Fuad Mahbub Siraj, Phd (Dosen Universitas Paramadina)

Paham sekuler yang dibawa oleh peradaban Barat ke dalam ilmu-ilmu kontemporer membawa dampak pada kehidupan paling mendasar masyarakat modern. 

pham sekuler melahirkan tindakan manusia yang keliru yang berujung pada hilangnya kemampuan manusia melakukan tindakan yang benar karena bersandar pada paham keilmuan yang menyimpang.

Akibatnya keberilmuan manusia modern bukanlah memberikan keberkahan dan kebahagiaan, melainkan kesengsaraan kepada kehidupan manusia.

Buktinya, disaat sains dan teknologi sedemikian maju seperti saat ini, manusia modern bukannya berhasil meraih kebahagiaan, sebaliknya berbagai keresahan dan kekeringan jiwa serta kerusakan alam terus terjadi. Kehidupan manusia menjadi tanpa arah, penuh dengan nafsu keserakahan, mengejar kebahagian-kebahagian semu yang dijanjikan oleh paham-paham sekuler.

Paham sekularisme berdampak pada kekososngan jiwa manusia, jiwa manusia dalam kekosongan dari nilai-nilai spiritual, penyebabnya adalah tidak adanya oreintasi yang jelas manusia dalam menapaki kehidupan di alam dunia. Hal inilah yang sering disebut dengan alienasi atau keterasingan manusia.

Sayyid Hussein Nasr, Filosof Muslim, menilai bahwa keterasingan (alienasi) yang dialami oleh orang-orang Barat karena peradaban modern yang mereka bangun, yaitu peradaban yang bermula dari penolakan (negation) terhadap hakikat ruhaniyah secara gradual dalam kehidupan manusia.

Akibatnya, manusia lupa terhadap eksistensi dirinya sebagai ‘abid (hamba) di hadapan Tuhan karena telah terputus dari akar-akar spiritualitas.

Hal ini merupakan fenomena betapa manusia modern memiliki spiritualitas yang akut. Pada gilirannya, mereka cenderung tidak mampu menjawab berbagai persoalan hidupnya dan kemudian terperangkap dalam kehampaan dan ketidakbermaknaan hidup.

Menjamurnya Sekularisme

Ironisnya, paham inilah yang banyak dijadikan landasan bagi pengembangan ilmu pengetahuan masa kini yang kemudian diajarkan di sekolah-sekolah.

Hampir tidak ada disiplin ilmu alam atau sosial yang tidak terpengaruh oleh ideologi sekuler.

Salah satu buktinya adalah ditolaknya wahyu sebagai sumber ilmu, sehingga semua ilmu ini dibangun dalam kerangka rasionalisme dan empirisisme dan makna alam menjadi sekedar materi tanpa pesona atau tanpa makna.

Tafsiran filsafat sains yang berlandaskan pada ideologi ini menganggap dinamika alam sebagai sesuatu yang mekanistik. Layaknya mesin, alam bekerja sendiri berdasarkan mekanisme sebab dan akibat sehingga menegasikan kehadiran Tuhan.

Sekiranya Tuhan memang ada, Ia tidak punya peran dan kendali terhadap kejadian-kejadian di alam dan manusia kemudian menjadi Tuhan yang mengendalikan alam dan dari sinilah manusia mencabut unsur metafisika religius dari ilmu pengetahuan.

Pandangan dunia sekuler, yang hanya mementingkan kehidupan duniawi, telah secara signifikan menyingkirkan manusia modern dari segala aspek spiritual.

Akibatnya, mereka hidup secara terisolir dari dunia-dunia lain yang bersifat nonfisik, yang diyakini adanya oleh para Sufi. Mereka menolak segala dunia nonfisik seperti dunia imajinal atau spiritual sehingga terputus hubungan dengan segala realitas-realitas yang lebih tinggi daripada sekedar entitas-entitas fisik.

Pentingnya Tasawuf

Untuk menangkal menjamurnya sekularisme tersebut perlu dihidupkan pendidikan spiritual. Bagi kaum sufi, ajaran spiritual ini merupakan cara utama untuk mengendalikan hawa nafsu. Bila ajaran tasawuf tentang kesucian jiwa dan akhlak mulianya sudah terlaksana dengan baik, maka manusia akan menjadi hamba Allah yang membawa kedamaian di alam semesta ini.

