Demak, pernah berlimpah memberikan makanan pokok pada rakyatnya. Padi berlimpah. Makanan pokok yang tak harus didatangkan dari luar daerah. Rasanya, lezat. Demak, pernah seperti itu. Dulu…

Oleh: Radjimo Sastro Wiyono

Peneliti

 

Sudah pukul 08.30 saat kami berangkat menuju lokasi penelitian di Demak. Kami baru saja selesai sarapan. Biasanya, waktu berangkat jam seperti ini tak terlalu terburu.

Dalam kondisi lancar, perjalanan rute Semarang Tengah ke Sayung, Demak bisa ditempuh tak lebih dari satu jam. Biasanya. Dan, ini hari kedua perjalanan kami di jam yang tidak jauh berbeda dengan kemarin, dengan suasana yang berbeda.

Hari ini, kami menempuhnya lebih banyak memakan waktu. Kendaraan-kendaraan sepertinya bertambah jumlahnya. Lebih banyak yang melintasi jalanan. Ada iring-iringan mobil tangki yang mengangkut bahan bakar dari terminal pengisian di Kaligawe, menuju timur Kota Semarang. Jumlahnya, sekira 50-an truk tangki.

Ini yang memenuhi jalan. Jalanan jadi merayap. Saya merasa lebih jelas melihat kanan-kiri jalanan di kawasan Pantura.

Semakin mendekati tujuan, kendaraan kami semakin lambat. Jalanan semakin padat. Hingga kami memasuki tugu Selamat Datang Kota Wali, dengan waktu yang terlambat dibanding kemarin.

Dari kendaraan kami liat bangunan pabrik bertumbuhan di sisi kanan. Di sisi kiri, pemukiman menjamur. Berkembang menjadi rumah-rumah, yang agar sulit digambarkan bentuknya. Bertebaran.

Jam sepuluh kurang beberapa menit, kami sampai di kantor Desa Batu. Kantor kepala desa ini, lokasinya di sebelah kiri dari jalan Semarang menuju Demak. Berada di antara jalan raya dan kantor desa, terdapat sungai yang lebarnya kurang lebih 10 meteran. Airnya kecoklatan.

Di kantor desa kami bertemu Carik Desa. Mislikhan, namanya. Lalu, kami bercerita tentang persoalan desanya. Satu yang membuat kami cukup serius membahasnya: cerita tentang rob yang selalu ada di Desa Batu dan desa sekitarnya.

Air pasang-surut dari laut ini, sudah menjadi persoalan warga desa. Bukan kemarin. Tapi, sudah bertahun-tahun. Dan, beberapa tahun ini lebih sering. Juga, rob mulai menggenangi lahan-lahan pertanian warga.

Seorang petani senior, yang lahir tahun 1941 dari desa ini, ikut dalam pembicaraan kami. Katanya, sudah lima tahun ini tidak menanam padi. Cukup mengejutkan bagi kami.

Mbah Min, namanya. Dia bercerita bahwa sawahnya dan sawah milik tetangganya, sudah tidak bisa dijadikan sebagai lahan penghidupan keluarga. Ini tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, dulu.

Pada tahun-tahun lalu, para petani mengandalkan sawah sebagai lahan untuk mendapat penghasilan. Hasilnya cukup. Cukup untuk makan, cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Cerita matinya sawah-sawah di desa itu, hingga petani yang terpaksa pensiun, juga diceritakan oleh warga yang saya temui di masjid desa yang berwarna hijau itu. Cerita, yang diceritakan pada saat saya melakukan perjalanan Semarang-Demak sampai beberapa hari.

Situasi jalan tak selalu sama. Namun, dari beberapa kali pemberhentian menemui warga, saya mendapatkan tambahan cerita yang sama: mengapa petani pensiun dini?

Penyebab sudah mulai terjawab. Salah satunya, karena sawah sudah dibeli oleh perusahaan.

Cerita mereka, lahan itu dibeli untuk membangun pabrik di Demak yang berbatasan dengan Kota Semarang. Ini bukan cerita kemarin. Pembelian itu sudah mulai marak pada akhir tahun 1980-an. Dan, sampai sekarang masih terjadi.

Bisa ditebak, selain sawah sudah beralih fungsi menjadi pabrik, sawah juga sudah beralih fungsi menjadi jalan, dan pemukiman.

Memang, ada juga cerita kenapa petani terpaksa pensiun. Karena, mereka menjual lahan pertanian mereka kepada perorangan. Tidak banyak jumlahnya. Jadi, beberapa lahan belum beralih fungsi.

Suatu ketika, saat kami menyantap makanan di sekitar desa, kami sempat bertanya kepada pedagang: Apakah nasi yang dia jual ini berasal dari padi di sawah desa ini?

Penjual itu menjawab: “Tidak. Beras ini tidak berasal dari padi dari Demak.”

Pedagang nasi itu bercerita bahwa dia membelinya di pasar. Saya, tentu saja agak kecewa mendengar jawaban pedagang tersebut. Karena, hari itu saya tak bisa menikmati nasi dari padi di Demak.

Padahal menurut petani yang saya wawancarai sebelumnya, padi di desanya sangat enak!