Hakekat Ilmu dalam Islam

  • Share

Oleh : Fuad Mahbub Siraj (Pengajar Universitas Paramdina)

Kata ilmu berasal dari 3 huruf: ain, lam dan mim. Setiap kata yang berasal dari tiga kata ini menunjukkan kejelasan atau sesuatu yang jelas.

Ilmu secara bahasa adalah tersingkapnya sesuatu dengan jelas sesuai dengan hakikatnya.

Bendera dalam bahasa al-Quran disebut dengan ‘alam dan menunjukkan kejelasan. Gunung yang tinggi juga ‘alam, juga jelas. Orang yang sumbing, sumbingnya dinamai ‘ulma karena jelas.

Alamat itu artinya tanda yang jelas, jika tanda tidak jelas bukan alamat namanya. oleh karena itu, tidak perlu lagi disebutkan buatkan alamat yang jelas karena kata alamat sudah menunjukkan kejelasan.

Contoh lain misalnya, ini adalah gelas misalnya, karena itu sudah memperlihatkan kejelasan dan sudah disepakati tapi jika ada orang yang menyebut itu bukan gelas maka itu menjadi sesuatu yang belum jelas baginya dan butuh ilmu.

Ilmu dalam Islam sangat luas dan oleh karena itu ilmu bagi manusia terbatas.

tidak ada orang yang ahli ilmu secara keseluruhan atau ahli dalam satu bisang kecuali ada orang yang lebih ahli dari dirinya.

Kedudukan Ilmu

Islam sangat memperhatikan ilmu dan hal ini bisa kita lihat dari dua sisi.

Pertama, keistimewaan yang diberikan Allah pada Adam yang menjadikan  malaikat sujud adalah karena ilmu.

Allah ajar Adam ‘allamal adama asmaal kulla, tanyakan pada malaikat apa ini, malaikat menjawab tidak tahu karena kami hanya mengetahui apa yang engkau ajarkan pada kami.

Kedua, wahyu pertama yang diperintahkan kepada nabi adalah perintah membaca, iqra. Herannya nabi disuruh membaca padahal nabi tidak pandai membaca.

Kitab jadi mukjizat nabi padahal masyarakat tidak mengenal kitab. Kenapa demikian, karena kita disuruh banyak membaca.

Bacalah semuanya, apa saja, mau baca Quran, baca buku dan lainnya. Yang dibaca bukan saja kitab yang tertulis tapi juga kitab yang tidak tertulis yaitu alam semesta.

Orang di mesir pada waktu itu membaca alam untuk bisa pergi mencari ikan.

BMKG membaca cuaca apakah hari ini akan hujan atau tidak dan alam memiliki sesuatu yang sudah ditetapkan yang bernama dengan sunatullah.

Sunatullah adalah hukum alam yang ditetapkan oleh Allah.

Es pasti sifatnya dingin dan api pasti panas.

Melempar batu ke atas pasti jatuh ke bawah dan itu adalah ketetapan alam yang ditetapkan Allah. Orang yang tidak memiliki ilmu belum tentu paham dengan sunatullah.

Membaca

Membaca itu artinya mengikuti.

Misalnya kata kami, kita mengikuti dari huruf k-a-m-i. Al-Qur’an menghendaki kita membaca itu dan mengikuti manfaat yang terdapat di dalamnya.

Semua bacaan yang bermanfaat boleh di baca tapi syaratnya satu, yakni bismirabbika, dengan menyebut nama Allah.

Membaca harus yang bermanfaat dan jangan membaca yang tidak bermanfaat.

Hal yang paling utama dalam ilmu adalah yang mampu mengantarkan kita memahami diri kita.

Maka itu dalam hadis man ‘arafa nafsahu faqad arafa rabbahu, barang siapa yang mengenal diri makai a akan mengenal Tuhannya.

Ilmu akan mengantarkan kita pada pemahaman tentang dunia dan mengantarkan pada pemahaman akan diri sehingga kita kenal akan hakikat tertinggi.

Mendahulukan Wajib

Hal yang penting juga kita ketahui adalah yang wajib kita kerjakan. Apakah sholat tahajud wajib? tidak sunnah, apakah sholat lima waktu wajib, maka mana yang lebih dahulu perlu kita ketahui, syarat sholat lima waktu ataukah sholat tahajud.