Keimanan atau kepercayaan pada agama (Tuhan) itu, secara pragmatis merupakan kebutuhan untuk menenangkan jiwa, terlepas apakah objek kualitas iman itu benar atau salah. Secara psikologis, ini menunjukkan bahwa agama selalu mengajarkan dan menyadarkan akan nasib keterasingan manusia dari Tuhannya.

Manusia, bagaimanapun juga tidak akan dapat melepaskan diri dari agama, karena manusia selalu punya ketergantungan kepada kekuatan yang lebih tinggi diluar dirinya (Tuhan) atau apapun bentuknya dan agama diturunkan oleh Allah untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia sebagai makhluk rasional dan spiritual.

Manusia sebenarnya menurut fitrahnya, tidak dapat melepaskan diri dari kehidupan spiritual, karena memang diri manusia terdiri dari dua unsur yaitu jasmani dan ruhani.

Dalam diri manusia, tuntutan kebutuhan jasmani dan ruhani harus dipenuhi secara bersamaan dan seimbang, kebutuhan jasmani dapat terpenuhi dengan hal-hal yang bersifat materi sedangkan kebutuhan ruhani harus dipenuhi dengan yang bersifat spiritual seperti ibadah, dzikir, etika dan amal shaleh lainnya.

Apabila kedua hal tersebut tidak dapat dipenuhi secara adil maka kehidupan manusia itu dapat dipastikan akan mengalami kekeringan dan kehampaan bahkan tidak menutup kemungkinan bisa mengalami setres.

Konsep Islam dibangun dalam kaitannya dengan Tuhan. Karenanya semua urusan di dalam Islam adalah religius. Islam memandang bahwa agama adalah prinsip dasar dan pengatur kehidupan dan tauhid menjadi basis dari segala ilmu pengetahuan.

Tauhid yang terwujud dalam apa-apa yang ada dalam al-Qur`an dan al-Hadits– menjadi qaidah fikriyah (landasan pemikiran), yaitu suatu asas yang di atasnya dibangun seluruh bangunan pemikiran dan ilmu pengetahuan manusia.

Dalam Islam segala sesuatu berputar di sekitar poros kesatuan Tuhan (tauhid) dan kelayakan sains dan teknologi didasarkan pada fakta itu, yakni sebagai adalah alat yang dapat menambah pengetahuan kita tentang Tuhan dan efektif dalam mendirikan masyarakat tauhid yang mandiri.

Paradigma Islam ini memerintahkan manusia untuk membangun segala pemikirannya berdasarkan kepada Aqidah Islam, bukan lepas dari aqidah.

Hal ini bisa kita pahami dari ayat yang pertama kali turun (artinya) :  “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. (Qs. Al-Alaq [96]: 1).  Ayat ini berarti manusia telah diperintahkan untuk membaca guna memperoleh berbagai pemikiran dan pemahaman. Tetapi segala pemikirannya itu tidak boleh lepas dari Aqidah Islam, karena iqra` haruslah dengan bismi rabbika, yaitu tetap berdasarkan iman kepada Allah, yang merupakan asas Aqidah Islam.

Demikian juga pandangan Islam mengenai alam, dimana alam bukanlah sekedar materi tanpa makna, melainkan tanda (ayat) dari kehadiran dan kebesaran Allah. Oleh karena itu, ketika seseorang meneliti dan mempelajari alam ia berarti sedang berusaha mengenal Tuhannya.

Hal ini ditegaskan dalam al-Qur’an surat Ali ‘Imran 191: Yaitu orang-orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring dan mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi seraya berkata, “Wahai Tuhan kami, tidaklah engkau ciptakan semua ini dengan sia-sia, maha suci Engkau maka peliharalah kami dari siksa api neraka.”

Ayat ini menegaskan bahwa kegiatan ibadah (mengingat Allah) berjalan bersamaan dengan kegiatan penelitian alam (memikirkan penciptaan langit dan bumi) dan tujuan akhir dari kedua kegiatan ini adalah mengenal Allah SWT.

