dikit.

Ada perkembangan, ada perubahan di dalam penamaan dengan bahasa masing-masing.

Di dunia ini, segala sesuatuanya menggunakan bahasa. Bahasa adalah aspek sangat penting dari setiap budaya atau peradaban di dunia ini.

Sebab, orang menggunakan bahasa untuk saling berkomunikasi dan itu biasanya berkaitan erat dengan identitas bangsa/nationnya.

Artinya, sejauh manusia masih hidup bahasa menjadi sangat vital. Bahasa adalah piranti untuk menyampaikan pemikiran dan perasaan di antara komunitas manusia.

Nah, ketika manusia memiliki bahasa yang beragam dan interaksi tidak bisa dihindarkan, maka disitulah penerjemahan memainkan peran yang penting. Penerjemahan memainkan peran penting dalam sejarah manusia dari sejak awal kemunculan manusia (from earliest times).

Penerjemahan Kitab Suci

Penerjemahan jika yang diterjemahkan adalah buku-buku sastra, kedokteran, filsafat, geografi, aljabar, biologi dan kimia memiliki dampak luar biasa. Bagaimana jika yang diterjemahkan adalah kitab suci? Dampaknya apa?

Semua tokoh agama jaman dulu sangat resisten terhadap penerjemahan kitab suci. Semua agama begitu. Termasuk agama Islam.

Ada kekhawatiran, kesucian kitab akan hilang karena diterjemahkan. Oleh sebab itu, pasti jika dipaksakan, penerjemahan kitab suci akan selalu menghadapi masalah alias kontroverisal dan problematis.

Apalagi yang diterjemahkan adalah kitab suci al-Quran yang secara verbatim dari Allah dengan menggunakan bahasa Arab, yang tidak bisa diterjemahkan ke dalam bahasa apapun, sebab bahasa lain selain Arab tidak memilki kualitas bahasa yang sepadan dengan bahasa Arab.

Stefan Wild, menggunakan istilah Translate the Untranslatable. Menerjemahkan Yang Tak Terterjemahkan.

Meskipun–dalam sejarahnya–pelarangan penerjemahan al-Quran ke dalam bahasa lain selain Arab sangat kuat.

Namun, aktivitas penerjemahan al-Quran tidak terbendung, baik yang dilakukan oleh muslim maupun non muslim. Dan al-Quran menjadi satu-satunya kitab suci yang paling banyak diterjemahkan dan dibaca di seluruh dunia.

Penerjemahan al-Quran ke berbagai bahas selalu diikuti oleh kegiatan-kegiatan turunannya, yakni kajian terhadap al-Quran itu sendiri.

Dengan begitu, pengetahuan-pengetahuan berkembang terus menerus, dan mempengaruhi banyak hal dari sisi kehidupan manusia.

Ziad Elmarsafi dalam The Enligtenment Quran (2009) menyimpulkan bahwa terjemahan-terjemahan al-Quran yang muncul pada abad ke-18 dan awal 19 telah memberikan pencerahan bagi tokoh-tokoh penting di Barat, seperti Rousseau, Napoleon, dan Goethe.

Pertanyaan penutup, apakah penerjemahan al-Quran ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa lokal di Indonesia membawa cara pandang baru dalam beragama, bersosial, berbudaya dan berpolitik, dan berdampak bagi kehidupan masyarakat di Indonesia?

Wallahu’alam Bisshowab