Maka yang wajib dahulu yang didahulukan. Ibu diwajibkan untuk memelihara anak, menyusukan dan lainnya.

Apakah bapak wajib menyusukan atau tidak? Bapak tidak wajib. Ibu boleh bekerja tetapi ada kewajiban juga terhadap anak dan keluarganya. Oleh karena itu, yang paling wajib kita ketahui adalah yang paling berkaitan dengan kewajiban kita dahulu. Hal yang tidak berkaitan tidak perlu diketahui.

Ilmu Di Otak dan di Hati

Terdapat du acara dalam memperoleh ilmu. Pertama diusahakan dan yang kedua diberi oleh Allah atau yang datang pada kita.

Ilmu yang diusahakan itu bisa melalui membaca, bisa melalui orang lain, bisa melalui meneliti dan lain sebagainya dan itu yang diisyaratkan dalam Al-Qur’an dengan ‘allama bil kalam, namun semua proses tersebut tetap dalam cahaya Allah, karena memang ada orang yang belajar tidak mengerti-mengerti.

Yang tanpa usaha itu adalah wahyu. Ada juga wahyu yang datang lewat mimpi. Mimpi yang benar itu 1/36 dari wahyu kenabian. Ada orang yang mimpinya benar, misalnya ada orang mimpi giginya copot, itu ada artinya dan itu dari Allah.

Jika ingin memperoleh ilmu maka mintalah pada Allah. Kita tidak mempunyai ilmu kecuali datangnya dari Allah, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Ilmu dari sisi lain ada dua macam, ada ilmu yang di otak dan ada yang di dada.

Ilmu yang hanya ada di otak itu hanya jadi hiasan lidah. Ilmu yang sebenarnya itu yang di hati yang membantu perjalanan kita menuju kebahagiaan.

Ilmu yang ada di akal bisa jadi saksi pemberat. Misalnya, kita sudah tahu sesuatu itu salah tapi kenapa dikerjakan.

Makanya ilmu yang dihati itu akan memberi manfaat pada kita dan ini sesuai dengan doa nabi, Allah humma alimni ma yanfauni wa anfakna ma alamtana, ya Allah ajarkan kepada saya apa yang bermanfaat untuk saya dan beri saya kemampuan untuk memanfaatkannya.

Orang yang takut dan kagum pada Allah itu adalah ulama dan ulama itu bukan orang yang mengerti ilmu agama tetapi orang yang berilmu itu adalah ulama.

Yang takut dan kagum pada Allah itu adalah orang yang mengerti dengan gunung, mengerti dengan binatang, mengerti dengan tumbuhan dan lain sebagainya.

Dalam Quran kata ulama itu dipakai untuk menyebut orang yang berilmu pengetahuan apa saja yang mendalam ilmunya baik muslim maupun non muslim. Ada disebutkan ulama ul bani israil itu artinya ulama bani israil.

Manusia Merugi

Setiap orang wajib menuntut ilmu. Qur’an mengisyaratkan setiap manusia kecuali orang gila dan anak kecil jika tidak menuntut ilmu akan merugi.

Ada empat hal yang membuat manusia rugi. Pertama, siapa yang tidak belajar mengajar itu adalah orang merugi. Setiap kita adalah guru dan setiap kita adalah murid. Kita belajar kepada siapa saja. Oleh karena itu, dalam hadis disebutkan bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim dan muslimat.

Dalam Qur’an juga disebutkan bahwa Allah meninggikan derajat orang yang beriman ,tetapi orang yang berilmu itulah derajat yang lebih tinggi. Oleh karena itu, kita wajib untuk menuntut ilmu.

Membaca semua yang bermanfaat dan harus juga diperhatikan bahwa sesuatu yang belum jelas tidak boleh untuk disampaikan atau diajarkan maka akan membawa pada kerusakan yang dalam hal ini disebut hoax.

kita diminta untuk memperhatikan apa yang akan kita sampaikan atau kita ajarkan.

Sesuatu yang belum kita ketahui kejelasannya, maka kita mesti mencari tahu dahulu baru kita sampaikan jangan disampaikan dahulu baru dibaca dan itu akan membantu pemahaman atas diri kita.

 

 

  • Share