Oleh: Aries Dwi Adiguna

Mahasiswa Magister Fakultas Ekonomi Manajemen IPB University

 

Pertanian Indonesia menghadapi dilema. Sebagai negara dengan visi harga pangan murah dan terjangkau, pertanian di Indonesia masih jalan di tempat. Saat ini, sistem pertanian di Indonesia masih bersifat subsisten, yaitu sistem pertanian yang hanya fokus pada usaha membudidayakan bahan pangan dalam jumlah yang cukup untuk mereka sendiri dan keluarga.

Pertanian Indonesia tidak lagi diminati banyak orang. Generasi muda, baik dari kaum elit maupun alit enggan berkiprah di dunia pertanian. Mengapa demikian? Mereka tahu resiko di bidang pertanian, seperti serangan hama dan penyakit, tenaga kerja yang tidak mumpuni, tidak tersedianya irigasi, hingga tidak adanya kepastian harga.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), dari tahun ke tahun, jumlah petani di Indonesia terus mengalami penurunan. Hal yang biasa dialami oleh negara maju di bidang pertanian. Meski begitu, menurunnya jumlah petani ternyata menyebabkan pertanian di sebuah negara akan membaik. Hal ini berdasarkan data negara maju total jumlah penduduk yang bekerja sebagai petani tidak lebih dari 10%.

Salah satu faktor penyebab pertanian tersebut membaik yaitu dikelola oleh jumlah petani yang sedikit. Dengan sedikitnya jumlah petani, maka akan tercapai efisiensi tenaga kerja dan sistem pertanian yang terpusat dan mudah dikontrol. Selain itu, bantuan langsung subsidi pemerintah akan mudah menjangkau petani yang jumlahnya sedikit.

Pembangunan pertanian merupakan hal yang sangat penting di masa yang akan datang, sehingga dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, steakholder, dan petani untuk terus belajar menjadi lebih baik. Pengembanag SDM pertanian dan teknologi seperti sistem smart farming 4.0 menjadi hal penting yang harus dipertimbangkan dan disesuaikan dengan kondisi pertanian di Indonesia.

Kebijakan pertanian harus sesuai mengikuti aturan main pasar dunia sperti WTO (World Trade Organization). Menjalin kerjasama antar negara dan membuka sebesar-besarnya aliran perdagangan dunia menciptakan kompetisi bagi para pelaku produksi pertanian dalam negeri dan luar negeri sehingga meransang tumbuhnya inovasi untuk terus bersaing di pasar dunia dan mendapatkan banyak kentungan. Sehingga ke depan, akan tercapai Indonesia menjadi lumbung pangan dunia.