Esensi Tasawuf

Prinsip asasi tasawuf, yang dalam literatur Barat disebut sufisme, adalah bahwa tidak ada wujud hakiki kecuali Allah. Dengan demikian, kalimat syahadat pertama, Asyhadu ‘an lâ ilaha illa Allah (Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah), berarti lâ maujûda illa Allah (tidak ada wujud kecuali wujud Allah).

Sedangkan roh manusia, menurut tasawuf, anugerah Tuhan dan berasal dari roh-Nya. Karena itu, ia ingin berhubungan dengan sumber aslinya. Perhubungan itu dapat mengambil bentuk al-mahabbah, al-ma’rifah,al-hulûl (al-nâsût Allah menunggal dengan al-lâhût manusia) dan al-ittihâd (roh manusia manunggal dengan roh Allah). Pendapat roh manusia berasal dari roh-Nya memang sejalan dengan  ayat-ayat al-Qur’an. Di antara ayat itu adalah : (artinya) Maka apabila Aku (Allah) telah menyempurnakan kejadiannya (manusia), dan telah meniupkan ke dalamnya roh-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud (Q.S Al-Hijr/15:29 dan Shad/38:72).

Rûhîy dalam ayat ini, bagi kaum sufi, bukanlah berarti roh (ciptaan)-Ku atau roh ciptaan Allah, sebagai lazim atau biasa diartikan, tetapi ia adalah betul-betul roh-Ku atau roh Allah.

Tasawuf atau sufisme adalah kegiatan yang lebih dititikberatkan pada aspek esoterik Islam. Ia berbeda sama sekali dengan orientasi fiqh dan syari’ah yang lebih mengarah kepada eksoterisme dalam Islam.

Kegiatan aspek ke dalam dari Islam ini lebih banyak dipengaruhi oleh perasaan (zauq) dan bersifat personal bahkan dalam pengungkapkan ajarannya sering menggunakan kata kiasan (matsal) dan lambang (ramz). Untuk memahami ajaran tasawuf ini harus dengan semangat metaforis atau tafsir batini.

Kendatipun mereka memakai metode seperti ini, namun mereka tetap berpegang pada wahyu. Sedangkan aspek keluaran dari Islam lebih banyak dipengaruhi oleh rasio, atau setidak-tidaknya oleh rasio dan wahyu yang berbentuk syari’ah.

Tujuan sufi adalah mendekatkan diri sedekat mungkin dengan Allah, sehingga ia dapat melihat Allah dengan mata hati bahkan rohnya dapat manunggal dengan roh Allah. Filsafat yang menjadi dasar tentang ini, adalah :

  • Allah bersifat rohani, maka yang dapat mendekatkan diri dengan-Nya adalah roh manusia bukan jasadnya.
  • Allah adalah Maha Suci, maka yang dapat diterima Allah untuk mendekat kepada-Nya adalah roh yang suci.

Tasawuf Islam adalah suatu ajaran kerohanian (spiritual) yang bersumber dari ruh syariat Islam itu sendiri, yaitu al-Qur’an dan al-Sunnah.

Tujuan akhir dari ajaran tasawuf adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah sebagai Khaliknya melalui riyadhah melewati stasiun-stasiun atau maqamat-maqamat tertentu, dengan selalu mensucikan jiwa (nafs) lahir dan bathin dalam upaya mempersiapkan diri menggapai ma’rifatullah sampai pada tingkat bertemu dan menyatu dengan Allah menuju kehidpan yang abadi.

Tasawuf Islam tidak menafikan sains, bahkan tasawuf Islam banyak menyumbangkan pemikiran dalam bidang filsafat, sastra, musik, tarian, psikologi, dan sains modern. Masalah keterasingan adalah masalah kejiwaan. Manusia berperan sebagai penyebab munculnya keterasingan dan sekaligus sebagai korban yang harus menanggung akibatnya.

Dalam konteks ajaran Islam, untuk mengatasi keterasingan jiwa manusia dan membebaskan dari derita keterasingan, justru harus menjadikan Tuhan sebagai tujuan akhir, Tuhan yang Maha wujud dan Maha absolut. Segala eksistensi yang relatif dan nisbi tidak berarti dihadapan eksistensi yang Maha absolut.